TEKNOLOGI ANTARIKSA

Keberhasilan Rocket Lab awali persaingan startup antariksa

Tangkapan layar roket Electron milik Rocket Lab
Tangkapan layar roket Electron milik Rocket Lab | Rocket Lab /Twitter

Tak mau kalah dengan SpaceX dan Blue Origin, perusahaan antariksa komersial di California, Amerika Serikat, Rocket Lab, berhasil mengirimkan enam satelit kecil ke orbit menggunakan Roket Electron dari situs peluncuran pribadi di Selandia Baru pada hari Minggu (11/11/2018).

Electron adalah wahana peluncuran dua tahap yang menggunakan sembilan mesin Rutherford buatan mereka sendiri sebagai pendorongnya.

Misi ini seharusnya berlangsung pada April lalu, namun Rocket Lab memutuskan untuk menunda peluncuran ke bulan Juni karena menemukan kesalahan pada pengontrol motor di mesin first stage (tahap pertama).

Namun pada bulan Juni, Rocket Lab kembali menunda peluncuran roket karena masalah yang sama kembali muncul. Pada akhirnya, mereka memutuskan merombak desain untuk memastikan bahwa masalah serupa tidak akan kembali terjadi.

Seperti dilansir Space (11/11), peluncuran komersial ini menandai kesuksesan Rocket Lab setelah dua uji terbang pada akhir Mei 2017 dan awal Januari 2018 di Mahia Peninsula, Selandia Baru.

Meski tidak sebesar roket milik SpaceX dan Blue Origin, Electron yang tingginya hanya 17 meter ini mampu membawa muatan seberat 227 kilogram ke orbit sinkron matahari pada ketinggian 500 kilometer dari permukaan Bumi.

Sebagai perbandingan, roket Falcon 9 milik SpaceX yang memiliki tinggi 70 meter dapat membawa lebih dari 22 ton muatan ke orbit yang sama. Meski demikian, Electron mematok biaya sangat terjangkau, yakni 5 juta dolar AS (Rp74 miliar) per peluncuran, dibanding perusahaan milik Elon Musk, yakni 60 juta dolar AS (Rp888 miliar).

Misi yang dinamakan “It’s Business Time” tersebut membawa enam satelit.

Dua satelit milik Spire Global digunakan untuk melacak kapal, pesawat, dan cuaca di bagian terpencil dunia. Satu Tyvak Nano-Satellite Systems untuk satelit cuaca dan dua satelit milik Fleet Space Technologies digunakan sebagai fondasi untuk jaringan telekomunikasi baru.

Sedangkan satu satelit milik Irvine CubeSat Stem Program yang dibangun oleh siswa di enam sekolah menengah di Irvine, California, AS, digunakan untuk mengumpulkan data seputar kinerja satelit dan sebagai alat bantu mengajar. Demikian dinukil Latimes (11/11).

Electron juga membawa sebuah peralatan canggih, yakni NABEO (drag sail/ layar penarik) yang dirancang untuk menarik satelit tua dan nonaktif kembali ke atmosfer Bumi agar terbakar, sehingga mengurangi sampah antariksa di orbit. Cara itu dianggap lebih cepat dan efisien.

Pendiri dan CEO Rocket Lab, Peter Beck, mengatakan misi ini menandai era baru serta meramaikan persaingan dalam perjalanan menuju luar angkasa.

“Dunia sedang menuju bentuk normal yang baru. Dengan kendaraan peluncuran Electron, akses cepat dan terpercaya ke ruang angkasa kini menjadi kenyataan bagi satelit-satelit kecil, ”kata Beck dalam siaran persnya.

“Kami senang bisa memimpin industri peluncuran satelit kecil dengan mencapai orbit untuk kedua kalinya dan menerapkan lebih banyak muatan."

Rocket Lab berencana mempercepat produksi sehingga mereka bisa membuat satu roket setiap bulan. Jika mereka berhasil melakukan ini, maka mereka akan bisa lebih sering mengirimkan satelit ke luar angkasa.

Dengan membangun roket kecil seharga 5,7 juta dolar AS (Rp84 miliar) yang ditujukan untuk mengangkut muatan kecil, Rocket Lab sendiri diperkirakan menjadi salah satu pesaing SpaceX. Sama seperti SpaceX, mereka menawarkan peluncuran satelit dengan biaya yang lebih hemat.

Bedanya, SpaceX menggunakan roket Falcon 9 yang dapat digunakan berkali-kali untuk menghemat biaya, sementara Rocket Lab menghemat biaya dengan mesin yang dicetak secara 3D, bahan komposit yang ringan, dan pompa bahan bakar bertenaga baterai yang unik walau roket tersebut hanya untuk sekali pakai.

Keberhasilan peluncuran ini, menurut Beck, tak lantas membuat tim Rocket Lab bisa segera beristirahat. Mereka mesti bersiap untuk peluncuran berikutnya bulan depan.

Bekerja sama dengan Badan Antariksa AS (NASA), pada Desember 2018 Rocket Lab akan menjalankan misi ELaNa XIX, yakni peluncuran 10 CubeSat (satelit kecil berbentuk kubus) yang dibuat oleh beberapa institusi pendidikan dan organisasi nirlaba di AS bersama NASA.

Tren bisnis baru

Sebuah cubesat rancangan Technical University of Munich dipamerkan pada Cube Tech Fair, di Berlin, Jerman (10/5/2017). Satelit yang semakin kecil dan canggih membuat pengorbitannya tak memerlukan roket besar.
Sebuah cubesat rancangan Technical University of Munich dipamerkan pada Cube Tech Fair, di Berlin, Jerman (10/5/2017). Satelit yang semakin kecil dan canggih membuat pengorbitannya tak memerlukan roket besar. | Felipe Trueba /EPA

Semakin canggihnya teknologi membuat ukuran satelit bisa diperkecil namun memiliki kemampuan yang tak kalah hebat dari satelit masa lalu yang berukuran besar. CubeSat pun menjadi tren baru.

Karena satelit mengecil, ukuran roket yang digunakan untuk mengorbitkan mereka pun menyusut. Ukuran yang menyusut membuat biaya peluncuran pun semakin murah.

Oleh karena itu, saat ini semakin banyak perusahaan rintisan (startup) yang mencoba peruntungan mereka dalam bidang bisnis peluncuran satelit menuju orbit.

Menurut data Space Angels, perusahaan investasi bisnis antariksa, dikutip The New York Times, ada sekitar 150 start up yang mencoba peruntungan mereka dalam bisnis antariksa ini, termasuk Rocket Lab.

CEO Space Angels, Chad Anderson, menyatakan tak semua perusahaan itu akan berhasil. Ia meramalkan ada enam yang mungkin bisa bertahan karena dukungan dana dan rekayasa teknologi yang lebih baik, yaitu Virgin Orbit, Vector Launch, Relativity Space, Firefly Aerospace, Gilmore Space Technologies, dan Astra Space Inc.

Dalam wawancara dengan CNN, Steve Isakowtiz, CEO lembaga riset nirlaba The Aerospace Corporation, menyatakan keberhasilan Rocket Lab menjadi yang pertama mengorbit tak menjamin mereka mampu bertahan di tengah persaingan pada masa mendatang.

Isakowtiz memprediksi persaingan bisnis peluncuran satelit kecil nantinya akan berlangsung "brutal" dalam 12-18 bulan sehingga hanya sedikit perusahaan yang bakal bertahan.

Walau demikian, Beck yakin Rocket Lab, yang baru mendapat dana ventura 148 juta dolar AS, akan menjadi satu dari mereka yang bakal bertahan.

"Orang yang punya perusahaan roket dan menyatakan kepadamu bahwa perjalanan akan mulus, berarti dia hidup di dunia lain," tegas CEO Rocket Lab itu. "Tetapi kami telah berhasil dan banyak hal lain yang bakal datang. Sekarang tinggal mengukur skala bisnis dan terus memimpin."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR