LION AIR JT610

Alat-alat canggih dalam pencarian badan pesawat Lion Air JT610

Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ke Kapal KN Sar Sadewa, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11/2018).
Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ke Kapal KN Sar Sadewa, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11/2018). | Aprillio Akbar /Antara Foto

Pencarian Lion Air JT610 akhirnya membuahkan hasil. Satu bagian kotak hitam pesawat Boeing 737 Max 8 (B38M) yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10/2018) berhasil ditemukan sehari setelah ping locator menangkap sinyal yang dipancarkan kotak hitam itu.

Kotak hitam, yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) diharap bisa memecahkan misteri penyebab jatuhnya pesawat yang terbang dari Jakarta menutu Pangkalpinang tersebut.

Kotak hitam itu bisa ditemukan dengan menggunakan beberapa peralatan canggih, salah satunya adalah Multibeam Echosounder. Alat ini juga digunakan untuk melacak badan pesawat yang hingga saat ini masih belum ditemukan.

Apa itu Multibeam Echosounder?

Multibeam Echosouder (MBES) adalah alat ukur kedalaman air yang menggunakan prinsip yang sama dengan Singlebeam Echosounder (SBES), yakni menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal gelombang suara.

Perbedaan utama SBES dengan MBES adalah pada jumlah beam yang dipancarkan. SBES hanya memancarkan satu pancaran suara (beam) pada satu titik sepanjang lajur survei, sedangkan MBES memancarkan lebih dari satu beam hingga mendapatkan banyak titik kedalaman dalam satu kali pancaran gelombang akustik.

Berbeda dengan SBES, pola pancaran MBES melebar dan melintang terhadap badan kapal. Sehingga saat kapal bergerak menghasilkan sapuan luasan area permukaan dasar laut. Jarak jangkauannya pun cukup luas, kiri 150 meter dan kanan 150 meter.

Multibeam Echosounder
Multibeam Echosounder | Wikipedia

Alat ini merupakan pengembangan dari Singlebeam Echosounder dan digunakan untuk memperoleh gambaran atau model bentuk permukaan (topografi) dasar perairan.

"Alat ini juga digunakan untuk mencari di mana logam besar berada. Setelah diketahui titik lokasinya, maka para penyelam akan terjun," kata Kepala Basarnas, Marsekal Madya Muhammad Syaugi di posko evakuasi JITC 2 Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (30/10).

"Karena kita mencari laut itu begitu luas, ada rumusnya kita itu (tentang) daerah mana yang dicari. Di samping kita juga tetap melakukan pencarian dengan penyelaman, helikopter, kapal ada 35 ada di sana," jelasnya.

Alat itu digunakan pula saat mencari bangkai kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba beberapa waktu lalu. Menurut IDN Times, Multibeam Echosounder yang digunakan untuk pencarian korban Lion Air adalah tipe Hydrosweep D5.

Seperti sistem sonar lainnya, sistem multibeam memancarkan gelombang suara dalam bentuk seperti kipas di bawah lambung kapal.

Prinsip kerja dari MBES adalah berdasarkan pada pancaran pulsa yang dipancarkan secara langsung ke arah dasar laut dan setelah itu energi akustik dipantulkan kembali dari dasar laut, beberapa pancaran suara secara elektronis terbentuk menggunakan teknik pemrosesan sinyal sehingga diketahui sudut beam.

Dua arah waktu penjalaran antara pengiriman dan penerimaan dihitung dengan algoritma untuk mengetahui kedalaman objek tersebut. Dengan mengaplikasikan penjejakan sinar, sistem ini dapat menentukan kedalaman dan jarak transveral terhadap pusat area liputan.

MBES dapat menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi ( 0,1 m akurasi vertikal dan kurang dari 1 m akurasi horisontalnya).

Batimetri adalah studi tentang kedalaman air danau atau dasar lautan. Dengan kata lain, batimetri adalah setara dengan hipsometri bawah air.

Penggunaan teknologi ini juga sangat membantu dalam pencarian sumber daya ikan yang baru, sehingga akan mempercepat pengambilan keputusan atau kebijakan, terutama untuk menetapkan daerah penangkapan ikan agar potensi ikan dapat dipertahankan.

Selain MBES, Basarnas juga menggunakan alat pencari canggih lainnya yaitu ROV (Remotely Operated underwater Vehicle).

ROV (Remotely Operated underwater Vehicle)
ROV (Remotely Operated underwater Vehicle) | Wikipedia Commons

Kumparan menjelaskan, ROV adalah kendaraan bawah air tanpa awak yang dioperasikan dengan alat pengendali jarak jauh (remote control) yang mampu menyelam hingga kedalaman 1.000 meter atau diseret menggunakan kapal.

ROV dilengkapi dengan sumber listrik untuk menghidupkan lampu dan kamera sensor yang dibawanya. Sementara untuk meningkatkan kemampuan kinerja, ROV biasanya ditempel dengan sejumlah peralatan tambahan lainnya.

Di antaranya, magnetometer untuk mengukur magnetisasi bahan magnetik, manipulator atau lengan untuk memotong benda dan mengambil sampel air, hingga instrumen untuk mengukur kejernihan air, penetrasi cahaya dan suhu.

Kelengkapan tersebut dapat ditemukan pada ROV yang sudah dikembangkan dengan kemampuan teknologi yang mutakhir. ROV yang digunakan dalam operasi pencarian ini adalah tipe Seaeye 12196 Falcon.

Side Scan Sonar (SSS)
Side Scan Sonar (SSS) | Wikipedia Commons

Alat pencari lainnya yang digunakan adalah Side Scan Sonar (SSS). Alat ini dapat membantu deteksi suara, serta mendeteksi besar dan kecilnya partikel penyusun permukaan dasar laut. Deteksinya berupa batuan, lumpur, pasir, kerikil, atau tipe-tipe dasar perairan yang lain.

Side Scan Sonar yang digunakan adalah tipe Edgetech 4125. Teknologi ini juga digunakan untuk penelitian perikanan, operasi pengerukan serta studi lingkungan dan juga dapat mendeteksi ranjau.

Baik Side Scan Sonar, Multibeam Echo Sounder, maupun Magnetometer ditempatkan di dasar kapal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR