APLIKASI DIGITAL

Google mulai tes fitur AR di Google Maps

Tangkapan layar Google Maps AR
Tangkapan layar Google Maps AR | Google Developers /YouTube

Pada konferensi pengembang Google I/O 2018 lalu, Google memamerkan fitur realitas tertambah (augmented reality/AR) untuk aplikasi peta virtualnya, yakni Google Maps. Kini, menurut The Verge (10/2/2019), fitur tersebut mulai dirilis namun baru sebatas beta tester.

Fitur itu nantinya akan mengakses kamera belakang ponsel dan memberikan arah kepada pengguna dari kamera ponsel secara real-time. Seorang editor dari The Wall Street Journal, David Pierce berkesempatan untuk mencoba versi awal dari fitur tersebut. Ia pun menjelaskan bagaimana fitur ini bekerja.

Pengguna hanya perlu menentukan tempat tujuan, lalu tekan tombol "Start AR".

Setelah menekan tombol, aplikasi akan beralih ke tampilan real-time yang selanjutnya meminta pengguna memindahkan kamera untuk mengunci posisinya. Setelah Google Maps tahu persis di mana pengguna berada, aplikasi mencocokkan tampilan dari kamera ke informasi Street View yang disimpan di peladen (server) Google.

Secara umum cara kerja AR di navigasi Google Maps ini hampir sama dengan navigasi yang biasa dipakai yaitu sebagai alat penunjuk arah jalan. Namun perbedaan dari keduanya adalah pengguna dapat secara real-time mengikuti anak panah dengan memanfaatkan kamera yang menyorot ke tempat sekitar pengguna.

Arah anak panah tersebut akan muncul di layar dan menunjukkan ke arah mana yang akan dituju. "Seolah-olah peta ini menarik arahku ke dunia nyata, meski tak ada orang lain yang bisa melihatnya," kata Pierce.

Secara sederhana Anda akan berada di suatu kondisi layaknya di dalam gim open world saat berada dalam suatu misi maka untuk menuju ke lokasi tujuan arah panah akan muncul di sepanjang jalan yang dilewati selama bermain gim.

Meski begitu, ada saat-saat di mana aplikasi akan kembali ke tampilan awal, layaknya pengarahan pada peta biasa. Hal tersebut dimaksudkan Google agar pengguna tidak terus-menerus menatap layar.

Pada Forbes (10/2), Pierce mencatat bahwa navigasi AR paling cocok digunakan untuk jangka pendek. Google Maps akan mengingatkan pengguna untuk mematikan ponsel. Jika pengguna tidak mengindahkan saran itu, layar secara otomatis menjadi gelap guna mencegah baterai dan data terkuras.

Pimpinan Desain UX untuk Google Maps, Rachel Inman mengatakan bahwa fitur AR ini tidak untuk digunakan saat mengemudi. Inman menambahkan bahwa navigasi Google Maps AR akan mati ketika gawai diletakkan, demi faktor keselamatan.

Hal tersebut dilakukan lantaran Google telah bereksperimen dengan antarmuka pengguna. Hasilnya, mereka menemukan bahwa pengguna mengikuti panduan animasi yang membuat mereka terpaku pada layar terus-menerus.

Inman menjelaskan mungkin perlu waktu sebelum Google merilis fitur navigasi AR-nya untuk publik. Namun, pada saatnya dirilis, mereka yang membutuhkan Google Maps untuk petunjuk arah akan berjalan seperti memasuki dunia baru di mana mereka dapat diberikan informasi tentang tempat-tempat yang mereka tuju.

Tentunya ada alasan tersendiri mengapa Google baru merilisnya untuk beta tester dan khusus pada para pemandu tur lokal (local tour guides). Mereka akan secara produktif memberikan ulasan, menambahkan foto, dan memperbarui informasi di peta.

Nantinya, mereka yang bepergian dengan berjalan kaki di negara asing juga dapat menggunakan fitur navigasi AR bersama dengan Google Translate untuk membaca tanda-tanda dalam bahasa utama mereka.

Perusahaan lain seperti Apple, Facebook, Google, North, Vuzix, dan lainnya semuanya telah mengerjakan, atau menjual kacamata AR mereka sendiri, yang berarti bahwa fitur baru Google pada akhirnya dapat masuk ke jalur pandang Anda.

Tiga pekan lalu, Google Maps juga telah gulirkan fitur cek batas kecepatan kendaraan yang bisa menunjukkan batas kecepatan Anda. Fitur tersebut sudah tersedia untuk semua pengguna perangkat Android dan iOS.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR