Gunung Agung dan Gunung Batur ternyata terhubung

Pemandangan Gunung Agung dari jendela pesawat. Gunung Agung adalah salah satu dari dua gunung berapi aktif di Bali.
Pemandangan Gunung Agung dari jendela pesawat. Gunung Agung adalah salah satu dari dua gunung berapi aktif di Bali. | Putu Artana /Shutterstock

Gambar-gambar satelit mengungkapkan sistem pipa vulkanik Gunung Agung, Bali mungkin terhubung dengan Gunung Batur yang terpaut jarak 18 km.

Setelah tidak aktif selama 50 tahun, gunung berapi Agung di Bali meletus pada tahun 2017. Sebuah studi baru telah memberikan penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi.

Para peneliti dari University of Bristol di Inggris, memantau aktivitas gunung berapi dan seismik di dalam dan sekitar area untuk memahami apa yang menyebabkan kaldera mulai hidup setelah masa dormansi yang lama.

Citra satelit dari satelit Sentinel-1 Badan Antariksa Eropa (ESA) adalah bagian penting dari penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications ini. Hasilnya tidak hanya membantu menjelaskan letusan Gunung Agung yang tak menentu tetapi juga bisa membantu meramalkan letusan gunung berapi di Bali pada masa yang akan datang.

Masyarakat lokal meyakini bahwa Gunung Batur adalah "ibu" dari Gunung Agung yang adalah anak laki-lakinya.

Letusan terakhir Gunung Agung, yang menjadi salah satu letusan paling mematikan di abad ke-20, terjadi pada tahun 1963. Hampir 2.000 orang terbunuh olehnya. Letusan Gunung Agung diikuti oleh letusan gunung berapi Batur yang berada di dekatnya.

Lalu letusan tahun 2017 diawali dengan lonjakan aktivitas seismik yang tiba-tiba, dan sejumlah gempa kecil di dekat Gunung Agung memicu evakuasi massal melibatkan lebih dari 100 ribu orang.

Para peneliti Bristol dapat mempelajari aktivitas gunung berapi dan seismik sebelum letusan dengan meninjau citra satelit yang disediakan oleh ESA. Para peneliti berfokus pada deformasi tanah di dekat gunung berapi yang dapat menjelaskan letusannya.

Setelah menganalisis citra satelit, para peneliti memperhatikan sisi utara gunung berapi naik sekitar delapan hingga sepuluh sentimeter selama peristiwa puncak seismik.

"Dari pengindraan jarak jauh, kami dapat memetakan gerakan tanah apa pun, yang mungkin merupakan indikator bahwa magma segar bergerak di bawah gunung berapi," kata Juliet Biggs, pemimpin penelitian.

Bagian penting dari penelitian ini adalah penemuan bahwa Gunung Agung dan Batur mungkin dihubungkan oleh sistem magma bawah tanah. Ini dapat menjelaskan mengapa letusan terjadi begitu dekat satu sama lain.

Fabien Albino, dari School of Earth Sciences, University of Bristol, penulis utama makalah itu, mengatakan, “Anehnya, kami memperhatikan aktivitas gempa bumi dan sinyal deformasi tanah terletak lima kilometer jauhnya dari puncak, artinya magma pasti bergerak ke samping dan ke atas secara vertikal.”

"Studi kami memberikan bukti geofisika pertama bahwa gunung berapi Agung dan Batur mungkin memiliki sistem pipa yang terhubung."

Deformasi tanah merupakan salah satu dari empat indikator yang dapat digunakan dalam mengetahui aktivitas vulkanik.

Perubahan pada permukaan tanah gunung berapi (deformasi gunung berapi) muncul sebagai pembengkakan, tenggelam, atau keretakan, yang dapat disebabkan oleh magma, gas, atau cairan lain (biasanya air) yang bergerak di bawah tanah atau oleh gerakan di kerak bumi akibat gerakan sepanjang garis patahan.

Menurut Eric Dunham, seorang rekan profesor di Standford University, Amerika Serikat, "Gunung berapi sangat rumit dan saat ini tidak ada cara yang dapat diterapkan secara universal untuk memprediksi erupsi. Kemungkinan besar, tidak akan pernah ada."

Ia menyarankan, infrasonik vulkanik (nada atau frekuensi suara yang dihasilkan oleh magma) bisa menjadi indikator.

Indikator lainnya adalah medan magnet (Batuan yang ditemukan di sekitar gunung berapi ada mengandung logam yang bersifat magnetis, yang juga berarti mereka mengeluarkan medan magnet), aktivitas seismik (bentuk gempa kecil dan tremor), dan emisi gas (meningkatnya jumlah gas sulfur dioksida).

Menurut Albino, teknik sama dengan yang digunakan untuk mempelajari Gunung Agung dapat digunakan untuk memahami sistem vulkanik di seluruh dunia.

Ia mengatakan karena gambar radar satelit Sentinel-1 tersedia secara bebas di seluruh dunia, kita sebenarnya dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk menganalisis ketidakstabilan vulkanik di stratovolkano (gunung berapi kerucut) aktif lainnya dan membandingkannya dengan kasus Gunung Agung.

"Untuk studi selanjutnya, kami ingin menyelidiki apakah ada pasangan gunung berapi lain dengan sistem magmatik yang terhubung."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR