TEKNOLOGI ANTARIKSA

Falcon Heavy dan impian jalan-jalan ke luar angkasa

Roket Falcon Heavy milik SpaceX lepas landas dari Cape Kennedy di Florida, AS, pada Selasa (6/2/2018).
Roket Falcon Heavy milik SpaceX lepas landas dari Cape Kennedy di Florida, AS, pada Selasa (6/2/2018). | Cristobal Herrera /EPA-EFE

Awal pekan ini, SpaceX menunjukkan bahwa impian manusia biasa (bukan astronaut) akan sebuah perjalanan komersil yang membawa mereka untuk jalan-jalan di luar angkasa, semakin dekat untuk bisa diwujudkan.

Pada Selasa (6/2/2018), bertempat di Pusat Antariksa Kennedy di Florida, Amerika Serikat, Roket Falcon Heavy dari SpaceX berhasil meluncur ke lingkaran orbit rendah bumi secara mulus tanpa kendala. Orbit rendah bumi adalah lingkaran edar di sekeliling Bumi dengan ketinggian 2.000 kilometer di atas permukaan laut.

Falcon Heavy merupakan bagian dari dari Interplanetary Transport Systems (ITS) yang dikembangkan SpaceX. Ia merupakan konsep penggabungan roket paling kuat yang pernah dibuat dengan pesawat ruang angkasa yang dirancang untuk membawa setidaknya 100 orang ke Planet Merah per penerbangan.

Konsep itu juga diklaim kelak bisa mengangkut penumpang keliling Bumi dengan waktu kurang dari satu jam.

Falcon Heavy merupakan roket terbesar dan terkuat yang pernah meluncur sepanjang sejarah. Dilansir dari BBC Indonesia (7/6), dengan total bobot muatan 64 ton, roket ini mengalahkan Delta IV Heavy yang memegang posisi atas sebelumnya sejak 2004 dengan bobot 29 ton.

Selain itu, Falcon Heavy juga dibuat hanya dengan sepertiga dari biaya yang dikeluarkan untuk membuat Delta IV Heavy. Pada keterangannya pascapeluncuran, Elon Musk, bos SpaceX, menyatakan bahwa total biaya proyek Falcon Heavy adalah sekitar 500 juta dolar AS (Rp7 triliun).

Beberapa jenis muatan sudah dapat dibawa oleh Falcon Heavy. Mereka seperti satelit-satelit intelijen dan militer AS dalam ukuran yang lebih besar. Karena selama ini ukuran satelit disesuaikan dengan daya angkut roket.

Ia juga bisa membawa robot-robot berukuran lebih besar dan lebih cerdas untuk dikirim ke Planet Mars atau ke planet lain. Juga teleskop berukuran besar seperti pengganti Teleskop Hubble, yaitu Teleskop Antariksa James Webb. Teleskop James Webb saat ini harus dilipat seperti origami agar bisa masuk ke roket yang meluncur tahun depan.

Hal yang membuat karya SpaceX ini lebih spesial adalah kemampuannya untuk turun lagi ke Bumi dengan pendorong yang dapat digunakan kembali. Setelah mengantar muatan, kepala pendorong kembali ke Bumi dan mendarat secara vertikal. Hal ini akan secara drastis memotong biaya peluncuran satelit, misalnya.

Perkiraan biaya per peluncuran dengan Falcon Heavy hanya 90 juta dolar AS (Rp1,3 triliun). Hanya seperempat dari biaya yang dibutuhkan saat ini, namun dengan daya angkut yang lebih besar.

Saat ini, dikabarkan Ars Technica, biaya peluncuran oleh United Launch Alliance (organisasi gabungan perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa peluncuran pesawat ruang angkasa kepada pemerintah Amerika Serikat) dikabarkan mencapai 422 juta dolar AS (Rp6 triliun) per peluncuran.

Meski demikian Falcon Heavy sendiri bukanlah dimaksudkan sebagai roket pembawa awak manusia. Musk mengungkapkan bahwa Falcon Heavy kemungkinan tidak akan memiliki sertifikat untuk membawa manusia, melainkan untuk pengembangan BFR (Big Fucking Rocket).

BFR adalah kombinasi pesawat ruang angkasa/roket yang dapat digunakan kembali yang dirancang untuk mengantarkan muatan (termasuk manusia) ke orbit sebagai bagian dari sistem transportasi antarplanet SpaceX.

Menurut Musk, pendorong (disebut BRB atau Big Rocket Booster) seperti Falcon 9 dan Falcon Heavy akan kembali ke Bumi, sekitar 10 menit setelah roket lepas landas.

Badan pesawat sendiri menjadi bagian yang lebih kompleks. Membangun wahana antariksa yang bisa digunakan kembali, yang bisa bertahan dari panasnya proses masuk ke Bumi merupakan pekerjaan yang sangat menantang.

Proses ini sejak dahulu menjadi salah satu bagian yang paling sulit dalam perancangan konsep Space Shuttle.

Tapi pesawat ruang angkasa BFR tidak dirancang untuk sekedar beredar di orbit rendah bumi. Falcon 9 bisa melakukan itu. BFR dirancang untuk terbang jauh ke luar orbit kita.

Dua awak Falcon Heavy

Meski tidak membawa manusia, Falcon Heavy tetap disertai dua "awak" dalam peluncurannya.

Mereka adalah sebuah mobil Tesla Roadster pribadi milik Elon Musk buatan tahun 2008 dan sebuah boneka yang didandani dengan setelan berwarna putih layaknya astronaut bernama Starman dengan pose sebagai pemegang kendali Roadster tersebut.

Rencana awal, kedua awak akan terus meluncur hingga nantinya mendekati orbit Mars. Namun tidak akan terlalu dekat untuk mencegah mencemari Planet Merah tersebut. Setelahnya, mobil ini akan terus berkelana di ruang angkasa.

Musk mengatakan bahwa sangat kecil kemungkinan Roadster jatuh ke Mars, dan lebih berpotensi untuk mengarungi luar angkasa selama jutaan atau bahkan miliaran tahun.

Sejauh ini motif yang diketahui dari pelepasan dua awak ini adalah sekaligus menjadi alat pemasaran jenama Tesla, perusahaan kendaraan listrik yang juga dimiliki Musk.

Namun Musk berkelit dan mengatakan Roadster digunakan sebagai awak agar momen ini tak jadi membosankan.

Walau ia tak mengakuinya, sorotan terhadap Falcon Heavy, secara langsung juga akan berpengaruh kepada Tesla.

Seperti dikutip dari Business Insider (7/2), saat ini Tesla mulai tertinggal di belakang produsen mobil lain dalam upaya memproduksi mobil listrik secara massal. Namun tak ada perusahaan lain yang bisa menarik perhatian dengan cara yang dilakukan Tesla ini.

Tesla masih berjuang untuk memproduksi Model 3, mobil listrik produksi massal pertamanya.

Lebih dari 400.000 unit mobil tersebut telah dipesan sejak mulai diproduksi pada Juli 2017. Awalnya, Musk mengatakan bahwa Tesla akan memproduksi 20.000 unit Model 3 per bulan sampai Desember 2017. Namun sepanjang kuartal keempat hanya sekitar 1.500 unit yang diproduksi.

Kini, setelah aksi Roadster yang menarik perhatian itu, Tesla mesti bersiap menghadapi kemungkinan semakin banyaknya orang yang memesan Model 3.

Live Views of Starman /SpaceX
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR