Bonus usia 1 tahun bagi penduduk Indonesia jika kurangi polusi

Kabut asap tampak menutupi udara Jakarta.
Kabut asap tampak menutupi udara Jakarta.
© Kzenon /Shutterstock

Usia rata-rata penduduk Indonesia diperkirakan dapat bertambah panjang satu tahun jika kualitas udara yang dihirup ditingkatkan hingga memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebuah grafik interaktif dari University of Chicago berjudul Air Quality-Life Index (AQLI) menunjukkan berapa tahun kemungkinan penambahan umur rata-rata masyarakat berbagai negara, jika negara yang mereka tinggali itu mengurangi emisi sehingga memenuhi standar WHO.

Saat ini ada sekitar 4,5 miliar orang yang secara teratur terpapar partikulat (partikel halus) dalam tingkat dua kali lipat, atau lebih, dari angka rekomendasi aman WHO (20 mikrogram per meter kubik udara).

Studi oleh para ilmuwan di Tiongkok, Israel, dan Amerika Serikat telah menemukan bahwa setiap tambahan 10 mikrogram per meter kubik partikel kecil, berukuran 10 mikron atau kurang, mengurangi harapan hidup sekitar enam bulan.

Para peneliti menggunakan kondisi sosial unik di dua wilayah Tiongkok untuk mempelajari polusi udara dan harapan hidup. Mereka telah menemukan kaitan yang dapat diterapkan untuk menentukan tingkat harapan hidup di negara lain dengan kualitas udara lebih baik.

Mereka menemukan bahwa kebijakan negara Tiongkok--yang telah diaplikasikan puluhan tahun sejak 1950an--untuk menyediakan batubara gratis (fail PDF) ke wilayah utara Sungai Huai, telah menyebabkan polusi yang lebih tinggi di bagian utara sungai ketimbang bagian selatannya.

Michael Greenstone, direktur Institut Kebijakan Energi di University of Chicago sekaligus pemimpin studi, dan juga rekan-rekannya, memeriksa data polusi udara dari 154 kota di utara dan selatan Sungai Huai antara tahun 1981 dan 2012 dan berusaha mengkorelasikannya dengan data kematian dari tahun 2004 sampai 2012.

Hasilnya, orang-orang di utara sungai hidup sekitar tiga tahun lebih sedikit daripada di selatan. Bahkan di bagian utara sungai, konsentrasi polusi udara 46 persen lebih tinggi daripada di selatan.

"Dampak partikulat terhadap harapan hidup di banyak belahan dunia serupa dengan efek setiap pria, wanita dan anak yang mengisap rokok selama beberapa dekade," kata Greenstone.

Kenaikan tingkat kematian terkait dengan penyakit jantung berbasis polusi udara, stroke, kanker paru-paru, atau penyakit pernapasan. Temuan ini telah diunggah ke jurnal Prosiding National Academy of Sciences.

Para ilmuwan telah menggunakan hasil studi di Tiongkok itu untuk mengembangkan indeks kualitas udara untuk kehidupan. Indeks tersebut mengukur harapan hidup di berbagai belahan dunia jika jumlah partikel kecil dikurangi menjadi sesuai dengan tingkat yang aman atau yang diizinkan seperti yang ditentukan oleh standar nasional, atau WHO.

"Indeks kualitas udara memungkinkan orang di seluruh dunia yang terkena tingkat polusi udara tinggi untuk memperkirakan berapa lama lagi mereka akan hidup jika mereka menghirup udara bersih," kata Greenstone. "Ini adalah alat yang juga memungkinkan pembuat kebijakan menghargai keuntungan kesehatan melalui perbaikan kualitas udara."

Berdasarkan perhitungan tersebut, kemungkinan hidup per orang di Indonesia bisa bertambah 0,86 tahun, atau nyaris setahun, jika kualitas udara diperbaiki hingga mencapai standar WHO.

Untuk Tiongkok, jika polusi udara dikurangi hingga mencapai standar WHO, rata-rata orang akan hidup 3,5 tahun (3,5) lebih lama.

Perkiraan pertambahan umur di Indonesia
Perkiraan pertambahan umur di Indonesia
© The Air Quality-Life Index (AQLI)

Negara lain yang memiliki tingkat polusi udara paling parah adalah India. Perbaikan kualitas udara di negara Asia Selatan itu bisa meningkatkan kesempatan hidup warganya hingga 4 tahun lebih lama.

Tiongkok dan India adalah dua dari kasus polusi udara paling parah di dunia. Kurang dari 1 persen populasi di masing-masing negara itu hidup di daerah yang kualitas udaranya memenuhi standar "aman untuk bernapas" versi WHO.

Dilansir dari The Statesman (12/9), menurut laporan 2016 dari World Bank and Institute for Health Metrics and Evaluation, Washington University, 5,5 juta orang meninggal lebih cepat setiap tahun karena polusi udara. Sebanyak 60 persen kematian itu terjadi di India dan Tiongkok.

Sebuah hasil studi yang dirilis pada 2016 menunjukkan polusi udara menjadi penyebab utama kematian 1,4 juta jiwa sepanjang tahun 2013.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.