TEMUAN ARKEOLOGI

Gua di Kaltim menyimpan sketsa hewan tertua di dunia

Sketsa tertua di dunia serupa gambar banteng di  gua di Kalimantan Timur.
Sketsa tertua di dunia serupa gambar banteng di gua di Kalimantan Timur. | Luc-Henri Fage

Warisan seni kemanusiaan baru saja mencapai tonggak sejarah baru. Tim arkeolog berhasil mengidentifikasi sketsa figur tertua di dunia. Sketsa yang menampilkan rupa seperti banteng itu ditemukan di gua Lubang Jeriji Saleh, Sangkuriang-Mangkalihat, Kalimantan Timur (Kaltim).

Diwartakan Science Alert, Rabu (7/11/2018), gua-gua di Kalimantan sudah diketahui menyimpan banyak sketsa. Sejumlah sketsa diperkirakan berusia minimal 10 ribu tahun.

Namun, sketsa serupa banteng itu diperkirakan berusia 40.000 hingga 52.000 tahun atau berasal dari zaman Upper Palaeonlithic dan zaman es akhir. Jadi, sketsa tersebut berumur 5.000 tahun lebih tua dari sketsa yang ditemukan di gua di Sulawesi.

Seperti bisa dilihat, temuan sketsa terbaru menggambarkan binatang liar dan stensil tangan yang ditinggalkan oleh orang dewasa dan anak-anak.

"Ini adalah sketsa figur tertua tertua di dunia di dalam gua," kata Maxime Aubert, seorang arkeolog dan geokimiawan dari Griffith University di Queensland, Australia. “Sungguh menakjubkan melihatnya. Ini adalah jendela ke masa lalu," ujarnya dikutip The Guardian, Rabu (7/11).

Sketsa hewan dengan warna oranye kemerahan itu digambarkan sebagai ternak banteng Borneo. Kemungkinan lain adalah hewan yang telah punah.

Yang jelas, tradisi seni cadas yang kaya di Kalimantan pada masa yang sudah disebut di atas bertepatan dengan masa awal seni dalam gua di Eropa. Kebetulan, benua biru sejak lama dikenal sebagai pusat perkembangan sketsa di dalam gua.

Namun, dengan bukti penemuan terbaru, Kalimantan berarti punya peran penting pula dalam pengembangan sketsa gua yang kerap dikenal sebagai gambar cadas.

Sejak era 1990-an, gua-gua di Kaltim diketahui memiliki ribuan gambar. Coraknya mulai dari penggambaran primitif hewan dan manusia hingga tangan manusia dengan motif-motif yang rumit. Gambar-gambar inilah yang diduga berumur 10 ribu tahun.

Aubert pun langsung bergerak untuk memastikan jejak seni prasejarah itu. Selain menguji sketsa ternak yang menyerupai banteng, Aubert juga memeriksa segudang stensil tangan yang tersebar di seluruh gua.

Sketsa mirip banteng itu sebenarnya sulit diidentifikasi. Aubert dan rekan-rekannya menduga binatang itu adalah spesies sapi liar yang dulu berkeliaran di hutan hujan Kalimantan.

"Kami memperkirakan usia minimumnya sekitar 40.000 tahun dan saat ini menjadi karya seni figuratif tertua yang diketahui," jelas Aubert yang juga turut menganalisis usia lukisan gua di Sulawesi dalam pernyataan resminya.

Menggambar binatang mungkin merupakan pintu gerbang untuk mengilustrasikan aspek-aspek lain dari pengalaman manusia, termasuk berburu dan menari. "Pada awalnya, manusia membuat sketsa figuratif binatang besar dan mereka kemudian mulai menggambarkan dunia manusia," kata Aubert kepada Live Science, Rabu (7/11).

Menurutnya, karya seni tertua bukan hanya sketsa di gua. Ada juga karya seni pahat tertua berupa patung Lowenmensch dari Jerman. Patung berbentuk manusia ini berusia sekitar 35.000 sampai 40.000 tahun.

"Siapa seniman zaman es di Kalimantan dan apa yang terjadi pada mereka adalah sebuah misteri," kata anggota ekspedisi Dr Pindi Setiawan, seorang arkeolog dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pindi pun terus mempelajari seni lukis prasejarah bersama ahli seni batu ARKENAS, Adhi Agus Oktaviana, dalam ekspedisi ke gua di Kalimantan.

Cara mengetahui usia sketsa

Saat sketsa itu ditemukan, ia mendapati beberapa bagian gambar banteng tertutup lapisan kalsit. Lapisan kalsit itu kemudian diuji dengan teknik yang disebut penanggalan uranium-thorium.

"Air hujan merembes melalui batu kapur dan melarutkan sejumlah kecil uranium. Uranium bersifat radioaktif dan seiring berjalannya waktu membusuk menjadi elemen torium. Tingkat pembusukan bisa diketahui dengan tepat," ujar Aubert.

"Kuncinya adalah uranium bisa larut di air tapi torium tidak. Jadi ketika kalsit membentuk lapisan dari air hujan dan menutupi lukisan, awalnya itu mengandung uranium tetapi tidak ada torium.

Jika kita mengambil sampel (dari) ribuan tahun kemudian dan mengukur rasio uranium versus torium, kita dapat menghitung usia lapisan," jelasnya.

Dalam laporan yang terbit di jurnal Nature ini, Aubert mencatat cap tangan yang terbuat dari pigmen berwarna merah sama tuanya dengan sketsa serupa banteng. Salah satu cap tangan usia berusia maksimal 51.800 tahun dan dua lainnya berusia minimal 37.200 tahun.

Lukisan cap tangan
Lukisan cap tangan | Kinez Riza

Cap tangan lain dengan pigmen warna murbei gelap usianya jauh lebih muda, sekitar 20.000 tahun sampai 21.000 tahun. Aubert memprediksi, sekitar tahun itu manusia baru mengenal karya seni lain. Hal ini dibuktikan dengan gambaran tongkat manusia, perahu, dan bentuk geometris yang diwarnai dengan pigmen hitam.

Selain sketsa banteng, tim juga menemukan rangkaian gambar lain yang dibuat menggunakan pigmen ungu tua -- termasuk tokoh manusia yang sedang memegang tongkat. Menurut Independent, Kamis (8/11), tokoh tersebut adalah Datu Saman.

Penemuan itu semakin menegaskan pandangan bahwa sketsa atau seni gua tidak berasal dari Eropa saja -- seperti keyakinan selama ini. Ini menandakan salah satu inovasi penting dalam sejarah kebudayaan manusia pada Zaman Es di Indonesia.

Penemuan-penemuan ini memberikan gambaran bahwa cerita mengenai asal-usul sketsa dalam gua adalah suatu hal yang kompleks.

BACA JUGA