TEMUAN ILMIAH

Beras rekayasa genetika dapat menetralkan HIV

Ilustrasi beras hasil rekayasa genetik.
Ilustrasi beras hasil rekayasa genetik. | Tonhom1009 /Shutterstock

Penelitian terbaru menemukan beras hasil rekayasa genetika dapat digunakan untuk membantu mencegah HIV (human immunodeficiency virus).

Setelah mengembangkan beras rekayasa genetika untuk mengatasi masalah malnutrisi dan perubahan iklim, para ilmuwan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Spanyol kemudian mengembangkan jenis beras rekayasa genetika baru untuk mengelola gejala-gejala HIV di negara-negara yang sulit mendapatkan akses obat-obatan untuk penyakit tersebut.

Dilansir dari Newsweek, laporan WHO menyebutkan pad akhir tahun 2017 sekitar 37 juga orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Sekitar 0,8 persen orang dewasa yang berusia 15 sampai 49 tahun. Sebanyak dua pertiga orang dengan HIV terdapat di benua Afrika, atau sekitar satu dari 25 orang dewasa di benua tersebut terpapar HIV.

Laporan tersebut juga menunjukkan, sebanyak 940.000 orang meninggal karena penyakit terkait HIV pada tahun 2017. Kendati demikian, ada banyak kemajuan yang telah dibuat untuk mengobati HIV.

Misalnya saja, berdasarkan laporan dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), infeksi HIV baru di Amerika Serikat turun dari 135.000 kasus di tahun 1985 menjadi 50.000 kasus di tahun 2010.

Akan tetapi sampai sekarang belum tersedia vaksin untuk HIV, sehingga obat oral dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bagaimana penyebaran penyakit menjadi pertahanan terbaik.

Masalahnya, obat orang tidak tersedia di semua negara, terutama negara-negara berkembang, sehingga masih dibutuhkan opsi lain untuk mencegah HIV.

Phys menyebutkan para ilmuwan medis telah membuat langkah besar untuk membantu mereka yang sulit mengatasi HIV karena tidak memiliki akses ke obat-obatan oral dengan menciptakan jalur terbaru dari beras hasil rekayasa genetika.

Jenis beras tersebut mengandung protein penetral HIV, yang berfungsi sama dengan obat oral. Begitu tumbuh, beras tersebut dapat diproses di tempat untuk membuat krim topikal yang mengandung protein.

Krim yang berfungsi sama seperti obat-obatan antiretroviral ini dapat dioleskan di kulit untuk memungkinkan protein masuk ke dalam tubuh.

Dalam laporan yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, Amerika Serikat disebutkan bahwa beras yang dikembangkan oleh para ahli tersebut menghasilkan satu jenis antibodi dan dan dua jenis protein yang langsung mengikat virus HIV, dan mencegah virus-virus tersebut berinteraksi dengan sel-sel manusia.

“Sebuah temuan terbaru yang penting dari penelitian kami adalah bahwa protein endogen dari beras secara substansial meningkatkan efektivitas dari tiga senyawa mikrobisida,” jelas Paul Christou yang mengepalai penelitian ini kepada Labiotech.

Keuntungan lain selain meningkatkan aktivitas protein anti-HIV, benih padi itu juga menyediakan platform yang lebih sederhana untuk menghasilkan padi. Dalam metode konvensional, produksi protein terapeutik dilakukan di fermentor dan menggunakan sel mikroba atau mamalia yang membutuhkan biaya mahal.

Oleh karenanya, protein obat yang diproduksi dari tanaman dapat ditingkatkan dengan sangat mudah dan murah, tanpa membutuhkan fasilitas fermentor yang mahal, lanjut Christou. “Hanya dengan menanam sebanyak mungkin untuk memenuhi target produksi tertentu.”

Ketiga molekul; satu jenis antibodi dan dua jenis protein, dapat dihasilkan dalam satu tanaman, sehingga sangat mengurangi biaya.

Akan tetapi masih ada beberapa penelitian yang harus dilakukan lebih jauh lagi, sebelum akhirnya beras tersebut dapat tersedia dan digunakan secara luas, termasuk meyakinkan pihak-pihak yang tidak menyetujui produk rekayasa genetika.

Menurut IFL Science, kendati para ilmuwan harus menunjukkan bahwa tidak ada efek samping yang berbahaya, lalu kemudian berhadapan dengan berbagai peraturan yang membatasi di negara-negara yang ingin mereka bantu, namun hasil temuan mereka sejauh ini sangat menjanjikan.

Temuan ini memungkinkan adanya cara baru yang potensial untuk pemberantasan HIV.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR