INDUSTRI 4.0

Indonesia menuju Industri 4.0

SPONSOR: Kementerian Perindustrian Republik Indonesia
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto (tengah) sedang menyampaikan paparannya tentang Industri 4.0.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto (tengah) sedang menyampaikan paparannya tentang Industri 4.0. | Muhammad Imaduddin /Beritagar.id

Pemerintah Indonesia mulai berbenah menghadapi perubahan industri dengan meluncurkan peta jalan “Making Indonesia 4.0” sebagai strategi untuk memuluskan langkah Indonesia menjadi salah satu kekuatan baru di Asia.

Peta jalan “Making Indonesia 4.0” memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di masa depan, termasuk fokus pada pengembangan sektor prioritas yang akan menjadi kekuatan Indonesia menuju Industri 4.0.

Pemerintah memilih sektor makanan dan minuman, fashion, otomotif, kimia, dan elektronik sebagai fokus dalam program revolusi Industri 4.0. Pemilihan kelima sektor tersebut bukan tanpa alasan, selain pelaksanaannya yang lebih mudah karena sudah lebih siap, sektor tersebut juga dapat memberikan dampak yang besar bagi pertumbuhan industri dan ekonomi Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto dalam acara Obsat ke-202 bertajuk “Menuju Indonesia 4.0” di Paradigma Cafe, Jakarta (Jumat, 11/5/2018). Di samping itu, Airlangga menegaskan bahwa kelima sektor tersebut juga memiliki kontribusi yang besar terhadap ekspor, tenaga kerja, dan Produk Domestik Bruto.

“Industri di sini ada 84 jenis, tetapi nggak mungkin kita pilih semua. Meski yang dipilih lima saja, bukan berarti yang lain tidak penting. Lima sektor tersebut dipilih karena merupakan sektor yang 80 persen diperdagangkan di dunia, demand-nya tinggi,” ujarnya dalam pembukaan acara Obsat ke-202.

Eno Bening, content creator yang menjadi bintang tamu Obsat ke-202 mengatakan bahwa profesi yang ia jalani merupakan dampak positif dari revolusi Industri 4.0. Sebelumnya ia tak pernah terpikir akan menjalani profesi seperti saat ini.

“Saya juga salah satu orang yang juga berkecimpung di dunia industri, tapi kami menyebutnya industri kreatif. Dan kami juga salah satu bukti nyata bahwa perkembangan industri itu benar-benar hadir di Indonesia,” ujarnya.

Ia sadar revolusi Industri 4.0 akan menjadi tantangan tersendiri bagi anak muda di Indonesia. Menurutnya, akan ada dua pemikiran yang mewakili perasaan anak muda dalam menghadapi tantangan tersebut.

Pertama, panik karena mungkin saja pekerjaannya suatu hari nanti akan digantikan oleh mesin atau robot. Pemikiran kedua adalah orang-orang yang optimis, yang bisa melihat bahwa pemerintah telah menyiapkan peta jalan serta peluang untuk anak-anak muda.

Menurutnya, dengan adanya peta jalan “Making Indonesia 4.0” yang dirilis oleh pemerintah dapat membantu generasi muda dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan di masa mendatang, asalkan generasi muda mau berinovasi dan belajar.

“Sebelum pekerjaan kita digantikan oleh robot, ini kesempatan terakhir kita sebagai anak muda untuk berkreasi dan menggali inovasi untuk berkarya. Ini kita sudah enak banget nih, pemerintah sudah mempersiapkan semuanya, kita tinggal mengikuti saja,” ujarnya menanggapi paparan Industri 4.0 yang disampaikan Menteri Perindustrian.

Di penghujung acara, Airlangga Hartanto mengingatkan betapa pentingnya kemampuan bahasa yang perlu dikuasai generasi muda Indonesia agar dapat berkarya di era Industri 4.0.

“Setidaknya ada tiga bahasa yang perlu dikuasai oleh anak muda yaitu Inggris, statistik, dan coding,” tegasnya.

SPONSOR: Kementerian Perindustrian Republik Indonesia
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR