Burung bisa stres berat gara-gara polusi suara

Western Bluebirds
Western Bluebirds | Pixabay

Polusi suara atau pencemaran suara adalah distorsi lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara sehingga ketenteraman makhluk hidup di sekitar terganggu. Bahkan burung pun bisa mengalami stres berat akibat polusi suara.

Slashgear, Rabu (10/1/2018), mengabarkan peringatan dari para periset bahwa polusi suara pun bisa berdampak negatif terhadap kesehatan burung. Temuan terbaru menunjukkan polusi suara tiada henti bisa menyebabkan pertumbuhan anak burung menjadi tak normal alias kerdil.

Bahkan suara bising juga bisa mengurangi kemampuan burung untuk mendeteksi kehadiran predator.

Salah seorang peneliti, Rob Guralnick, yang juga kurator asosiasi informatika keanekaragaman hayati di Museum Sejarah Alam Florida, AS, mengatakan kepada Daily Mail (10/1); "Burung-burung ini tidak dapat melepaskan diri dari kebisingan ini. Itu bisa menganggu kemampuan mereka untuk mendeteksi petunjuk dari lingkungan.

Penelitian yang dipimpin oleh Nathan Kleist, mahasiswa doktoral di University Colorado di Boulder, AS, dilakukan terhadap tiga spesies burung (western bluebirds, mountain bluebirds and ash-throated flycatchers). Pengujian dilakukan untuk mengukur tingkat hormon stres kortikosteron.

Ketiganya ditemukan berkembang biak di dekat properti yang mengandung operasi gas dan minyak. Untuk memantau, tim juga menyiapkan 240 kotak sarang di selusin lokasi berbeda yang dekat dengan kompresor gas.

Selain memonitor panjang bulu dan ukuran tubuh, para peneliti mencatat apakah mereka berhasil menetaskan telur serta mengambil sampel darah anak burung dan betina dewasa.

Pada awalnya, para peneliti menyangka bahwa tingkat kortikosteron ketiga spesies burung tersebut akan tinggi. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Semakin keras suara dari kompresor gas, semakin rendah tingkat kortikosteron burung-burung tersebut. Hasil ini konsisten pada burung dewasa maupun anak-anak dari ketiga spesies tersebut.

Ini bukan hal yang baik karena berarti mereka mengalami stres tanpa henti sehingga kadar hormon normalnya telah terganggu. Pola serupa ditemukan pada manusia yang mengalami stres ekstrem.

Saat menguji respon anak-anak burung, para periset pun menemui lonjakan hormon stres yang berlebihan saat terkena stressor, seperti seseorang yang menahannya selama 10 menit. "Ini adalah keselarasan antara dua jenis literatur yang sama sekali berbeda, studi tentang stres serta tentang konservasi dan fisiologi," ungkap Guralnick.

Kemudian mereka membawa hasil penelitian ke Christopher Lowry, seorang ahli fisiologi stres di University Colorado. Lowry pun tidak terkejut atau heran karena hal itu memang wajar terjadi pada makhluk hidup yang terpapar ketegangan berkepanjangan tanpa henti (h/t Washington Post).

Manusia yang menderita PTSD atau sindrom kelelahan kronis dan tikus percobaan yang telah mengalami pengalaman traumatis, merespons situasi (bising) dengan mematikan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) --rangkaian respons kimia yang dipicu stres.

"Anda bisa membayangkan berada dalam keadaan gairah dan hypervigiliance tiada henti. Jika tidak ada cara untuk mengurangi sensitivitas sistemnya, bisa mengakibatkan kelelahan kronis," Lowry menjelaskan.

Pada dasarnya tidak ada organisme yang dapat berjalan pada kondisi ini sepanjang waktu. Jadi setelah jangka waktu tertentu, fisik akan menyesuaikan diri dan mungkin berguna menghemat sumber daya.

Para peneliti menyebut peningkatan 10 desibel pada kebisingan di atas tingkat alami bisa mengurangi habitat hewan hingga 90 persen. Sebagai petunjuk, suasana pedesaan yang hening memiliki tingkat kebisingan 30 desibel dan pesawat Boeing 737 yang sedang take-off dari lintasan bandara punya kebisingan 80 desibel.

Penelitian yang telah diterbitkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences ini menunjukkan bahwa degradasi habitat akibat kebisingan di AS mencapai lebih dari 300 ribu mil persegi atau lebih besar dari ukuran Texas, negara bagian terbesar kedua.

Degradasi habitat selalu dianggap sebagai hal krusial dan perubahan fisik lingkungan bisa diketahui dengan jelas. "Ini masalah konservasi yang sesungguhnya," pungkas Guralnick.

BACA JUGA