PELESTARIAN LINGKUNGAN

Bumi beranjak makin hijau, Tiongkok dan India berperan besar

Ilustrasi hutan hujan tropis.
Ilustrasi hutan hujan tropis. | Pixabay

Anggapan umum menyebut Bumi makin gersang. Tetapi menurut penelitian terbaru Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Bumi justru semakin hijau dan rimbun.

Berdasarkan hasil pengamatan citra satelit NASA yang dilansir CNN, Rabu (13/2/2019), penghijauan global itu berkat kontribusi Tiongkok dan India. Padahal kedua negara itu dikenal punya udara paling tercemar karena jumlah penduduknya terpadat di dunia.

Menurut Earth Observatory NASA, penyebabnya sebagian besar berasal dari program penanaman pohon yang ambisius dan pertanian intensif --terutama di Tiongkok.

Pada 2017, India berhasil memecahkan rekor dunia untuk penanaman 66 juta pohon hanya dalam waktu 12 jam di sepanjang sungai Narmada di negara bagian Madhya Pradesh. Aktivitas itu dilakukan oleh 1,5 juta relawan dan ada lebih dari 20 jenis pohon yang ditanam di wilayah itu.

Sedangkan sejak pergantian milenium baru (2000), area hijau di Bumi telah meningkat lima persen atau lebih dari dua juta mil persegi. Luas area itu, menurut NASA, setara dengan luas area hutan hujan Amazon di Amerika Selatan.

Namun begitu, para peneliti menekankan bahwa tanaman hijau baru itu tidak menetralisir deforestasi dan dampak negatifnya terhadap ekosistem di tempat lain.

"Tiongkok dan India menyumbang sepertiga penghijauan global, tetapi hanya 9 persen dari luas daratan planet yang tertutup vegetasi," kata Chi Chen, peneliti dari Fakultas Bumi dan Lingkungan, Universitas Boston, dalam siaran persnya.

"Ini adalah temuan yang mengejutkan, apalagi umumnya degradasi lahan terjadi di negara-negara berpenduduk padat akibat eksploitasi yang berlebihan," tambah Chen.

Penelitian oleh NASA ini dilakukan pada periode 2000 dan 2017. Sensor NASA yang dikenal sebagai Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) mengumpulkan data resolusi tinggi dari permukaan bumi dengan dua satelit, Terra dan Aqua.

"Ketika mengamati penghijauan Bumi pertama kali, kami pikir itu disebabkan oleh iklim yang lebih hangat, lebih basah, dan pemupukan karbon dioksida di atmosfer. Namun manusia ternyata turut berkontribusi dalam penghijauan," kata Rama Nemani, ilmuwan di Ames Research Center NASA yang turut dalam penelitian dikutip Dawn (13/2).

Dengan menggunakan data MODIS, para peneliti menemukan bahwa Tiongkok menyumbang seperempat dari peningkatan luas area hijau, meski hanya memiliki 6,6 persen dari luas vegetasi dunia. Hutan menyumbang 42 persen dari peningkatan itu, sementara lahan pertanian hanya menyumbang 32 persen.

Sementara itu, India mencatat kesuksesan yang sedikit lebih tinggi dari Tiongkok. Mereka menyumbang kenaikan 6,8 persen area hijau dengan 82 persen berupa lahan pertanian dan 4,4 persen berupa hutan.

Jadi setidaknya, Tiongkok dan India telah membuktikan bahwa meningkatkan produksi pangan lewat pertanian akan membantu membuat Bumi makin hijau.

"Menanam biji-bijian, sayuran, buah, dan lainnya telah meningkatkan penghijauan global sekitar 35 sampai 40 persen sejak 2000. Selain untuk penghijauan, cara ini juga bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan populasi besar," kata NASA.

Nemani menyatakan fakta baru ini bisa membantu para ilmuwan untuk mempelajari perilaku berbagai sistem Bumi. Pada akhirnya itu bisa membantu negara-negara dalam menentukan tindakan dan kapan melakukannya.

"Begitu orang menyadari ada masalah, mereka cenderung memperbaikinya. Pada 1970-an dan 1980-an di India dan Tiongkok, mereka abai pada penyusutan area hijau.

"Tapi pada 1990-an, masyarakat mulai menyadarinya. Dan hari ini segalanya telah membaik. Manusia sangat ulet. Itulah yang kami lihat dari data satelit ini," kata Nemani.

Thomas Pugh, seorang profesor di Fakultas Geografi, Bumi, dan Ilmu Lingkungan Universitas Birmingham, mengatakan laporan NASA memperluas pemahaman para ilmuwan tentang penyebab di balik penghijauan global.

Sebelumnya, Pugh mengatakan peningkatan vegetasi hijau selama dua dekade terakhir dikaitkan dengan tingkat CO2 atmosfer yang lebih tinggi. Meski begitu, bukan berarti dampak negatif terhadap ekosistem hilang.

"Keuntungan lingkungan hijau, yang sebagian besar terjadi di daerah beriklim sedang, tidak bisa mengimbangi kerusakan lingkungan akibat hilangnya area hijau pada vegetasi alami tropis seperti di Republik Demokratik Kongo, Brasil, dan Indonesia," tulis para ahli dalam penelitian yang sudah diterbitkan dalam jurnal Nature.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR