TEMUAN ARKEOLOGI

Fosil dinosaurus 'Mona Lisa' akhirnya punya nama

Fosil berusia 110 juta tahun dari Borealopelta markmitchelli dalam kondisi pengawetan yang sempurna
Fosil berusia 110 juta tahun dari Borealopelta markmitchelli dalam kondisi pengawetan yang sempurna | Wikimedia Commons

Salah satu temuan paling menakjubkan dalam dunia paleontologi baru-baru ini adalah penemuan tak sengaja dari fosil dinosaurus lapis baja di tambang minyak di Alberta, Kanada. Fosil dinosaurus 110 juta tahun tersebut spesial karena terawetkan secara sempurna, ibarat lukisan Mona Lisa yang tak bercela.

Pada tahun 2011, Shawn Funk, seorang operator mesin yang bekerja di Tambang Milenium Suncor, terletak di dekat Fort McMurray, menemukan sisa-sisa dinosaurus yang terawetkan dengan baik. Enam tahun kemudian, fosil yang belum terjamah itu akhirnya diidentifikasi sebagai spesies baru dan mendapat nama resmi.

Dinosaurus seperti naga ini adalah sejenis nodosaurus baru yang disebut Borealopelta markmitchelli, yang jika diterjemahkan, berarti perisai utara Mitchell. Para periset menamai nodosaurus tersebut demikian untuk menghormati teknisi Royal Tyrrell Museum, Mark Mitchell.

Mitchell menghabiskan lebih dari 7.000 jam atau enam tahun terakhir untuk menggali fosil dari kuburan berbatu, dan membersihkannya dengan hati-hati dan menghilangkan partikel batu dan tanah dari spesimen.

Menggeluti dunia fosil dinosaurus adalah realisasi mimpi masa kecil Mitchell. Dia memulai pekerjaannya di Royal Tyrrell Museum pada tahun 1996. Sejak saat itu, teknisi tersebut telah mengerjakan sekitar 25 sampai 30 spesimen. Tapi Mitchell menganggap kerja Borealopelta markmitchellii sebagai "permata mahkota" dari seluruh kariernya sebagai teknisi.

Nodosaurus merupakan kerabat dekat keluarga dinosaurus ankylosauridae. Sebuah kelompok yang mencakup Zuul crurivastato, sebuah spesies dinosaurus yang dinamakan atas inspirasi karakter dari film Ghostbusters.

Terlepas dari ciri-cirinya yang mencolok, para periset sekarang mendapati bahwa meski dengan eksterior seperti baju besi yang serupa, Borealopelta markmitchelli mungkin juga telah menggunakan kamuflase untuk menghindari predator besar.

Karena spesimen mirip patung itu begitu bagus, hal ini membuat para peneliti dapat melihat warna kulit dinosaurus. Hal ini yang memunculkan kemungkinan bahwa dinosaurus ini berkamuflase untuk menghindari penangkapan predator pemakan daging yang mendominasi lingkungan saat itu.

Meski memiliki struktur yang mengintimidasi, Borealopelta markmitchelli sebenarnya adalah herbivora yang jauh lebih besar daripada mamalia terestrial modern dengan tinggi lima setengah meter dan bobot 1.300 kilogram.

"Predasi yang kuat pada dinosaurus berlapis baja besar menggambarkan betapa berbahayanya predator dinosaurus dari Periode Kapur," kata salah satu peneliti Caleb Brown dari Royal Tyrrell Museum di Kanada.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology, para peneliti menemukan petunjuk potensial tentang pewarnaan dinosaurus tersebut. Dengan menggunakan teknik spektrometri massa, para peneliti dapat mendeteksi pigmen pada skala dinosaurus.

Hasilnya, zat pheomelanin ditemukan di sebagian besar tubuh dinosaurus dan namun kurang di perutnya. Temuan ini menunjukkan bahwa Borealopelta markmitchelli mungkin memiliki punggung coklat kemerahan dengan warna bagian perut yang lebih terang.

Sementara banyak hewan memiliki pewarnaan dua nada ini untuk mengatur suhu tubuh, mungkin juga warnanya digunakan sebagai bentuk kamuflase yang disebut dengan istilah countershading. Sebuah bentuk umum dari kamuflase yang terlihat pada berbagai hewan saat ini, termasuk penguin dan rusa.

Melihat countershading pada megaherbivora kuno ini mengejutkan karena dinosaurus ini berukuran jauh lebih besar dari hewan dengan kemampuan countershading saat ini.

Terlepas dari penemuan yang menakjubkan, ilmuwan lain mempertanyakan apakah pigmen yang mengindikasikan pewarnaan dua nada itu memang bagian dari kimia dinosaurus, atau apakah itu hanyalah sisa-sisa film bakteri yang tumbuh untuk menutupi sisa-sisa dinosaurus yang mati.

Menurut Alison Moyer dari Drexel University, masih ada kendala dalam penarikan kesimpulan tentang hubungan predator-mangsa dengan temuan ini. Faktanya, penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa bahan kimia yang ditemukan pada fosil adalah komponen alami sedimen laut.

Meskipun ada perdebatan, tidak dapat dimungkiri bahwa penemuan fosil ini benar-benar merupakan hal yang luar biasa. Untungnya, fosil tersebut disimpan di museum di mana mereka dapat diakses untuk penelitian selanjutnya.

"Nodosaurus ini benar-benar luar biasa karena benar-benar tertutup kulit bersisik yang diawetkan, namun juga diawetkan dalam tiga dimensi, mempertahankan bentuk asli hewan tersebut," kata Brown.

"Ini akan turun dalam sejarah sains sebagai salah satu spesimen dinosaurus terindah dan terawetkan - Mona Lisa dari dinosaurus," lanjutnya.

Sekarang, tim mengamati lebih dekat isi perut nodosaurus untuk mendapatkan gagasan tentang apa yang dimakannya sebagai makanan terakhirnya sebelum hanyut ke kuburan samudra. Para peneliti juga berharap bisa mempelajari baju besi dinosaurus lebih dekat lagi.

"Anda tidak perlu menggunakan banyak imajinasi untuk merekonstruksinya, jika Anda hanya sedikit menyipitkan mata, Anda hampir bisa percaya bahwa ia sedang tidur," kata Brown.

Catatan redaksi: Berita ini diterbitkan kembali dengan koreksi usia fosil dinosaurus. Sebelumnya usia fosil itu tertulis 110 tahun, seharusnya 110 juta tahun. Mohon maaf atas kesalahan ini.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR