Gara-gara klaim palsu, Apple rugi miliaran dolar di Tiongkok

Beberapa pelanggan sedang melihat iPhone 6, iPhone 6 Plus, dan iPhone SE di Apple Store Beijing, Tiongkok, pada 17 Juni 2016
Beberapa pelanggan sedang melihat iPhone 6, iPhone 6 Plus, dan iPhone SE di Apple Store Beijing, Tiongkok, pada 17 Juni 2016 | How Hwee Young /EPA

Lima tahun lalu, Apple terpaksa menutup sementara toko ritel satu-satunya di Shenzhen, Tiongkok, setelah dikepung oleh ratusan pelanggan yang menunggu untuk menukar iPhone rusak ke perangkat baru.

Pada Mei 2013, hanya dalam waktu seminggu, toko ritel Apple di Shenzhen membukukan lebih dari 2.000 klaim garansi. Angka ini jauh lebih tinggi melebihi toko ritel Apple lainnya di dunia sebagaimana dilansir The Information, Selasa (9/10/2018).

Laporan ini didasarkan pada wawancara dengan lebih dari selusin mantan karyawan Apple yang rela bersaksi tapi identitasnya disembunyikan.

Apple memang terkenal dengan pelayanan purna jual yang sangat menguntungkan para konsumen. Setiap iPhone yang mengalami kendala seperti rusak atau mendadak mati dan masih dalam garansi, Apple Store biasanya akan mencarikan solusi terbaik -- bahkan bisa memberikan produk baru secara gratis dan langsung.

Hingga 2013, Apple mengeluarkan dana 3,7 miliar dolar AS (Rp56,2 triliun) untuk garansi biaya perbaikan atau klaim garansi produk. Angka tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari anggaran yang disiapkan oleh Apple, 1,6 miliar dolar AS (Rp24,3 triliun).

Apple menyebut dapat memperkirakan berapa banyak retur palsu dengan menghitung jumlah unit pengganti Apple ID yang dimasukkan. Pengguna yang melakukan perbaikan iPhone bergaransi resmi biasanya menggunakan Apple ID lama mereka dan kemudian meminta unit pengganti.

Namun, setelah mengumpulkan data lebih lanjut, seperti dinukil Economic Times (10/10), tercatat bahwa 60 persen kasus klaim perangkat iPhone di Tiongkok dan Hong Kong pada 2013 adalah aksi penipuan. Apple pun harus mencari cara untuk menghentikan kebocoran tersebut.

Sindikat penipuan klaim tersebut menggunakan teknik yang tidak terlalu rumit, yakni mereka membeli atau mencuri iPhone bekas untuk dipreteli dan mengambil suku cadang yang berharga mahal. Bisa logicboard, CPU, atau lainnya.

Setelah itu suku cadang tersebut ditukar dengan suku cadang imitasi atau dibiarkan hilang. Mereka bekerjasama dengan sejumlah orang lainnya untuk membawa produk iPhone yang sudah rusak ini ke Apple Store guna melakukan klaim ke Apple.

Hasilnya? Bisa diduga, Apple mengganti iPhone tersebut dengan produk baru. Nasib produk tersebut adalah kembali dibongkar dan dijual sebagai suku cadang.

"Pada zaman dulu, ini seperti car chop shop. Anda bisa mengambil semua potongan dan menjualnya," kata Kyle Wiens, co-founder dan CEO iFixit pada Macrumors (9/10). "Sekarang mereka melakukan itu dengan iPhone," tambahnya.

Karena kasus tersebut, Apple secara bertahap memperketat aturan untuk memperkecil ruang penipuan.

Perusahaan berlogo buah apel itu kemudian meluncurkan sistem reservasi daring yang memerlukan bukti kepemilikan dan kemudian mengembangkan perangkat lunak diagnostik yang memungkinkan karyawan ritel cepat mendeteksi bagian palsu di iPhone.

Akan tetapi, para penipu pun tetap bisa mengakali metode ini. Biasanya, saat pengguna hendak mengklaim garansinya, Apple memaksa unit iPhone yang ingin diperbaiki untuk dibawa dan menjalani rangkaian tes diagnostik. Tes ini bakal mengungkap komponen yang dipakai pada perangkat tersebut asli atau palsu.

Lantas para penipu berhasil melewati rangkaian tes diagnostik ini dengan mencegah iPhone untuk menyala. Bahkan para penipu berusaha mengambil data pelanggan Apple berupa nomor seri produk yang sudah dijual.

Dengan cara tersebut, mereka membuat iPhone lain dengan nomor seri ini dan melakukan klaim. Padahal bisa saja garansi produk tersebut sudah kedaluwarsa.

Langkah terakhir yang dilakukan Apple adalah mengharuskan semua penggantian perangkat iPhone dalam masa garansi dikirim ke pusat perbaikan khusus. Tujuannya adalah mengecek semua hal secara lebih lengkap dan teliti hingga tidak ada penipuan klaim lagi.

Bahkan menurut Apple Insider (9/10), Apple juga menggunakan teknologi cat tidak terlihat pada baterai, melapisi CPU dengan coating tahan air khusus, dan beberapa hal khusus lainnya.

Dengan metode terakhir, kasus penipuan pun mengalami penurunan di dua wilayah termaksud. Dari yang sebelumnya 60 persen menjadi sekitar 20 persen.

BACA JUGA