Fokus Huawei pada 2019 di tengah masalah putri pendiri

Logo Huawei tampak di Beijing, Tiongkok (12/12/2018).
Logo Huawei tampak di Beijing, Tiongkok (12/12/2018). | Wu Hong /EPA-EFE

Meski tengah menghadapi masalah penangkapan Chief Financial Officer (CF) Meng Wanzhou di Kanada, Huawei tampak optimistis memaparkan rencana mereka sepanjang 2019 setelah menjalani tahun 2018 yang bisa dibilang gemilang.

Hingga akhir Desember tahun lalu, pengapalan produk ponsel raksasa teknologi Tiongkok itu, menurut Canalys (h/t Financial Express) mencapai lebih dari 200 juta unit ke seluruh dunia, membuat mereka naik ke peringkat kedua produsen ponsel terbesar di dunia melampaui Apple. Samsung masih menempati posisi pertama.

CEO Huawei, Richard Yu, juga mengungkapkan bahwa pada tahun lalu perusahaannya juga telah menjual 100 juta unit gawai di Tiongkok, termasuk sabak, perangkat sandangan, dan PC. Pencapaian itu membuat perusahaannya menjadi perusahaan sabak ketiga terbesar di dunia setelah Samsung dan Apple.

Kini seperti dilansir GSM Arena, Selasa (8/1/2019), dalam sebuah surat terbuka, Yu mengumumkan rencana besarnya untuk tahun 2019. Fokus terbesar Huawei tentunya adalah menjaga kepercayaan konsumen, yang tentu bukan hal mudah dengan berbagai "serangan" yang dilancarkan oleh Amerika Serikat.

Ia berharap dapat memperkuat posisi dominasinya di industri teknologi dengan melanjutkan investasi dalam 5G, kecerdasan artifisial (AI), serta riset dan pengembangan (R&D). Tiga hal ini akan membantu Huawei mencapai tujuannya untuk menyediakan ekosistem pengalaman pintar dalam 5-10 tahun ke depan.

CEO Huawei juga menyatakan bahwa perusahaannya percaya pada kekuatan AI dan berkomitmen untuk menggunakan berbagai teknologi untuk membantu anak-anak tuna rungu.

Meski Yu tidak membeberkan sasaran penjualan untuk 2019, namun perusahaannya tidak merahasiakan rencana menyalip Samsung pada akhir tahun ini atau awal 2020 mendatang.

Persaingan ketat antara dua perusahaan tersebut diperkirakan akan terjadi ketika jajaran Galaxy S10 dan Huawei P30 diluncurkan tahun ini.

Laporan pangsa pasar lima perusahaan ponsel teratas selama Q3 2018
Laporan pangsa pasar lima perusahaan ponsel teratas selama Q3 2018 | IDC

Sebelumnya pada Q3 2018, IDC melaporkan Huawei mengapalkan sekitar 52 juta ponsel dan meraih 14,6 persen. Pencapaiannya itu berhasil mengalahkan Apple yang hanya mengirimkan 46,9 juta ponsel, atau 13,2 persen pangsa pasar.

Perang teknologi AS - Tiongkok

Meng Wanzhou, CFO Huawei yang sempat ditahan pemerintah Kanada. Ia dibebaskan dengan jaminan 7,5 juta dolar AS.
Meng Wanzhou, CFO Huawei yang sempat ditahan pemerintah Kanada. Ia dibebaskan dengan jaminan 7,5 juta dolar AS. | Maxim Shipenkov /EPA-EFE

Rencana Huawei tersebut diumumkan di tengah permasalahan yang menimpa perusahaan tersebut dan bisa mengganggu kinerja mereka.

Penerus tahta sekaligus Chief Financial Officer (CFO) Huawei Meng Wanzhou ditangkap pemerintah Kanada atas permintaan Amerika Serikat pada awal Desember lalu.

Meng, putri pendiri dan Presiden Huawei Ren Zhengfei, dituduh menggunakan perusahaan cangkang dan mencoba menyelundupkan ponsel ke Iran yang sedang terkena embargo internasional. Namun, perempuan berusia 47 tahun itu telah dibebaskan dengan jaminan 7,5 juta dolar AS (Rp105,3 miliar).

Iran merupakan salah satu negara yang diembargo oleh AS karena program nuklirnya dicurigai untuk membuat senjata pemusnah massal.

Tenggat ekstradisi Meng ke AS yang ditetapkan 60 hari sejak penangkapan, menurut Global Times (10/1), akan berakhir bulan ini dan Meng akan kembali ke persidangan pada 6 Februari.

Pemerintah Tiongkok telah meminta Kanada untuk segera membebaskannya dan ada kemungkinan mengambil langkah balasan jika itu tak dipenuhi.

South China Morning Post (9/1) mengabarkan, ada kemungkinan Presiden AS Donald Trump bakal memerintahkan Departemen Kehakiman untuk menghentikan penyelidikan kasus Meng. Negosiasi untuk mengakhiri perang dagang AS-Tiongkok disebut menjadi imbalannya.

Sebelumnya, pada akhir bulan lalu, Trump mempertimbangkan perintah eksekutif untuk mendeklarasikan keadaan darurat nasional terhadap peralatan telekomunikasi buatan perusahaan telekomunikasi asal Tiongkok itu.

Perintah ini akan menghalangi perusahaan-perusahaan AS untuk menggunakan produk Huawei, termasuk produk buatan senegaranya, yakni ZTE.

Bahkan, Australia Selandia Baru pun seperti dilaporkan Radio New Zealand (9/1) mengikuti AS untuk melarang penggunaan perangkat 5G milik Huawei dengan alasan keamanan. Inggris Raya juga telah didesak oleh sekutu-sekutunya agar melakukan hal serupa.

Selain itu, beberapa tahun lalu sempat muncul dugaan lain saat sejumlah agen intelijen AS menuduh Huawei terkait dengan pemerintahan Tiongkok dan peralatan milik Huawei kemungkinan mengandung elemen mata-mata yang digunakan negara untuk melakukan mata-mata.

Belum ada bukti yang diungkap secara terbuka terkait tuduhan ini. Huawei pun secara tegas menampiknya. Mereka menganggap perang dagang antara AS dan Tiongkok menjadi pangkal masalah tersebut.

Namun tuduhan ini tak pelak membuat negara-negara menahan diri untuk tidak menggunakan produk buatan Huawei.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR