KONSERVASI SATWA

Kalong putih, satwa endemik Sulawesi terancam punah akibat perburuan

Kalong putih (accerodon celebensis), satwa endemik Sulawesi yang sering menjadi target perburuan warga karena harganya relatif mahal. Per ekor, kalong putih berharga Rp30-60 ribu.
Kalong putih (accerodon celebensis), satwa endemik Sulawesi yang sering menjadi target perburuan warga karena harganya relatif mahal. Per ekor, kalong putih berharga Rp30-60 ribu. | Safriyanto Dako

Kalong Putih atau accerodon celebensis adalah jenis kelelawar pemakan buah yang ukurannya lebih besar dibanding jenis lain. Satwa endemik Sulawesi ini mulai jarang ditemui dan terancam punah menyusul perburuan besar-besaran.

Menurut seorang peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Safriyanto Dako, perburuan kelelawar cukup ekstrem. Para pemburu tidak mengindahkan kaidah konservasi, satu di antaranya dengan menggunakan senjata api.

Hal itu ditemui Safriyanto saat melakukan riset bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNG di pusat konservasi kalong di Desa Olibuu, di wilayah pesisir pantai selatan, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Tajuk penelitian itu adalah "Implementasi Konservasi Kelelawar (Kalong) Berkelanjutan di Desa Olibu, Boalemo, Gorontalo.

"Selain kerusakan habitat, ancaman utama (kepunahan kalong putih) adalah perburuan. Apalagi perburuan memakai senjata api tidak boleh. Hal itu sangat tidak dianjurkan, karena dampaknya kepada semua kelelawar yang ada di habitatnya," ujar Safriyanto saat ditemui Beritagar.id, Senin (16/9/2019).

Perselisihan antar-kelompok masyarakat pemanfaat kelelawar atau kalong pun selalu terjadi. Bahkan perselisihan itu sampai ke masalah hukum.

Topik perselisihan biasanya metode penangkapan yang berbeda dari setiap kelompok. Yang paling susah dicegah, kata Safriyanto, adalah warga sengaja melakukan perburuan dengan alasan ekonomi.

Apalagi permintaan terhadap kalong dari luar daerah sangat tinggi. Harga per ekor pun relatif mahal. Jika kalong berukuran lebih besar, harga akan makin mahal. Ini yang membuat warga memburu kalong habis-habisan.

"Sesuai yang saya temui harganya berkisar Rp30–60 ribu. Makin besar makin mahal. Kami pernah menemukan kalong putih yang bobotnya sampai 1 kilogram. Tentu harganya lebih mahal. Biasanya kalong-kalong ini akan dikirim ke wilayah Sulawesi Utara," ungkap Safriyanto yang juga dosen Fakultas Peternakan UNG.

Pada penelitian tersebut, Safriyanto dan tim melakukan pembinaan kelompok mengenai status fisiologi dan konservasi kelelawar berkelanjutan. Selain itu, terjalin kesepakatan antara kelompok, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan perwakilan masyarakat, tentang: larangan penebangan hutan bakau, penggunaan senjata api atau sejenisnya, frekuensi perburuan kalong yang dibatasi dua kali dalam seminggu.

Selain itu, telah disepakati juga aturan yang membolehkan perburuan hanya pada waktu tertentu. Yakni dilakukan pada pukul 03.00-05.00 pagi. Serta wajib pula melakukan pemilahan kalong dengan kriteria; kalong berukuran kecil, bunting, dan sedang menyusui harus dilepaskan ke habitatnya.

"Jumlah pasti kalong di Gorontalo memang tidak bisa dihitung satu per satu. Dari beberapa metode penghitungan yang kami lakukan selama 6 bulan, ada sekitar 3.000-4.000 kelelawar yang sudah keluar atau ditangkap. Populasinya diperkirakan di bawah 10.000," kata Safriyanto.

Potensi zoonosis dari kalong

Di tengah maraknya perburuan kalong untuk dikonsumsi masyarakat, kalong menyimpan risiko penyakit zoonosis. Penyakit ini memang ditularkan melalui hewan.

Kementerian Kesehatan dan global pun sudah mengantisipasi zoonosis yang bersumber dari kalong. Hewan ini juga disebut menjadi salah satu potensi penyebaran penyakit baru.

"Indonesia itu daerah migrasi burung. Kemarin di dalam riset yang dilakukan oleh badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) ternyata ada kelelawar yang menjadi sumber penyakit tertentu, padahal sebelumnya tidak disebutkan pernah ada di Indonesia," kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, Anung Sugihantoro, dikutip detikHealth, November 2018.

Anung berujar, meski anncaman penyakit tersebut masih sebatas pada hewan, dan belum terdeteksi secara pasti apa jenisnya, antisipasi perlu dilakukan demi menghindari penularan terhadap manusia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR