BAURAN ENERGI

Jalan terjal pemanfaatan energi terbarukan

Target dan tantangan penggunaan energi baru dan terbarukan
Target dan tantangan penggunaan energi baru dan terbarukan | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Menyambut pergantian rezim yang akan berlangsung pada Pemilu Serentak 2019, isu sumber daya alam, energi, dan lingkungan kembali mengemuka. Butuh komitmen dan rencana aksi konkret untuk mewujudkan pemanfaatan energi bersih dan terbarukan.

Hingga 2017, batu bara masih mendominasi pembangkitan listrik di Indonesia, hingga 58,3 persen dari total daya terpasang; diikuti gas (23,2 persen); dan minyak bumi (6 persen). Sementara, Rancangan Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL 2018-2027, Kementerian ESDM), menyebut porsi batu bara masih mencapai 54,4 persen.

Sekelompok organisasi masyarakat sipil, mendorong para kandidat yang bertarung dalam Pilpres 2019 serius menghadapi isu ini. Bersihkan Indonesia, gerakan yang diinisiasi lebih dari 30 lembaga, menantang para paslon mengumumkan rencana konkret menuju “Indonesia Berdaulat Energi”.

“Ini adalah waktu yang tepat bagi para Capres untuk bersungguh-sungguh mendorong peralihan menuju energi bersih dengan mengutamakan kesejahteraan, keselamatan rakyat, dan lingkungan. Capres harus berani menjadi pahlawan untuk membersihkan Indonesia dari energi dan politik kotor yang bersumber dari batu bara,” kata Tata Mustasya, jurubicara #BersihkanIndonesia dari Greenpeace Indonesia (13/2/2019).

Agenda energi bersih, bukan hanya milik Indonesia. Komitmen untuk terlibat aktif dalam hal ini pernah disampaikan Presiden Joko Widodo dalam Conference of Parties 21 Paris, 2015 silam. Indonesia, katanya, sanggup menurunkan emisi sebesar 29 persen pada 2030--bahkan sampai 41 persen dengan bantuan internasional.

Pada 22 April 2016, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, mewakili Presiden Joko Widodo saat penandatanganan Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.

Sejumlah target dipatok, salah satunya menahan peningkatan suhu global di bawah 2 derajat Celcius pada masa mendatang. Penggunaan energi terbarukan, tak ayal menjadi pilihan--menggantikan energi berbasis fosil yang "kotor" dan tak berkelanjutan.

Memang tak mudah. Penggunaan energi berbasis fosil seperti minyak bumi, dan batu bara diperkirakan masih mendominasi dalam beberapa dekade mendatang. Tantangan itu termaktub dalam laporan Global energy Transformation rilisan International Renewable Energy Agency, terbitan 2018 (berkas .pdf).

Khusus di Indonesia, IISD mencatat sejumlah tantangan yang harus diatasi, misalnya persebaran populasi yang tak selaras dengan sebaran potensi EBT. Daerah yang padat penduduk, misalnya, belum tentu punya potensi EBT yang bisa dikembangkan, agar efisien pemanfaatannya.

Capaian pemanfaatan EBT dan sekelumit tantangannya di Indonesia, teringkas dalam infografik. Menjadi tugas bagi para pemimpin masa depan untuk mengatasinya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR