PERUBAHAN IKLIM

Iklim di Sahara berganti setiap 20.000 tahun

Gurun Sahara yang tandus
Gurun Sahara yang tandus | Pixabay

Sebuah studi yang dirilis baru-baru ini mengungkap iklim gurun Sahara dan Afrika Utara secara umum tidak melulu kering, tapi berganti setiap 20 ribu tahun. Studi ini dipublikasikan di Science Advances.

Gurun Sahara dikenal sebagai salah satu daerah terpanas, terkering, dan paling terpencil di dunia. Wilayah ini mencakup sekitar sembilan juta kilometer persegi kawasan Afrika Utara.

Lukisan dan fosil batuan primitif yang digali dari kawasan itu menunjukkan Sahara dulunya adalah oasis yang relatif hijau, tempat pemukiman manusia, serta beragam tumbuhan dan hewan tumbuh subur.

Berdasarkan studi tahun 2013, dari danau dan padang rumput dengan kuda nil dan jerapah menjadi padang pasir yang luas, transformasi geografis Afrika Utara yang mendadak 5.000 tahun lalu adalah salah satu perubahan iklim paling dramatis di planet ini.

Sekarang, para ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat, menganalisis debu yang tersimpan di pantai Afrika Barat selama 240 ribu tahun terakhir. Mereka kemudian menemukan iklim di Sahara, dan Afrika Utara pada umumnya, silih berganti basah dan kering setiap 20 ribu tahun.

Bukti menunjukkan, kadang-kadang Sahara beriklim sangat basah. Ini memungkinkan tumbuhan dan hewan tumbuh dan berkembang, mengarah pada terciptanya pemukiman manusia.

Para ilmuwan menemukan lebih banyak bukti tentang perubahan iklim ini. Mereka memeriksa debu yang terkumpul dari pantai Afrika Barat selama 240 ribu tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan selama periode itu, iklim Sahara terus berubah setiap 20 ribu tahun.

David McGee, seorang profesor di Department of Earth MIT mengatakan, "Bukti baru mendukung gagasan bahwa iklim daerah itu berulang kali terus berubah selama bertahun-tahun. Hasil kami mengungkap kisah iklim Afrika Utara dominan dalam denyutan 20 ribu tahun ini, bolak-balik antara Sahara hijau dan kering.”

Setiap tahun, berton-ton debu Sahara tersapu oleh angin timur laut ke Samudra Atlantik membentuk endapan sedimen tebal di dasar laut. Dengan menganalisis lapisan debu ini, peneliti bisa menyimpulkan banyak informasi tentang iklim tempat mereka berasal. Misalnya, lapisan debu tebal menunjukkan periode gersang, sedangkan lapisan yang lebih tipis adalah tanda iklim yang lebih basah.

Sebelumnya, para ahli melaporkan pendorong utama perubahan iklim bolak-balik secara umum disebabkan perubahan poros Bumi saat planet ini mengorbit Matahari. Proses tersebut memengaruhi jumlah sinar matahari di antara musim. Penelitian menunjukkan bahwa setiap 20 ribu tahun, Bumi menerima lebih banyak sinar matahari musim panas.

Pada titik ketika poros Bumi berubah sekali lagi, ukuran sinar matahari berkurang. Perubahan musim ini terjadi secara konsisten setiap 20 ribu tahun, menurut hasil penelitian.

Musim lain dengan kondisi hujan badai, menghasilkan kondisi lebih basah, lebih hijau, dan kaya tanaman. Pada titik ketika aktivitas hujan melemah, atmosfer berubah menjadi panas dan kering, mirip dengan Sahara yang masih ada sampai sekarang.

Meski demikian, penelitian baru ini didasarkan pada sampel debu yang dikumpulkan dari sedimen laut. McGee dan rekannya menemukan teknik baru yang menafsirkan kembali informasi inti debu Sahara yang diendapkan selama 240 ribu tahun terakhir. Metode baru itu bergantung pada pengukuran konsentrasi isotop langka bernama torium.

Torium diproduksi di lautan ketika sejumlah kecil uranium radioaktif larut dalam air laut. Kemudian ia dengan cepat menempel pada sedimen yang tenggelam, misalnya debu Sahara.

Dengan cara ini, mereka bisa menyimpulkan berapa banyak debu yang terkumpul selama era tertentu dengan mempelajari konsentrasi torium di lapisan sedimen tertentu. Akumulasi sedimen yang lambat dikaitkan dengan konsentrasi torium lebih tinggi, dan sebaliknya.

Hasilnya para peneliti mendapat kesimpulan pergantian iklim basah dan kering di Sahara terjadi setiap 20 ribu tahun, selaras dengan aktivitas musim di kawasan itu dan perubahan poros Bumi secara berkala.

Rangkaian penelitian dapat bermanfaat tidak hanya untuk memahami sejarah Gurun Sahara tetapi juga bagi spesies kita. Manusia muncul dari berbagai titik di Afrika dan bermigrasi ke Timur Tengah, dan dari sana ke Eropa, Asia, hingga seluruh dunia.

Kondisi di Sahara juga sebenarnya dipengaruhi oleh iklim global. Menurut sebuah studi tahun 2018, perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia berkontribusi pada ekspansi 10 persen permukaan gurun Sahara selama seratus tahun terakhir.

Para ilmuwan percaya hingga 10 ribu-11 ribu tahun yang lalu, Sahara lebih mirip sabana Afrika saat ini. Ini berarti kita masih memiliki 10 ribu tahun lagi sebelum Afrika Utara kembali menjadi oasis raksasa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR