Cara orang Indonesia memanfaatkan teknologi saat Ramadan

Ilustrasi saat umat muslim berbuka puasa
Ilustrasi saat umat muslim berbuka puasa | Zurijeta /Shutterstock

Sulit membayangkan hari tanpa bersentuhan dengan teknologi. Dari membuka mata hingga menutupnya saat beristirahat malam, kita senantiasa memanfaatkan teknologi. Tidak terkecuali dalam aktivitas dan momen religius seperti Ramadan.

Bekerja sama dengan Asian Consumer Group, Google mengadakan proyek riset mengenai perubahan perilaku dan sikap para pengguna teknologi. Khususnya umat muslim di Asia Tenggara, saat menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.

Untuk dapat memberi gambaran yang cukup, Google melakukan survei terhadap 500 responden dan melakukan 20 wawancara tatap muka dengan peserta dari negara Malaysia dan tentunya Indonesia.

Kedua negara ini memiliki jumlah pemeluk agama Islam terbesar dalam lingkup Asia Pasifik. Tidak hanya itu, Google turut mengamati tren di layanan pencarian Search dan juga YouTube.

Berikut beberapa wawasan temuan Google atas itu.

Mempermudah akses ke materi religius

Hal ini memperlihatkan dampak positif pertama atas pemanfaatan teknologi dalam bidang keagamaan. Dengan internet, pengguna atau warganet kini dapat dengan mudah mengakses materi keagamaan, seperti Alquran, secara daring.

Merencanakan ibadah

Umat muslim punya kewajiban salat lima waktu. Dengan kemudahan teknologi, sebesar 61 persen masyarakat Indonesia mengatakan mereka berencana menggunakan aplikasi atau situs berorientasi muslim untuk membantu kelancaran ibadah Ramadan.

Mengingat kemacetan lalu lintas di Jakarta dan kota-kota besar lain, mengetahui jadwal salat akurat membuat para pengguna aplikasi dan layanan dapat memastikan diri siap beribadah saat azan berkumandang.

Memudahkan menunaikan zakat

Membantu orang-orang yang kurang beruntung merupakan salah satu pilar utama Islam, terutama selama Ramadan. Menurut Google, kueri penelusuran zakat meningkat 2,6 kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Kueri tersebut digunakan antara lain untuk mencari tahu cara menunaikan zakat, jumlah zakat yang harus dibayarkan, dan ke mana zakat bisa diberikan.

Menyebarkan pesan rohani dengan video

Konsumsi video daring secara umum meningkat selama Ramadan, dengan kueri penelusuran YouTube naik hingga 40 persen ketimbang dengan bulan-bulan biasa. Sebanyak 54 persen penonton video dalam survei Google menyatakan rencana untuk menonton konten rohani.

Ini terlihat dari peningkatan penelusuran konten keagamaan sebesar 1,5 kali lipat di YouTube dan kenaikan waktu tonton video keagamaan sebesar 48 persen selama Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan biasa.

Mencari tempat untuk berbuka puasa

Momen berbuka menjadi momen yang spesial bersama keluarga maupun teman-teman. Setelah seharian berpuasa, berbuka menjadi aktivitas yang mendapat perhatian besar. Masyarakat Indonesia melakukan penelusuran terkait makanan 220 persen lebih banyak selama Ramadan.

Kueri penelusuran tentang "dining" (bersantap di luar) tumbuh 20 persen selama Ramadan 2017 dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Sementara itu, restoran cepat saji telah menjadi pencarian utama untuk berbuka puasa dengan peningkatan pencarian hingga 1,6 kali. Tidak ketinggalan peningkatan 51 persen dalam navigasi Waze ke restoran selama Ramadan di Indonesia.

Resep dan pencarian tutorial video juga melonjak di YouTube, dengan peningkatan 35 persen di Indonesia. Meski pencarian tempat makan meningkat, ketika ditanya tentang preferensi makanan untuk berbuka puasa, 76 persen orang Indonesia yang disurvei mengatakan mereka lebih suka makanan rumahan.

Grafik menunjukkan perilaku orang Indonesia saat Ramadan berhubungan dengan aktivitas buka puasa
Grafik menunjukkan perilaku orang Indonesia saat Ramadan berhubungan dengan aktivitas buka puasa | Google

Meningkatnya aktivitas berbelanja

Lebaran menjadi ajang pembaruan bagi umat muslim, tidak hanya secara rohani, tapi juga jasmani. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya pencarian promosi hingga 40 persen pada 2017 jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Ada lima komoditas yang paling unggul pencarian promosinya. Mereka adalah promosi yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, perjalanan, gawai dan telekomunikasi, e-dagang, dan kartu kredit.

"Traffic website itu naik 10 hingga 20 persen dari biasanya," kata Bayu Syerli Rachmat selaku Vice President of Marketing Bukalapak dikutip dari Tabloidbintang.com (3/4).

Selama Ramadan, semakin banyak orang mengakses situs e-dagang di waktu luang. Mereka mengalokasikan waktu makan siang hari untuk melihat deretan produk di internet. Mereka juga melakukan hal serupa ketika bersantai di malam hari.

"Jam makan siang itu banyak orang window shopping. Ini karena mereka enggak makan. Kalau sore, traffic lebih turun karena orang-orang sibuk untuk berbuka puasa. Traffic baru naik lagi setelah Tarawih, malam hari," ujar Bayu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR