Dianggap ancam keutuhan NKRI, Kominfo blokir Telegram

Ilustrasi logo aplikasi perpesanan instan Telegram.
Ilustrasi logo aplikasi perpesanan instan Telegram.
© Pixabay

Ranah daring Indonesia sejak kemarin, Jumat (15/7), ramai dengan pemberitaan pemblokiran layanan pesan instan Telegram. Informasi ini berawal dari diskusi serta keluhan para pengguna layanan tersebut di media sosial.

Tidak lama setelah informasi ini mulai mencuat, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara resmi menelurkan pernyataan bahwa pada 14 Juli 2017, Kominfo telah meminta Internet Service Provider (ISP) di Indonesia untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram.

Ke-11 DNS yang diblokir adalah: t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org.

Kominfo beralasan bahwa banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, foto-foto yang mengganggu (disturbing images), dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

"Kami punya buktinya, karena ada 700 halaman (yang berkaitan terorisme dan radikalisme), kenapa 11 DNS tadi kami blok hari ini, Jadi capture-nya itu semua ada. Bagaimana isinya itu mendorong radikalisme, terorisme, bagaimana mengajak membuat bom, semuanya ada," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dikutip dari viva.co.id (14/7).

"Saya sudah konsultasi dengan teman-teman semua, dengan Mas Gatot (Nurmantyo, Panglima TNI), Kang Teten (Masduki, Kepala KSP), Polri, dan semuanya ini kalau memang harus, ya harus. Memang terorisme dan radikalisme ini kan fenomena global, bukan hanya Indonesia. Tiap negara menyikapi berbeda," tambahnya.

Kominfo menjelaskan bahwa aplikasi mobile dan versi desktop Telegram akan diblokir di seluruh Indonesia. Hal ini karena kehadiran Telegram dapat membahayakan keamanan negara sebab tidak menyediakan Standard Operating Procedure (SOP) dalam penanganan kasus terorisme.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semuel A. Pangerapan di Dirjen Aplikasi Informatika

"Saat ini kami juga sedang menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia apabila Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure penanganan konten-konten yang melanggar hukum dalam aplikasi mereka," papar Dirjen Aplikasi Informatika Semuel A. Pangerapan.

Dari delapan ISP di Indonesia, baru Telkomsel yang telah mengatakan akan mematuhi langkah tersebut. Sedangkan sisanya belum memberikan tanggapan resmi.

Hingga saat ini belum ada pernyataan apakah tindakan serupa akan diberlakukan terhadap platform pesan instan lainnya. Yang pasti Kominfo mengaku tak segan untuk melakukan pemblokiran platform media sosial lainnya, seperti Facebook, Twitter, Instagram jika mengarah kepada hal yang sama.

CEO dan salah satu pendiri Telegram, Pavel Durov, mengaku pemerintah Indonesia tidak pernah melontarkan keluhan atau permintaan apapun kepada mereka.

"Kami akan menyelidiki dan kemudian membuat pengumuman," tulis Durov dalam akun resmi Twitternya, menjawab pertanyaan seorang pengguna Telegram di Tanah Air.

Mengapa teroris menyukai Telegram

Telegram adalah platform berbagi pesan yang dikenal populer di teroris, terutama ISIS. Direktur Institute For Policy Analysis Of Conflict (IPAC) yang berbasis di Jakarta, Sidney Jones, baru-baru ini mengatakan bahwa "Telegram adalah aplikasi pilihan bagi teroris, karena enkripsi dan perlindungan privasinya lebih ketat daripada aplikasi lainnya."

Jones menambahkan bahwa Bahrun Naim, seorang pejuang Indonesia di Suriah untuk kelompok Negara Islam, sering menggunakan kanal publik yang tersedia di aplikasi untuk memberikan instruksi kepada amaliyah-sebuah istilah yang sering digunakan oleh kelompok ekstremis untuk merujuk pada serangan atau pemboman bunuh diri.

Middle East Media Research Institute (MEMRI) dalam laporannya pada Desember 2016 menyatakan Telegram telah menjadi "aplikasi pilihan bagi banyak anggota ISIS, pro-ISIS, serta elemen-elemen teroris lainnya."

Sama seperti layanan pesan instan lainnya --termasuk WhatsApp dan Viber-- Telegram memiliki sistem enkripsi end-to-end (dari pengguna ke pengguna) yang sulit diretas.

Namun Telegram menegaskan komitmen mereka untuk menjaga keamanan dan privasi pengguna dengan fitur menarik seperti self-destruct timer. Sebelum pengguna mengirim pesan dalam sebuah percakapan rahasia (secret chat), mereka bisa menyetel waktu untuk menghapus pesan itu secara otomatis dari semua gawai yang terlibat dalam percakapan.

Aplikasi ini diperkenalkan Durov pada 2013 sebagai sarana berbagi pesan yang aman dan tidak bisa diintip oleh aparat keamanan Rusia.

Saat ini, menurut TechCrunch, ada 100 juta pengguna aktif telegram setiap bulan yang berbagi 15 miliar pesan setiap harinya. Selain itu, setiap harinya aplikasi itu mendapatkan 350.000 pengguna baru.

Durov, yang kabur dari Rusia pada 2013 dan kemudian menjadi warga negara St Kitts & Navis, adalah pendukung privasi daring dan, mengutip Huffingtonpost, pernah menyatakan bahwa jumlah teroris yang menggunakan Telegram masih jauh lebih sedikit dibandingkan masyarakat biasa yang memanfaatkannya untuk kebaikan.

Walau demikian, Telegram pernah menutup 78 akun terkait ISIS beberapa saat setelah terjadi teror di Paris pada 2015. "Kami memang memblokir bot dan kanal teroris (misalnya yang berhubungan dengan ISIS), namun kami tidak akan memblokir siapapun yang mengungkapkan opini secara damai," kata Telegram saat itu.

Lalu pada Juni 2017, Durov juga memenuhi permintaan pemerintah Rusia akan informasi dasar perusahaan setelah pelaku serangan bom di St Peterburg diduga menggunakan Telegram. Permintaan tersebut dipenuhi setelah Kremlin mengancam akan memblokir aplikasi itu di seluruh Rusia.

Ahmet S. Yayla, ahli kontraterorisme dari George Mason University, menyatakan pemblokiran dan pelarangan sebuah aplikasi tak serta-merta bisa menghilangkan terorisme.

"Kalau Telegram diblok di Rusia, terroris akan bisa mencari aplikasi lain dalam waktu satu atau dua hari. Benar mereka akan merasa tidak nyaman, tetapi itu takkan menghentikan mereka," kata Yayla.

Selain itu, menurut Jade Parker, peneliti senior TAPSTRI --kelompok riset yang meneliti penggunaan internet oleh teroris--, ramainya berita soal Telegram saat ini telah membuat para pemimpin ISIS mulai pindah ke media sosial lainnya, termasuk aplikasi bernama Baaz.

"Menutup Telegram ... ISIS hanya akan pindah ke tempat lain," kata Parker.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.