PERUBAHAN IKLIM

COP24 sepakati pengurangan emisi gas rumah kaca

President, Deputy Environment Minister Michal Kurtyka secara resmi menutup KTT Iklim PBB COP24 di Katowice, Polandia, 15 Desember 2018.
President, Deputy Environment Minister Michal Kurtyka secara resmi menutup KTT Iklim PBB COP24 di Katowice, Polandia, 15 Desember 2018. | Marek Zimny /EPA-EFE

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP24 di Katowice, Polandia mundur satu hari akibat kebuntuan diplomasi soal pasar karbon untuk mengurangi emisi. Belum lagi blunder konsumsi para peserta.

Meski begitu akhirnya hampir 200 negara setuju membatasi emisi gas rumah kaca untuk mencegah perubahan iklim global.

Pertemuan para pihak (Conference of Parties/COP) ke-24 kerangka kerja mengenai perubahan iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) ini digelar 2 Desember dan berakhir pada 15 Desember.

Konferensi ini merespons laporan ilmiah PBB yang menemukan bahwa pemanasan 0,5 derajat Celsius saja di luar suhu global saat ini akan menyebabkan kerusakan luas dan penderitaan bagi umat manusia.

COP diinisiasi oleh PBB dengan maksud mendiskusikan kesehatan Bumi, lebih spesifiknya urusan perubahan iklim. COP1 diadakan di Berlin, Jerman pada tahun 1995, dan menjadi acara tahunan hingga saat ini. Indonesia juga pernah menjadi tuan rumah, tepatnya di Bali, pada tahun 2007 dalam acara COP13.

COP24, pertemuan puncak iklim tahunan PBB yang terbaru, dimaksudkan untuk melambangkan transisi dari dunia lama yang kotor ke dunia baru yang bersih.

Bagaimanapun, penggunaan batu bara masih terus berlanjut dan minyak masih menjadi mesin penggerak bagi sebagian besar perekonomian dunia.

Di sisi lain energi bersih mulai tumbuh pada tingkat yang lebih cepat dari yang diprediksi, dan biayanya telah turun dengan cepat, tetapi pengadopsiannya perlu dipercepat.

Kurang lebih 23.000 delegasi dari 195 negara berhasil menyampaikan suara atas tujuan utama pertemuan yaitu “buku aturan” 156 halaman untuk mempraktikkan Perjanjian Paris tahun 2015.

Sebuah kesepakatan berkomitmen untuk menjaga pemanasan global relatif di bawah 2 derajat Celsius terhadap waktu pra-industri, dan berupaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius.

Ini termasuk bagaimana pemerintah akan mengukur, melaporkan, dan memverifikasi upaya pemotongan emisi mereka.

Kesepakan ini bisa dikatakan sebagai elemen kunci, karena memastikan semua negara berpegang pada standar tepat dan akan merasa lebih sulit untuk keluar dari komitmennya. Buku aturan ini diperlukan ketika kesepakatan global tersebut menjadi hal wajib pada 2020.

Ada tiga butir utama yang menjadi garis besar pertemuan tersebut.

Yang pertama, membuat kerangka transparan dan mendetail tentang langkah yang dilakukan setiap negara dalam mengatasi perubahan iklim. Kedua, mempercepat pendanaan $100 juta (Rp1,4 triliun) bagi negara berkembang untuk mengatasi perubahan iklim. Ketiga, menilai keefektifan aksi menjaga perubahan iklim pada tahun 2023.

"Tidak mudah menemukan kemufakatan tentang kesepakatan yang begitu spesifik dan teknis," kata ekonom Polandia Michal Kurtyka, yang memimpin perundingan PBB itu. "Melalui paket ini, Anda telah membuat seribu langkah maju bersama-sama," katanya kepada para delegasi yang berkumpul. "Anda bisa merasa bangga."

PBB akan menemukan negara-negara ini kembali lagi tahun depan di Cile guna merevisi unsur-unsur terakhir dari buku aturan kesepakatan Paris dan mulai bekerja pada target pengurangan emisi di masa depan.

Konferensi yang lebih panas akan datang pada tahun 2020, ketika negara-negara harus memenuhi tenggat waktu atas komitmen emisi mereka saat ini dan menghasilkan target baru untuk tahun 2030 dan seterusnya.

Blunder makanan

Meski memiliki akhir yang cukup manis, nyatanya ada blunder yang terjadi dalam perhelatan tersebut. Di kala perundingan membahan untuk Bumi yang lebih hijau—salah satu agendanya sistem pangan, menu makanan yang disajikan ke para pengunjung lebih banyak berbahan baku daging.

Dengan jumlah pengunjung yang hampir mencapai angka 30.000, konsumsi daging dalam jumlah besar akan menghasilkan gas rumah kaca tinggi. Jika semua peserta konferensi memilih hidangan berbasis daging seperti keju, daging babi, dan sapi, akan menghasilkan lebih dari 4.000 ton gas rumah kaca atau setara dengan membakar 500 ribu galon bensin atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan 3.000 orang dari New York ke Katowice.

Selain menghasilkan gas rumah kaca, memproduksi hidangan berbasis daging membutuhkan tujuh kali lebih banyak tanah dan hampir dua kali lebih banyak air dibanding hidangan berbasis tanaman.

“Jika para pemimpin dunia berkumpul di Polandia berharap untuk mengatasi krisis iklim, mereka perlu mengatasi konsumsi daging dan susu berlebih, dimulai dengan apa yang ada di piring mereka sendiri,” kata Stephanie Feldstein, direktur program Population and Sustainability di Center for Biological Diversity, seperti dikutip dari Bloomberg (4/12).

Studi penelitian di Nature menyerukan pengurangan besar dalam konsumsi daging dan susu, dengan menggantinya ke kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Langkah ini akan mengurangi perubahan dalam penggunaan lahan, menipisnya sumber daya alam, pencemaran laut, dan daratan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR