APLIKASI ANDROID

Emergency Button, aplikasi tombol darurat di Tulungagung

Suasana command centre di RSUD dr Iskak, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Suasana command centre di RSUD dr Iskak, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. | Dokumentasi RSUD dr Iskak

Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meluncurkan sebuah aplikasi berbasis android untuk melindungi anak-anak, perempuan, dan orang tua yang kurang mampu melindungi diri dari ancaman. Aplikasi bernama "Emergency Button" berlogo tombol biru ini bisa diunduh melalui Playstore.

Aplikasi ini diluncurkan tepat pada HUT Kemerdekaan ke-73 RI. Bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 "Aplikasi ini dirancang oleh tim IT Rumah Sakit Umum Daerah dr Iskak Tulungagung untuk mempercepat pemberian pertolongan," kata Direktur RSUD dr Iskak, dr Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS kepada Beritagar.id, Sabtu (18/8/2018).

Tombol darurat ini terkoneksi dengan sistem besar di lantai dua RSUD dr Iskak. Di ruang bernama command centre ini terdapat beberapa operator yang bersiaga di depan layar monitor raksasa. Hampir seluruh sudut ruangan juga dipenuhi layar monitor ukuran 24 inci dengan berbagai sudut pandang situasi jalan dan peta Kabupaten Tulungagung.

Aplikasi ini diklaim jauh lebih efektif ketimbang nomor telepon darurat (hotline) 911 seperti di Amerika Serikat. Pemohon bantuan tak perlu melakukan panggilan telepon untuk menghubungi pihak berwenang, melainkan hanya perlu menekan tombol biru di layar ponsel selama satu detik.

Panggilan yang masuk ke command centre akan direspon operator seketika, dengan menelepon balik sesuai data yang dimasukkan saat memasang aplikasi. Karena didukung teknologi Global Positioning System (GPS), operator akan mengetahui posisi pemohon.

"Jadi tidak perlu bingung tak memiliki pulsa karena sistem ini berbasis internet," kata Supriyanto.

Melalui saluran telepon ini, operator akan mengindentifikasi situasi darurat yang dialami warga dan menentukan langkah penanganan. Jika situasi darurat yang dihadapi menyangkut kesehatan, operator akan memandu langkah penyelamatan melalui telepon, sambil menunggu kedatangan petugas medis ke lokasi.

Kesalahan tindakan saat melakukan pertolongan pertama, terutama pada korban kecelakaan, tak jarang justru berakhir dengan kematian. Kasus yang pernah terjadi di Tulungagung adalah korban kecelakaan lalu lintas yang tak sadar dalam posisi masih mengenakan helm di tengah jalan.

Korban hanya hilang kesadaran, tapi setelah diangkat oleh warga ke tepi jalan justru kehilangan nyawa. Kesalahan menangani korban membuat tulang lehernya patah karena yang bersangkutan masih mengenakan helm.

"Ini bisa kita hindari jika sejak awal ada panduan penanganan dari operator kami, jelas Supriyanto.

Tampilan aplikasi Emergency Button berbasis android.
Tampilan aplikasi Emergency Button berbasis android. | Dokumentasi RSUD dr Iskak

Kecepatan merespon panggilan darurat ini juga dibutuhkan untuk menekan risiko kematian penderita serangan jantung dan stroke. Apalagi dua penyakit ini adalah penyebab kematian tertinggi menurut Badan kesehatan dunia WHO.

Rata-rata pemicu kematian penderita ini adalah terlambat mendapat pertolongan medis. Penderita serangan jantung dipastikan meninggal jika terjadi penghentian gerak jantung selama delapan menit.

"Uji coba kami berhasil merespon panggilan darurat kurang dari 15 detik. Penanganan serangan jantung hingga pemasangan ring bisa dilakukan dalam 30 menit," kata Supriyanto.

Dr Evit Ruspiono Sp. JP, salah satu penggagas Layanan Sindroma Koroner Akut RSUD Dr Iskak mengatakan bahwa kecepatan pemberian tindakan kepada pasien jantung menjadi kunci penyelamatan.

Karena itu kecepatan melakukan tindakan tak lagi bisa ditawar dan menjadi standar baku operasional program ini. "Butuh koordinasi dan kecepatan tindakan sejak di ruang Instalasi Gawat Darurat atau bahkan mobil ambulans," kata dr Evit.

Untuk mendukung program Public Safety Centre ini, disiagakan lebih dari 30 unit mobil ambulans dengan peralatan medis lengkap. Mobil ini tersebar di sejumlah titik wilayah Kabupaten Tulungagung untuk merespon panggilan darurat selama 24 jam.

Tak hanya menangani gangguan kesehatan. Aplikasi ini juga merespon kondisi darurat non-medis. Misalnya ancaman kriminalitas, bencana alam, dan kebakaran.

Selain rumah sakit, sistem Public Safety Centre ini juga menghubungkan dengan petugas Kepolisian, TNI, Satpol PP, pemadam kebakaran, dan badan penanggulangan bencana alam atau SAR. Di setiap kantor mereka terdapat ruang pengendali yang terhubung dengan command centre di rumah sakit.

Supriyanto bahkan merekomendasikan kepada kelompok masyarakat yang rentan gangguan keamanan seperti anak-anak, perempuan, dan orang tua untuk mengunduh aplikasi emergency button ini.

"Anak sekolah yang terlambat dijemput, kemudian dijahili orang di jalan bisa menekan tombol itu," katanya.

Demikian pula warga yang mengetahui terjadinya situasi darurat bisa melaporkan ke command centre untuk mendapat pertolongan. Hal ini sekaligus mendorong sikap empati kepada orang lain tanpa harus melakukan tindakan sendiri.

Tak sekedar penyelamatan manusia, aplikasi yang menjadi pengembangan Public Safety Centre ini diharapkan bisa mendukung pertumbuhan sektor ekonomi dan pariwisata. Di kota-kota wisata, turis asing kerap membutuhkan jaminan keamanan dan keselamatan saat berada di suatu daerah.

Dengan aplikasi ini, mereka dipastikan tak lagi kebingungan saat tertimpa masalah di Kabupaten Tulungagung.

Meski demikian, aplikasi "Emergency Button" ini masih memiliki kelemahan teknis. Karena bisa diunduh siapa pun, operator tak bisa memilah pemohon dari luar Tulungagung.

Sementara layanan keselamatan ini hanya bisa dilakukan di wilayah Kabupaten Tulungagung. "Kami masih akan menyempurnakan lagi," kata Supriyanto.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR