TEMUAN ILMIAH

Bagaimana pejalan kaki saling menghindari tabrakan

Ilustrasi zebra cross yang dipadati pejalan kaki
Ilustrasi zebra cross yang dipadati pejalan kaki | Pixabay

Para ilmuwan berhasil menciptakan model yang dapat secara akurat memprediksi gerakan yang akan dilakukan kumpulan orang yang tengah berjalan. Dengan lebih banyak studi dalam hal ini, mereka mengindikasikan bisa menemukan cara untuk mengarahkan rute seseorang tanpa disadarinya.

Foto di atas memperlihatkan segerombolan pejalan kaki yang terlihat seperti pasukan semut terorganisir. Mereka berpapasan melalui zebra cross dan trotoar, layaknya permainan mobil senggol menghindari tabrakan.

Tanpa disadari, para pejalan kaki terus-menerus mengubah jalur mereka untuk menghindari tabrakan dengan pejalan lain. Para peneliti sangat tertarik dengan tindakan tanpa disadari ini sehingga mereka memutuskan untuk mempelajarinya.

Fisikawan di Eindhoven University of Technology, Belanda, bekerja sama dengan para peneliti dari Amerika Serikat dan Italia, menganalisis 5 juta pergerakan pejalan kaki di stasiun kereta Eindhoven selama periode setengah tahun.

Mereka memasang 4 sensor di langit-langit di depan terowongan bawah tanah stasiun. Selama enam bulan (antara September 2014 dan April 2015) mereka mengamati semua pejalan kaki dalam zona 3x9 meter. Sensor menggunakan iluminator laser inframerah untuk membangun "kedalaman gambar" hitam dan putih dari tempat kejadian.

Pada penelitian tersebut para ahli menemukan bahwa orang berusaha mempertahankan jarak pribadi dengan sekelilingnya rata-rata sejauh 75 cm. Jika jarak menjadi semakin dekat, mereka cenderung berbelok mengubah arah.

Tim mengidentifikasi bahwa dari 5 juta pejalan kaki yang dianalisis itu, hanya 9.000 orang (0,18 persen) yang berada dalam jalur untuk saling bertabrakan. Namun mereka bisa menghindarinya pada saat-saat akhir.

"Sekitar 40 pasang orang saja yang benar-benar bertabrakan,” kata Alessandro Corbetta, peneliti dalam dinamika pejalan kaki di Eindhoven University of Technology, sekaligus co-writer penelitian dalam sebuah pernyataan tertulis.

“Pasangan lainnya mengubah jalur halan mereka setidaknya hingga jarak tersisa 140 cm, sehingga bisa menghindari tabrakan."

Dengan demikian, hanya 0,000016 persen dari 5 juta pejalan kaki itu yang benar-benar bergesekan satu sama lain.

Menggunakan big data ini, para peneliti mengembangkan model yang bisa secara statistik memprediksi pergerakan pejalan kaki secara akurat. Berdasarkan perilaku yang diamati ini, tim mengembangkan model penghindaran tabrakan yang menggabungkan interaksi jarak jauh (berdasarkan penglihatan) dan interaksi jarak pendek (penghindaran tubrukan).

Mereka dapat mengetahui siapa, dari sekelompok berisi seribu orang, yang akan berlari, berjalan, mengelak, berbalik, atau bertabrakan ketika berhadapan di koridor atau terowongan.

Para peneliti menggunakan rekaman video guna melatih model komputer untuk memprediksi pergerakan pejalan kaki yang bergerak melalui ruang yang penuh sesak. Model ini dapat membantu perancang lebih memahami bagaimana dimensi spasial dan ukuran kerumunan berdampak pada kemampuan pejalan kaki untuk menghindari tabrakan.

Para penulis berharap model yang dihasilkan tidak hanya akan meningkatkan perencanaan kota dan fasilitas sipil, tetapi juga menambah pemahaman kita tentang dinamika fluida lebih jauh.

Para peneliti berencana untuk terus mengembangkan model yang lebih kompleks untuk memahami pergerakan kerumunan yang lebih padat.

Menurut para ahli, sekarang mereka berharap untuk mempelajari pejalan kaki dan perilakunya di depan dua pintu keluar--kiri atau kanan--jika keduanya diterangi dengan cahaya berintensitas berbeda.

Bergantung pada hasil, mereka menjelaskan dapat mengonfirmasi jika ada cara untuk mengarahkan rute orang secara tidak sadar. Mereka juga berharap untuk mempelajari perilaku anak-anak sekolah yang harus berjalan berkelompok melalui pintu masuk sekolah.

"Kami membiarkan pejalan kaki memilih untuk meninggalkan area pantau kami melalui jalan keluar kiri atau kanan," kata kata Federico Toschi, kata rekan penulis Federico Toschi, seorang ahli dalam fisika dan matematika terapan di Eindhoven University of Technology.

"Menggunakan cahaya dengan tingkat intensitas yang berbeda, kami bertujuan mengubah keputusan rute yang mendukung salah satu dari dua pintu keluar. Hasil pertama kini menunjukkan bahwa memang tampaknya mungkin untuk mengarahkan rute seseorang."

Penelitian ini dipublikasikan hari ini di jurnal Physical Review E.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR