TEMUAN ARKEOLOGI

Fosil kadal berusia 240 juta tahun ditemukan di Alpen

Ilustrasi kadal.
Ilustrasi kadal. | Susalmages /Shutterstock

Sisa-sisa fosil kadal kecil yang ditemukan di bebatuan dari Pegunungan Alpen, Italia Utara, telah mengguncang pohon silsilah evolusioner dari reptil dan memberikan informasi baru tentang makhluk-makhluk yang selamat dari kepunahan massal paling merusak yang pernah dihadapi dunia.

Seperti dilansir The Guardian, Rabu (30/5/2018), hidup pada zaman Trias--sekitar 240 juta tahun yang lalu--makhluk yang dikenal dengan sebutan Megachirella wachtleri telah diresmikan sebagai anggota tertua dari kelompok reptil yang dikenal sebagai squamate.

Squamate adalah ordo reptil, terdiri dari kadal dan ular. Anggota ordo ini dibedakan dari kulit mereka. Ordo ini terbagi menjadi tiga subordo: lacertilia, serpentes, dan amphisbaenia.

Para peneliti mengatakan temuan itu mengungkapkan bahwa kelompok squamate muncul jauh lebih awal dari yang diduga sebelumnya dan selamat dari salah satu bencana terbesar di planet ini.

"Semua kadal dan ular adalah keturunan dari Megachirella," kata Dr Massimo Bernardi, salah satu penulis studi dari University of Bristol, Inggris. Ia menambahkan bahwa Megachirella mungkin berukuran 25-30 sentimeter mulai dari hidung hingga ke ujung ekornya.

Dalam laporan yang terbit di jurnal Nature, para peneliti mengungkap, awalnya mereka mengira Megachirella adalah bagian dari lepidosaur, sejenis reptil primitif.

Namun, setelah diamati lebih lanjut, peneliti akhirnya menyadari ada beberapa bagian dari Megachirella yang mirip kadal. Dari sinilah tim mendapat petunjuk berharga dan unik berkaitan dengan squamate.

Tim peneliti internasional menggambarkan bagaimana mereka menganalisis ulang fosil berusia 240 juta tahun dari makhluk yang pertama kali ditemukan di batu dari Dolomites pada awal tahun 2000 oleh seorang kolektor amatir.

Dari hasil analisis ulang, mereka menemukan kurang dari 6 sentimeter kerangka parsial yang terdiri dari bagian tengkoraknya, ditambah tulang rusuk, tulang belakang, dan anggota badan depan.

Tiago Simoes, seorang ahli biologi evolusi di Universitas Alberta, Kanada, mengatakan sisi kecil fosil yang tersembunyi itu juga layak dilihat dari dekat.

Masalahnya adalah mereka harus melakukannya tanpa merusak sisa-sisa yang berharga. Oleh karena itu, Simoes dan rekan-rekannya memindai Megachirella menggunakan teknik pencitraan 3-D non-invasif yang disebut micro-CT (computed tomography).

Mikro-CT menjadi lebih luas penggunannya dalam analisis fosil, kata Christy Hipsley, seorang paleontolog di Museum Melbourne dikutip ABC (31/5).

"Banyak fitur menarik [pada fosil] ada di bagian dalam, tetapi Anda tidak dapat melihatnya karena mereka tertanam di batu karang," lanjutnya.

Menggunakan teknik sinar-X yang dikenal sebagai CT-scanning, tim mampu memeriksa bagian dari fosil yang sebelumnya tersembunyi menggunakan fitur 3D. Ada dua bagian yang unik, yakni tempurung otak dan struktur tulang selangka.

"Dua unsur inilah yang menegaskan Megachirella sebagai squamate pertama yang hidup pada periode Trias," jelas Hipsley.

Selain itu, mereka juga menghabiskan sekitar 400 hari mengunjungi dan memeriksa sekitar 150 spesimen makhluk kadal kuno yang dikoleksi di seluruh dunia, juga menganalisis data skeletal dan molekuler--termasuk DNA--dari squamates yang hidup.

Hasilnya terungkap bahwa Megachirella adalah squamate. Megachirella resmi menggeser reptil berusia 75 tahun yang sebelumnya mendapat gelar sebagai reptil tertua.

"Hal ini layak mendapat perhatian lebih, terutama dalam pemindaian CT yang dapat merinci anatomi dengan lebih baik agar kita dapat memahami pohon evolusi reptil," kata Simões kepada Live Science (30/5).

Para peneliti juga mendapatkan petunjuk dari molekuler dan skeletal (sistem yang terdiri dari tulang rangka dan sendi), bahwa tokek dan beberapa jenis kadal seperti iguana, anoles, dan bunglon adalah keturunan squamate pertama di muka Bumi ini.

Bukti-bukti itu memberikan potongan dari teka-teki evolusi yang penting dan hasilnya benar-benar memuaskan. Chris Raxworthy, kurator dari Department of Herpetology di American Museum of Natural History, New York, mengatakan bukti fosil itu mendukung apa yang ditunjukkan oleh data molekuler tentang asal-usul squamate.

"Para ilmuwan selalu menyukainya ketika kita melihat berbagai jenis data yang muncul dengan jawaban yang sama," kata Raxworthy.

Bagaimanapun, menurut Simoes, kesenjangan besar tetap ada dalam rekaman fosil antara Megachirella yang hidup 240 juta tahun lalu dengan fosil squamates lain yang muncul 168 juta tahun lalu. Ini meninggalkan banyak hal yang harus diurai tentang keragaman ular dan kadal purba.

"Apa yang kami temukan adalah puncak dari gunung es, dan masih banyak pekerjaan lebih lanjut yang perlu dilakukan untuk memahami evolusi awal squamates," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR