Bambu kurangi pencemaran, suburkan tanah

Ilustrasi pedagang bambu di Tanjung Karang, Mataram, NTB, Minggu (17/2/2019).
Ilustrasi pedagang bambu di Tanjung Karang, Mataram, NTB, Minggu (17/2/2019). | Ahmad Subaidi /ANTARA FOTO

Bambu adalah tanaman multi-guna. Lewat konsorsium, Universitas Gadjah Mada (UGM) pun meneliti manfaat bambu sebagai bahan baku biochar.

Biochar adalah bentuk arang aktif yang dibuat dengan memanaskan sampah organik pada suhu tinggi tanpa menggunakan oksigen. Ini bisa bertahan di tanah selama ribuan tahun, karenanya berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan pertanian dan menjaga kesuburan tanah.

Fakultas Pertanian UGM membentuk konsorsium bersama Universitas Syah Kuala, Universitas Andalas, Universitas Udayana dan Universitas Gent, Belgia. Mereka akan bekerja sama selama tiga tahun dengan The Flemish Interuniversity Council Belgium.

Kerja sama ini dipromotori Prof. Stefaan De Neve dari Universitas Gent, Belgia, dan Dr. Benito Heru Purwanto dari Fakultas Pertanian UGM. Menurut Heru, penelitian sudah dimulai sejak November 2017.

Pertengahan Maret 2018, mereka menggelar diskusi dan lokakarya. Selain itu juga kunjungan lapangan ke desa binaan Fakultas Pertanian UGM di Desa Sidorejo, Ngablak, Magelang.

Mereka juga menggandeng peneliti biochar dari penjuru Indonesia. Salah satunya dari Balai Penelitian Tanah Bogor dan Balai Penelitian Tanaman Rawa Kalsel.

“Kita juga mengundang para kelompok tani untuk melakukan praktik pembuatan biochar yang ditargetkan sebagai penerima manfaat hasil penelitian ini,” katanya.

Manfaat biochar termasuk menghasilkan energi bersih, membangun tanah yang sehat, meningkatkan kesuburan, mengurangi risiko kontaminasi permukaan air, dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Biochar sering dikaitkan dengan Terra Preta, atau "tanah hitam" yang kaya dari Amazonia. Dengan memanfaatkan teknologi kompor sederhana, biomassa--termasuk bambu yang sangat tepat untuk membuat biochar berkualitas--bisa dengan cepat diubah menjadi produk sampingan berpori yang bisa menahan kelembapan, nutrisi, bakteri. Jadi semacam tempat berlindung yang aman untuk kehidupan tanah.

Karena itulah, biochar bisa dibilang sebagai pelengkap yang sangat baik untuk pengomposan konvensional dan proses pembuatan tanah organik. Sebab kombinasi perbaikan struktur tanah tahan lama dan siklus nutrisi kaya bersifat saling menguntungkan.

Antusiasme memanfaatkan biochar muncul di seluruh dunia belakangan ini, termasuk Indonesia, terutama sebagai respons terhadap dampak perubahan iklim dan kerawanan pangan. Menghubungkan produksi biochar dengan budi daya bambu yang berkelanjutan menyatukan dua sumber daya yang sangat baik untuk mengatasi ini dan masalah lainnya.

Sebelumnya, para peneliti dari Universitas RMIT Australia dan Center for International Forestry Research (CIFOR) juga memanfaatkan bambu sebagai alternatif biofuel. Bambu dipilih karena bisa tumbuh cepat, bisa tumbuh di lahan terdegradasi, dan mudah dipelihara.

Selain itu sistem akar bambu yang panjang juga bisa membantu mengendalikan erosi dan menahan air. Bahkan sampah daunnya bisa meningkatkan kesuburan tanah.

Clean Power Indonesia (CPI) sudah membuktikan bambu bisa jadi sumber bioenergi yang layak secara ekonomi untuk Indonesia. Itulah sebabnya mereka membuat proyek pilot pembangkit listrik tenaga bambu di pulau-pulau terpencil Mentawai yang mengalirkan listrik ke sekitar 1.200 rumah tangga.

Pasar biochar diproyeksikan akan tumbuh dari $285 juta pada 2018 menjadi $653,19 juta pada 2024 secara global. Ini dipicu meningkatnya permintaan makanan karena pertumbuhan populasi dan kemampuan biochar meningkatkan kesuburan tanah.

Amerika Utara adalah pasar regional terbesar untuk biochar. Namun, pasar biochar Asia-Pasifik diperkirakan akan tumbuh pesat di tahun-tahun mendatang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR