KEKAYAAN INTELEKTUAL

Huawei diduga mencuri kekayaan intelektual, FBI bergerak

Logo perusahaan Tiongkok, Huawei Technologies Inc, di Taipei, Taiwan, 18 January 2019.
Logo perusahaan Tiongkok, Huawei Technologies Inc, di Taipei, Taiwan, 18 January 2019. | David Chang /EPA-EFE

Sebagai salah satu produsen gawai terbesar di dunia, Huawei, tengah dirundung sejumlah. Setelah Chief Financial Officer, Meng Wangzhou, ditangkap akibat kasus konspirasi di Kanada, Huawei tersandung urusan hukum lainnya.

Seperti dilansir Bloomberg, Selasa (5/2/2019), perusahaan gawai asal Tiongkok itu diduga terlibat kasus pencurian kekayaan intelektual. Bahkan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (AS), FBI, melakukan aksi penyadapan terhadap perwakilan Huawei dalam ajang Consumer Electronics Show (CES) 2019 di Las Vegas, Nevada, AS, pada Januari 2019.

Penyadapan tersebut terkait kerja sama Huawei dengan perusahaan rintisan (startup) asal Illinois, AS, Arkhan Semiconductor. Arkhan memproduksi layar purwarupa Miraj Diamond Glass yang diklaim tidak bisa dihancurkan pada 2016.

Menurut perusahaan yang didirikan oleh Adam Khan itu, teknologi kaca pengembangannya enam kali lebih kuat dan 10 kali lebih keras daripada Gorilla Glass berkat lapisan tipis berlian sintetis di satu sisi. Gorilla Glass adalah lapisan layar yang lazim digunakan ponsel dewasa ini.

"Lebih ringan, lebih tipis, lebih cepat, dan lebih kuat," kata Khan. Miraj pun dibawa untuk pengembangan desain ke tingkat mendasar selanjutnya.

Teknologi tersebut pun tak luput dari perhatian Huawei. Pada Februari 2017, Arkhan mengirimkan sampelnya ke perusahaan teknologi berlogo kipas merah itu dalam bangunan kerja sama.

Sampel itu tampak seperti potongan kaca biasa berukuran 4 inci persegi dan transparan di kedua sisinya. Sampel tersebut juga ditempatkan di atas kertas lilin, sementara pada bagian bawahnya disediakan nampan yang dilapisi dengan gel silikon, tertutup dalam wadah plastik yang dikelilingi oleh kantung udara, dan disegel dalam kotak kardus.

Ilustrasi Miraj Diamond Glass
Ilustrasi Miraj Diamond Glass | Akhan

Kedua perusahaan telah membicarakan kerja sama tersebut sejak 2016. Akhan mengirim sampel Miraj ke fasilitas pengujian Huawei di San Diego, AS, dan memberi batas waktu hingga 60 hari untuk mengembalikannya.

Namun, hingga tenggat waktu, Huawei tak kunjung mengembalikan. Meski mulai khawatir, Khan sebagai CEO dan Carl Shurboff sebagai COO tetap mengirim sampel lagi pada 26 Maret 2018.

Namun setelah lima bulan tetap diabaikan, Arkhan pun melapor ke FBI. Apalagi sampel yang dikembalikan Huawei kemudian rusak pada sejumlah bagian. Layar pecah dan beberapa pecahan sampel hilang.

Kepada FBI, Khan curiga bahwa Huawei berusaha mencuri kekayaan intelektualnya dan meminta agar masalah ini diusut. Meski begitu Khan masih menduga pula bahwa ini mungkin disebabkan oleh kelalaian atau pengujian yang terlalu bersemangat.

FBI pun menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menginvestigasi kasus ini. Seorang ahli gemologi forensik FBI juga menganalisis layar tersebut dan menyimpulkan bahwa Huawei kemungkinan menembak layar tersebut dengan laser 100 kilowatt hingga patah (h/t Extreme Tech).

FBI pun langsung menindaklanjuti lebih dalam. Khan dan Shurboff diminta menghadiri CES 2019 dengan kedok aktivitas bisnis seperti lazimnya.

Khan dan Shurboff pun mengenakan mikrofon untuk merekam pembicaraan dengan Huawei. Namun, Huawei tetap mengelak telah melanggar hukum ekspor AS dan juga tidak menjelaskan bagaimana layar tersebut bisa rusak.

Huawei mengaku pengiriman kaca berlapis berlian itu sudah mengikuti aturan ITAR (International Traffic in Arms Regulations). Namun ada dugaan Huawei membawa keluar sampel tersebut dari AS dan artinya mereka melanggar hukum ekspor produk berlian.

FBI kemudian menggerebek pula fasilitas Huawei di San Diego pada 28 Januari. Tetapi hingga saat ini, Akhan belum mendapatkan informasi lebih lanjut dan detail.

Dalam penyataan resminya yang dilansir Business Wire (4/2), Akhan mengatakan mereka menganggap serius setiap tindakan yang melanggar hukum. Pencurian aset Akhan apa pun tidak akan ditoleransi.

Akhan akan terus bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan berupaya mencapai penyelesaian yang bijaksana untuk masalah ini. Selain itu, Akhan juga sedang mempertimbangkan semua upaya hukum yang tersedia dan akan bekerja dengan pihak-pihak yang terlibat.

Akhan berkomitmen untuk bertindak dengan integritas dan menjalankan bisnisnya dengan cara yang aman, etis, dan legal.

Dalam kasus terpisah, Jaksa Penuntut Umum di Seattle juga menuduh Huawei dengan pencurian rahasia dagang, konspirasi, dan menghalangi keadilan.

Mereka menuduh salah satu karyawan Huawei mencuri bagian robot yang dikenal sebagai Tappy di fasilitas T-Mobile US Inc, di Bellevue, Wash. Pekerjaan Tappy adalah menguji perangkat sebelum gawai dijual ke pasar.

"Tuduhan-tuduhan ini menelanjangi dugaan Huawei yang mengabaikan hukum negara kita dan standar praktik bisnis global," kata Christopher Wray, direktur FBI, dalam siaran pers yang menyertai dakwaan pada 28 Januari.

Sejauh ini, Huawei hanya membantah segala tuduhan itu. Tak ada detail pernyataan lain.

Di sisi lain, dlaporkan BGR (5/2), pada Minggu lalu, Departemen Kehakiman AS secara resmi mengajukan 23 tuntutan kriminal terhadap Huawei Technologies, Meng, dan beberapa anak perusahaan Huawei.

Tuntutan tersebut antara lain Huawei mengakali kepemilikan sebuah anak perusahaan yang berbasis di Hong Kong untuk melakukan transaksi perdagangan ilegal dengan Iran. Sedangkan Meng dituduh terlibat dengan melakukan presentasi pada sebuah bank dan berulangkali berbohong soal relasi antara Huawei dengan Skycom.

Meng saat ini berstatus tahanan rumah di Vancouver, Kanada, dengan jaminan AS $10 juta. Jika Kanada menganggap ada cukup bukti soal kesalahannya, ia akan diekstradisi ke AS.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR