Astronom temukan bintang terkecil yang pernah terdeteksi manusia

Ilustrasi objek langit yang bersinar.
Ilustrasi objek langit yang bersinar.
© Pixabay

Perkenalkan EBLM J0555-57Ab --selanjutnya disebut 57Ab--, sebuah benda langit yang sekarang disebut sebagai bintang terkecil yang pernah ditemukan. Bintang ini memiliki ukuran yang hanya sedikit lebih besar dari Saturnus dan berjarak sekitar 600 tahun cahaya jauhnya dari Bumi.

Sebagai perbandingan, Saturnus, planet keenam dalam Tata Surya, memiliki diameter 58.232 km sementara diameter Matahari mencapai 1,4 juta km.

57Ab memiliki 85 kali massa Jupiter, yang membuatnya cukup besar untuk menyatukan hidrogen menjadi helium dan menjadi bintang sejati.

Para ilmuwan di University of Cambridge, Inggris, mengatakan bahwa inilah ukuran terkecil yang memungkinkan untuk sebuah bintang. Jika lebih kecil lagi, maka tidak mungkin bisa terjadi fusi hidrogen nuklei menjadi helium, sumber energi yang keluar dari bintang.

EBLM J0555-57Ab adalah bagian dari sistem biner. Disebut demikian karena dia mengorbit bintang lain yang jauh lebih besar. Berbeda dengan Matahari sebagai contoh yang benar-benar menjadi pusat dari tata surya.

57Ab adalah bagian dari sistem bintang tiga. Sementara bintang EBLM J0555-57A dan EBLM J0555-57B mengelilingi satu sama lain, 57Ab hanya mengorbit bintang utama.

Ukuran kecil 57Ab dibandingkan dengan teman-temannya yang mirip matahari membuat para peneliti pada awalnya menyimpulkan bahwa ia hanyalah sebuah planet.

Klasifikasi keliru bintang terjadi sebagian karena terdeteksi oleh transit. Sebuah metode umum untuk para astronom biasanya menemukan planet eksoplanet. Proses di mana satu objek melintas di depan objek lain dan meredupkan sedikit cahaya dari objek di latar belakang.

Hal ini mengindikasikan kita bahwa ada sesuatu di jalan. Namun dibutuhkan pengukuran lebih lanjut untuk memastikan identitas sebenarnya dari objek tersebut.

"Penemuan kami mengungkapkan seberapa kecil ukuran sebuah bintang," kata salah satu peneliti dan penulis utama hasil riset tersebut, astronom Alexander Boetticher dari University of Cambridge.

"Jika bintang ini terbentuk dengan massa yang sedikit lebih rendah, reaksi fusi hidrogen pada intinya tidak dapat dipertahankan dan bintang tersebut malah berubah menjadi kurcaci coklat."

Untuk alasan ini, kurcaci coklat sering disebut bintang yang gagal. Namun meski memiliki proporsi miniatur, EBLM J0555-57Ab mempertahankan cukup massa untuk memungkinkan perpaduan hidrogen menjadi helium dalam intinya.

Meski lolos sebagai bintang, EBLM J0555-57Ab sangat redup. Tingkat kecerahannya berada di antara 2.000 sampai 3.000 kali lebih redup dari Matahari kita.

Analisis selanjutnya oleh para peneliti yang bekerja pada percobaan Wide Angle Search for Planet (WASP) menunjukkan bahwa bintang mungil tersebut memiliki massa yang sebanding dengan perkiraan massa TRAPPIST-1, namun dengan radius sekitar 30 persen lebih kecil. Hasil penelitian itu dipublikasikan pada awal tahun ini.

57Ab bisa disebut sebagai sebuah kurcaci dingin yang dikelilingi oleh tujuh planet seukuran Bumi.

Perbandingan antara Jupiter, Saturnus, EBLM J0555-57Ab, dan TRAPPIST-1.
Perbandingan antara Jupiter, Saturnus, EBLM J0555-57Ab, dan TRAPPIST-1.
© University of Cambridge

Bintang yang kecil, redup, merupakan dua syarat dari kategori kandidat yang optimal untuk mendukung kehidupan. Kelembutan relatif bintang juga dapat meningkatkan kemungkinan planet mempertahankan air cair di permukaannya.

"Bintang terkecil memberikan kondisi optimal untuk penemuan planet mirip Bumi, dan untuk eksplorasi jarak jauh dari atmosfer mereka," kata rekan penulis Amaury Triaud, peneliti senior di Institute of Astronomy, Cambridge.

"Namun, sebelum kita bisa mempelajari planet-planet, kita benar-benar perlu memahami bintang mereka; Ini sangat mendasar."

Tapi, sementara bintang mungil dengan massa kurang dari 20 persen massa Matahari ini dianggap sebagai bintang paling umum di alam semesta, masih banyak yang tidak kita mengerti tentangnya.

Hal itu terkait dengan kesulitan yang dihadapi untuk mengetahui ada apa di sisi gelapnya yang tidak terlihat karena tertutup oleh begitu banyak bintang yang lebih terang.

Temuan ini dipublikasikan dalam Astronomy & Astrophysics.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.