FENOMENA ALAM

Peneliti ungkap mengapa beo bisa berumur panjang

Burung beo Blue-fronted Amazon
Burung beo Blue-fronted Amazon | Pixabay

Burung beo adalah burung cerdas yang mampu melakukan kognisi kompleks. Ternyata gen yang berperan dalam perkembangan otak mereka mirip dengan gen yang berevolusi untuk memberi manusia otak berukuran besar.

Secara umum, masa hidup burung cenderung berkorelasi dengan ukurannya. Burung kenari misalnya, biasanya memiliki berat sekitar 20 gram dan hidup sampai sekitar 10 tahun, sedangkan elang bondol berbobot hingga 6 kg dan hidup hingga 28 tahun di alam liar.

Namun, burung beo, memiliki pengecualian dengan hidup lebih lama sekitar 80 tahun, meskipun bertubuh relatif kecil—bobot rata-ratanya antara 60 sampai 100 gram.

Burung beo Blue-fronted Amazon (Amazona aestiva) tidak hanya cerdas tetapi bisa hidup hingga 66 tahun, lebih lama dari burung berukuran serupa. Jika dibandingkan dengan umur manusia setingkat dengan umur dengan ratusan tahun.

Gen yang terkait dengan umur panjang termasuk telomerase, yang bertanggung jawab untuk perbaikan DNA telomer (ujung kromosom), yang diketahui memendek seiring bertambahnya usia.

Itulah sebabnya spesies ini adalah subjek penelitian yang sempurna bagi Claudio Mello, seorang ahli saraf di Oregon Health and Science University, Amerika Serikat.

Ia menerbitkan sebuah makalah baru-baru ini berjudul "Parrot Genomes and the Evolution of Heightened Longevity and Cognition”.

“Mengejutkan dalam arti bahwa hewan-hewan ini sangat berbeda dari manusia, tetapi juga memuaskan karena Anda dapat membuat perkiraan. Sebab, mereka mengembangkan sifat yang sama, mereka memiliki beberapa mekanisme yang serupa,” kata Mello.

Burung beo, menurut dia, juga dapat menghasilkan vokalisasi yang kompleks dan sangat sosial, mirip manusia.

Penelitian terbaru Mello mengenai beo yang dipublikasikan jurnal Current Biology mengungkapkan, gen yang tampaknya berkorelasi dengan rentang hidup yang sangat lama dan perkembangan otak spesies tersebut.

Untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana otak burung-burung ini berkembang, Mello dan timnya melakukan beberapa teknik mutakhir. Melibatkan aksi memecah-mecah kromosom beo, mengurutkan potongan-potongannya, dan kemudian menggunakan komputer untuk merakit kembali dengan benar.

Proses mutakhir ini dikenal sebagai perakitan genom dan telah menciptakan peningkatan besar dalam data urutan berkualitas tinggi bersama dengan penurunan waktu serta biaya, dibandingkan dengan teknologi perunutan sebelumnya.

Tim penelitian membandingkan genom burung beo Blue-fronted Amazon dengan 30 burung lainnya. Burung lain itu memiliki rentang hidup pendek dan panjang, termasuk empat spesies burung beo tambahan.

Tim peneliti menemukan bahwa daerah genom beo yang mengatur kapan dan bagaimana gen berkembang di otak dihidupkan sama dengan yang ditemukan pada manusia. Elemen-elemen berevolusi pada kedua spesies ini dalam waktu yang berbeda, tetapi dengan hasil yang sama.

"Hal ini menentukan bagaimana otak tumbuh dan berapa banyak sel dibangun," kata Mello. “Manusia berakhir dengan otak yang lebih besar, lebih banyak sel otak, dan lebih banyak sifat kognitif--termasuk bahasa--daripada primata. Burung beo memiliki otak yang lebih besar daripada burung lain dan punya keterampilan komunikasi lebih baik. Selain itu, juga memiliki unsur-unsur serupa yang membedakan mereka."

Mello mengatakan bahwa ketika daerah pengatur genom ini terganggu pada manusia, mengakibatkan cacat kognitif seperti autisme, keterlambatan perkembangan, dan kesulitan berbahasa.

Tim juga menemukan 344 gen yang terkait dengan umur beo. Gen yang ditemukan Mello dan timnya tersebut terkait dengan dukungan perbaikan kerusakan DNA, memperlambat kematian sel karena stres, dan membatasi pertumbuhan berlebih sel dan kanker.

Sebelumnya, sebagian kecil dari gen telah diidentifikasi sebagai yang memengaruhi penuaan pada lalat buah (Drosophila melanogaster) dan cacing Caenorhabditis elegans seperti dikutip dari Forbes (21/12).

Keduanya merupakan organisme untuk penelitian laboratorium yang umum. Sebuah temuan yang menyoroti keuniversalan pengaruh genetik terhadap penuaan pada semua hewan, tidak hanya pada burung beo dan burung berumur panjang lain. Sekaligus berfungsi sebagai validasi internal yang penting untuk penelitian baru ini.

"Kami juga menemukan beberapa ratus gen yang belum diketahui terlibat dalam urusan masa hidup sebelumnya, merupakan kandidat yang baik untuk dipelajari lebih lanjut," kata Mello.

Ia dan rekan penulis lain mengidentifikasi beberapa lusin gen spesifik beo yang mungkin penting untuk ciri khas mereka, seperti kemampuan untuk meniru suara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR