GEGER HOAKS

Cara baru mendeteksi hoax

Ilustrasi kabar bohong dan fakta.
Ilustrasi kabar bohong dan fakta. | Keport /Shutterstock

Pada 2017, peneliti dari University of Southern California (USC) dan Indiana University (IU) menghelat studi yang menunjukkan bahwa lebih dari 48 juta pengguna Twitter, atau sekitar 15 persen dari 319 juta total pengguna Twitter harian, adalah bot.

Bot merupakan perangkat lunak atau aplikasi untuk menjalankan tugas-tugas secara otomatis di internet. Sistem berupa akun otomatis ini mampu meniru perilaku manusia dan cenderung dirancang untuk memengaruhi opini publik.

Beberapa akun bot bisa berguna untuk memberikan peringatan adanya bencana alam atau mengirimkan informasi penting. Namun, sebagian besar justru berbahaya karena dimanfaatkan untuk menyebar kabar dusta alias hoax, juga propaganda.

Kampanye politik, selebritas, dan pengiklan kerap kali menggunakan bot untuk memberi kesan palsu bahwa suatu berita sedang mengetren, yang tak lain demi mendongkrak popularitas

Oleh sebab itu, untuk mempermudah orang memisahkan mana hoax (berita palsu) yang dibuat oleh manusia nyata atau oleh bot, para ilmuwan menciptakan berbagai alat pendeteksi kabar hoax.

Bulan Mei 2018, tim peneliti dari IU Observatory on Social Media baru saja meluncurkan tiga alat untuk mempelajari dan menangkal misinformasi serta manipulasi daring, sekaligus membangun kepercayaan pada jurnalisme berkualitas, yaitu Hoaxy, Fakey, dan Botometer.

Fakey merupakan gim edukasi yang dibuat agar konsumen lebih pandai dalam menyaring berita, sekaligus membantu orang agar terbiasa mengonsumsi media sosial dengan bertanggung jawab. Aplikasi androidnya telah tersedia dan versi iOS-nya akan segera diluncurkan.

Gim ini menggabungkan antara laporan fakta dan palsu, berita utama, teori konspirasi dan “sains sampah”. Pemainnya bisa mendapat poin dengan mengecek fakta dari berita palsu, juga dengan menyukai atau berbagi informasi yang akurat.

Sementara itu, hoaxy dan botometer merupakan upgrade dari versi sebelumnya dengan nama yang sama.

Botometer adalah aplikasi yang memberikan penilaian berdasarkan jumlah skor kepada pengguna Twitter untuk mendeteksi kemungkinan berita berasal dari akun bot--skor makin rendah diprediksi digerakkan oleh manusia, dan sebaliknya.

Versi baru botometer ini mampu mengidentifikasi berita palsu dan akun bot dengan akurasi lebih tinggi. Pun sangat terintegrasi dengan hoaxy.

Hoaxy adalah mesin pencari kebenaran suatu berita. Fungsi barunya menunjukkan kepada pengguna berita apa yang sedang mengetren termasuk klaim kredibilitas berita. Klaim itu juga menjelaskan bagaimana informasi dari sumber berkredibilitas rendah tersebar di Twitter.

“Mayoritas perubahan Hoaxy dan Botometer secara khusus dirancang agar alat lebih mudah digunakan oleh jurnalis atau warga umumnya,” kata Filippo Menczer, seorang profesor di IU School of Informatics, Computing and Engineering dalam pernyataan.

“Sekarang Anda bisa dengan mudah mendeteksi informasi viral, dan siapa yang bertanggung jawab di balik penyebarannya,” lanjutnya.

Peneliti mengatakan bahwa Hoaxy dan Botometer saat ini mampu memproses ratusan ribu pertanyaan daring setiap hari. Hal itu sangat mungkin lantaran pembaharuan sistem membuat keduanya bisa melacak penyebaran berita daring atau tanda pagar (#) sepanjang waktu di Twitter.

Sebelumnya, kata peneliti, pengguna cuma bisa menganalisis berita utama dari situs web tertentu yang diidentifikasi oleh kelompok nonpartisan sebagai kemungkinan unggahan informasi palsu atau menyesatkan.

Karenanya, menurut Menczer, ketiga terobosan ini bukan hanya membantu individu memahami peran misinformasi secara daring, tapi juga membuat para ahli menemukan cara yang jauh lebih baik “dalam memerangi disinformasi daring.”

Sebagai contoh, teknologi baru ini telah memungkinkan ilmuwan--termasuk tim di IU--mempelajari bagaimana informasi menyebar secara daring, terlebih yang menggunakan bot.

Lalu ada pula studi bulan Maret oleh Science yang menganalisis penyebaran berita palsu di Twitter, dan survei Pew Research Center pada bulan April yang menemukan bahwa hampir dua per tiga tautan ke situs web populer di Twitter dibagikan oleh bot.

Bukan cuma di twitter, Whatsapp juga tengah mengembangkan sebuah fitur baru pendeteksi spam yang bertujuan mengurangi penyebaran berita palsu.

Cara lain mendeteksi berita palsu, seperti disarankan Praktisi Anti Hoax sekaligus Alumnus TI ITB Dimaz Fathroen dan tim ahli dari IU, adalah dengan mengecek keaslian suatu berita lewat elemen di dalamnya.

Jika berita itu terkesan persuasif, judulnya berlebihan, tidak menunjukkan informasi waktu kejadian yang jelas, tidak menyertakan nama penulis serta sumbernya--jika pun ada tetapi latar belakangnya tidak bonafit--dan hanya berdasarkan opini bukan fakta, maka boleh jadi itu hoax.

Selain itu, Anda juga dianjurkan mengecek ulang gambar, dan memverifikasi sumber tanpa mudah percaya pada mesin pencarian umum macam google.

Di Indonesia, Tim Cimol dari Institut Teknologi Bandung juga tengah mengembangkan platform pemberantas informasi palsu bernama Hoax Analyzer. Meski masih bersifat purwarupa, situs pendeteksi hoax yang telah memenangi kompetisi Imagine Cup 2017 di Manila ini sedang dalam pengembangan agar bisa digunakan untuk publik.

Tak hanya itu, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia juga telah menyediakan laman turnbackhoax yang berfungsi sebagai basis data berisi referensi berita hoax, sekaligus menampung aduan hoax.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR