KONSERVASI SATWA

Hilang selama 38 tahun, lebah raksasa ditemukan di Maluku Utara

Perbandingan lebah reguler (atas) dengan lebah raksasa Wallace (Megachile pluto).
Perbandingan lebah reguler (atas) dengan lebah raksasa Wallace (Megachile pluto). | Clay Bolt /University of Sydney

Spesies lebah terbesar di dunia yang "menghilang" sejak tahun 1981 berhasil ditemukan lagi di Indonesia. Lebah itu ditemukan oleh sekelompok tim konservasi dan ilmuwan internasional di Kepulauan Maluku Utara pada Januari lalu.

Lebah terbesar langka itu memiliki nama ilmiah Megachile pluto atau dikenal sebagai lebah raksasa Wallace. Nama tersebut diambil dari seorang naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, yang merumuskan teori evolusi melalui seleksi alam sebelum teori Charles Darwin.

Tim mendeteksi seekor lebah betina yang sedang menyendiri setelah melakukan penyelidikan di wilayah tersebut selama lima hari. Seorang fotografer, Clay Bolt, berhasil menangkap gambar pertama lebah langka itu di sebuah sarang rayap di pohon.

Ilmuwan menyebutkan bahwa itu adalah lokasi favorit lebah raksasa.

Clay Bolt berhasil menangkap gambar pertama lebah raksasa langka itu saat menemukan sarang rayap di pohon.
Clay Bolt berhasil menangkap gambar pertama lebah raksasa langka itu saat menemukan sarang rayap di pohon. | Clay Bolt /University of Sydney

"Sangat menakjubkan melihat 'bulldog terbang' itu yang selama ini dianggap sudah punah" kata Bolt dalam siaran persn yang dirilis oleh Universitas Sydney, Australia, Jumat (22/2/2019).

"Saya berharap lebah ini akan menjadi simbol konservasi di Indonesia," lanjut Bolt yang ahli dalam memotret lebah.

Panjang lebah ini sebesar ibu jari orang dewasa atau berukuran sekitar 3,5 sentimeter dan lebar sayap 6,4 sentimeter. Rahangnya seperti kumbang rusa. Ukuran tubuhnya empat kali lebih besar dari lebah madu dan berwarna gelap. sehingga keberadaannya tidak terlalu mencolok.

Sebelum berangkat ke Indonesia, Bolt sudah memasukkan Wallace ke daftar 25 spesies paling dicari di Global Wildlife Conservation's Search for Lost Species. Program ini berusaha mendanai ekspedisi untuk menemukan spesies yang hilang.

Robin Moore, seorang ahli biologi konservasi dari Global Wildlife Conservation, mengatakan penemuan ini punya risiko. "Mengabarkan penemuan ini sebenarnya berisiko karena para kolektor lebah bakal tertarik," katanya dalam The Guardian.

Kolektor memang menjadi salah satu ancaman kepunahan serangga seperti lebah. Tahun lalu, menurut New York Times (22/2), seseorang tak dikenal menjual seekor spesies lebah melalui situs eBay seharga $9.100 AS (Rp128 juta).

"Jika Anda bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk seekor serangga, Anda bisa memaksa orang untuk mencarinya," kata Simon Robson, anggota tim dan profesor di Universitas Sydney.

Itu sebabnya, para peneliti sepakat tidak mengungkapkan lokasi pulau penemuan Wallace. Mereka ingin melindungi konservasi lebah langka tersebut.

Moore mengatakan sangat penting bagi para pemerhati lingkungan untuk membuat pemerintah Indonesia sadar pada lebah dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi spesies serta habitatnya.

"Dengan menjadikan lebah sebagai garis depan konservasi, kami yakin bahwa spesies ini memiliki masa depan yang lebih cerah daripada jika kita membiarkannya diam-diam dikumpulkan dan menjadi terlupakan," katanya.

"Di tengah kepunahan serangga global, sungguh mengagumkan melihat lebah ikonik ini bisa bertahan," imbuh Robson.

Menurut Robson, penemuan ini membangkitkan kembali harapan bahwa hutan lebah di kawasan tersebut menjadi rumah bagi spesies yang sangat langka ini.

Lebah Wallace memang bukan tipe yang suka menampakkan diri di depan manusia. Buktinya saja, lebah ini pertama kali ditemukan pada 1858 oleh Alfred Russel Wallace dan baru terlihat lagi pada 1981 di Indonesia oleh ahli entomologi, Adam Messer.

Karena lama tak terlihat, para ilmuwan menyatakan punah. "Lebah ini dianggap sudah punah. Saya senang mendengar ada yang menemukannya dan (kepunahan) itu tidak terjadi,” ujar Profesor Dave Goulson yang mengepalai laboratorium lebah di Universitas Sussex, Inggris.

Eli Wyman, ahli entomologi di Universitas Princeton, yang turut bergabung dengan tim penemu menyatakan penemuan ini bisa menjadi landasan untuk mencari lebah yang sulit ditemukan.

Wyman pun berharap agar penemuan ini dapat memicu penelitian selanjutnya. Sejarah kehidupan lebah tersebut juga dapat memberikan informasi dalam usaha melindunginya dari kepunahan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR