Indonesia kaya tanaman potensial untuk biofuel

Ilustrasi ekstrak kelapa sawit
Ilustrasi ekstrak kelapa sawit | nirapai boonpheng /Shutterstock

Kendati masih menghadapi berbagai kendala, Indonesia sebetulnya memiliki puluhan jenis tanaman selain kelapa sawit yang juga berpotensi dikembangkan menjadi biofuel. Apa saja, mari menyelisik.

Biofuel atau bahan bakar nabati adalah salah satu sumber energi terbarukan yang diketahui bermanfaat. Dibanding energi fosil, ketiga jenisnya terutama bioetanol dan biodiesel bukan hanya mampu menekan dampak polusi dan lebih aman bagi lingkungan, tapi juga bisa mengurangi permintaan impor BBM.

Biodiesel dapat digunakan sebagai energi alternatif bahan bakar minyak jenis diesel atau solar. Sementara bioetanol dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar lewat produksi bahan baku secara langsung maupun tidak langsung.

Di Indonesia, produksi biofuel yang saat ini telah rampung, khususnya sebagai bahan baku biodiesel, berasal dari minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Bahkan, pemerintah telah menetapkan kebijakan untuk memanfaatkan bauran CPO lewat program B20 (20 persen biodiesel dicampur dengan 80 persen solar).

Terlepas dari dampaknya yang dikatakan sebagai biang pengurangan lahan kelapa sawit dan bisa menyebabkan kenaikan harga pangan, sejumlah pakar mengemukakan bahwa potensi keanekaragaman hayati Tanah Air sebetulnya terbilang paling tinggi di dunia. Ini tentu mampu meningkatkan ketahanan energi RI.

Secara total, terdapat sekitar 50-60 spesies tanaman alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan baku biofuel. Di antaranya jatrofa, gula tebu, saga utan, dan kecipir. Lalu, kelor kenari, kapok, tengkawang tungkul, tengkaw terindak, mindi, margosa, bengku, rambutan, sirsak, dan wijen.

Namun, "Itu hanya sebagian kecil dari jenis tanaman yang telah diteliti potensi kandungannya dan mampu menggantikan kerosene yang selama ini digunakan sebagai BBM," tutur Retno Gumilang, Dosen dan peneliti di Pusat Kebijakan Keenergian Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tisnaldi, Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, mengatakan bahwa dari sekitar 60 spesies itu jika diproduksi menjadi bahan mentah, jumlahnya bisa mencapai 28 juta ton atau setara 215 juta barel minyak.

Untuk diolah menjadi biodiesel, Agus Haryono, peneliti kimia dan Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menambahkan bahwa minyak kemiri sunan dan minyak yang didapat dari bijitanaman jarak memiliki potensi besar. Bahkan di Eropa, kata dia, minyak kedelai dan minyak goreng bekas telah diolah menjadi biodiesel.

Selain itu, tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) yang bernilai guna bagi ekosistem pantai sekaligus sebagai pemecah angin bagi tanaman pertanian, ternyata memiliki biji yang berpotensi dijadikan biodiesel tanpa menganggu kepentingan pangan.

Itu semua karena struktur minyak nabati pada tanaman-tanaman potensial untuk boiodiesel tadi sama-sama terdiri dari trigliserida sehingga bisa diolah layaknya kelapa sawit.

Merujuk laman resmi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), biodiesel umumnya dibuat melalui reaksi metanolisis atau transesterifikasi antara minyak nabati dengan metanol yang dibantu katalis basa.

Hasil dari proses ini berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME).Namun, apabila kandungan asam lemak bebas pada minyak nabati melebihi lima persen, maka perlu dilakukan reaksi esterifikasi terlebih dahulu.

Selain biodiesel, sambung Agus, aren dan singkong juga berpotensi diolah menjadi bioetanol generasi pertama.

Menukil Republika, bioetanol generasi pertama merupakan salah satu dari tiga generasi teknologi produksi etanol yang telah berkembang. Generasi pertama dilakukan dengan konversi gula sederhana melalui sakarifikasi atau fermentasi langsung.

Secara biologis, bahan baku untuk produksi etanol dapat dikelompokkan menjadi tiga. Selain sumber selulosa dari bahan berkayu, ini terutama diperoleh dari sumber gula dan pati.

Sumber gula contohnya tebu, bit, dan sorgum manis yang diproses melalui fermentasi langsung, atau berasal dari limbah pemurnian gula seperti molases.

Sementara sumber pati seperti jagung, gandum, singkong, dan ubi kayu, diolah melalui hidrolisa gula terfermentasi.

Menariknya, kata Agus, setelah melalui proses destilasi, fermentasi dan dehidrasi, bioetanol bisa dijadikan biofuel setara Pertamax. Berdasarkan konsentrasinya, biofuel itu dikenal dengan istilah E10 (10 persen bioetanol dan 90 persen bensin), E20 (20 persen bioetanol dan 80 persen bensin) dan seterusnya.

Akan tetapi, kendati jumlah bahan baku bioetanol sangat banyak, Agus berpendapat bahwa pengembangan bioetanol masih jauh dari nilai ekonomis. “Kecuali ada subsidi pemerintah,” imbuhnya.

Pendapat Agus senada dengan yang diungkap EBTKE pada 2016 bahwa pengembangan bioetanol tak ubahnya biodiesel yang sama-sama membutuhkan subsidi senilai kurang lebih Rp0,4 triliun.

Pasalnya, pengembangan bioetanol masih mengalami beberapa kendala. Pertama dan paling penting, selisih harga bioetanol dengan minyak bensin masih cukup tinggi. Lalu, perlunya penyimpanan tersendiri untuk bioetanol dan terbatasnya suplai bioetanol juga berperan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR