Jepang ramaikan persaingan eksplorasi antariksa di Asia

Roket Jepang H-IIA 34 meluncur ke angkasa dari Tanegashima Space Center di Jepang selatan pada Kamis (1/6/2017). Roket itu membawa satelit bernama  "Michibiki," yang menjadi bagian dari sistem GPS Jepang.
Roket Jepang H-IIA 34 meluncur ke angkasa dari Tanegashima Space Center di Jepang selatan pada Kamis (1/6/2017). Roket itu membawa satelit bernama "Michibiki," yang menjadi bagian dari sistem GPS Jepang. | Takuto Kaneko/Kyodo News via AP /AP Photo

Persaingan antara negara-negara besar Asia untuk mengeksplorasi antariksa tampaknya semakin seru. Seperti tak mau kalah dari Tiongkok dan India, Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) rupanya berencana untuk mendaratkan astronaut di Bulan sekitar tahun 2030.

Rencana itu terungkap dalam proposal yang diajukan JAXA kepada Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang pada Rabu (28/6/2017).

Menurut situs Asahi Shimbun, JAXA ingin menyelidiki kemungkinan adanya deposit air atau es di sekitar kutub selatan Bulan.

Upaya pengiriman astronaut Jepang ke Bulan itu akan dimulai pada 2022 saat dimulainya kerja sama internasional untuk meneliti apakah air atau es itu bisa digunakan sebagai bahan bakar pesawat antariksa.

Kemudian mereka akan mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan air atau es sebagai bahan bakar. Teknologi tersebut nantinya akan menjadi nilai tawar Jepang untuk mendapat tempat dalam misi internasional menuju Bulan.

Negeri Matahari Terbit itu tak berencana mengembangkan pesawat antariksa buatan sendiri karena biayanya terlalu mahal. Demikian disampaikan juru bicara JAXA kepada CNN (29/6).

Sang juru bicara juga menyatakan detail rencana eksplorasi ruang angkasa Jepang akan dirilis pada acara Forum Eksplorasi Antariksa Internasional yang akan berlangsung di negara itu pada Maret 2018.

SpaceNews (29/6) memperkirakan Jepang akan bekerja sama dengan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk mewujudkan impian terbang ke Bulan itu. JAXA sepertinya akan terlibat dalam program Deep Space Gateaway yang bakal dilakukan NASA.

Deep Space Gateaway adalah proyek untuk membangun pelabuhan di dekat orbit Bulan sebagai tempat singgah pesawat-pesawat antariksa sebelum melanjutkan misi menjelajahi ruang angkasa dalam (deep space). Proyek tersebut rencananya akan dimulai pada 2025.

Rencana JAXA ini memanaskan persaingan negara-negara besar Asia untuk mengeksplorasi ruang angkasa dan seperti mengulangi balap ke antariksa AS vs. Uni Soviet (kini Rusia) pada masa Perang Dingin.

Tiongkok sudah sejak tahun lalu mengumumkan akan mencoba mendaratkan kendaraan tak berawak di Planet Mars pada 2020. Sebelum ke Mars, mereka lebih dulu akan mencoba mengintip sisi gelap Bulan pada 2018.

Setelah semua misi tak berawak itu, mengutip Reuters (29/4/2016), Tiongkok akan berupaya mendaratkan manusia di Bulan pada 2036.

Sementara itu, pada 2008 India menjadi negara keempat yang berhasil menancapkan bendera di Bulan, setelah Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Enam tahun setelahnya, India berhasil mengirim wahana antariksa buatan mereka ke orbit Mars.

Lalu pada Februari 2017, India berhasil mengorbitkan 104 satelit dalam sekali penerbangan roket, memecahkan rekor sebelumnya, 37 satelit dengan sebuah roket, yang dilakukan Rusia pada 2014.

Awal bulan ini, India juga berhasil meluncurkan roket raksasa yang bisa mengangkut satelit seberat 3 ton.

Memang negara di Asia Selatan ini belum mengungkapkan rencana apakah mereka juga berambisi mendaratkan astronaut di Bulan. Akan tetapi, mereka berencana mendaratkan wahana nirawak untuk kedua kalinya di Bulan pada paruh pertama 2018.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR