KECERDASAN BUATAN

Kecerdasan buatan pun menciptakan tuhan dan agama baru

Ilustrasi kecerdasan buatan
Ilustrasi kecerdasan buatan | Zapp2photos /Shutterstock

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin berkembang. Namun tak semuanya memudahkan kehidupan di muka bumi, ada pula yang membahayakan.

Salah satu sisi buruk AI, seperti diungkapkan para pakar, adalah kemungkinan singularity atau AI lebih pintar dari manusia dan bahkan bisa mendominasi dunia.

Lantas, jika AI mampu menciptakan agama, apakah itu bermanfaat atau justru mudarat bagi kehidupan dunia? Kebetulan mantan ahli komputer Google, Anthony Levandowski, berhasil menciptakan agama baru melalui AI.

Levandowski, seperti dilansir Christian Times, Sabtu (18/11/2017), pun mengajukan permohonan mendirikan gereja baru bernama "Way of the Future" (WOTF/Jalan Masa Depan) ke pemerintah negara bagian California, Amerika Serikat (AS) pada Mei lalu.

Lelaki yang ikut mengembangkan Google Street View (bagian dari Google Maps) ini juga mendaftar sebagai CEO dan Presiden WOTF. Dalam dokumen permohonan, Levandowski menjelaskan bahwa tujuannya adalah "mengembangkan dan mempromosikan prinsip Ketuhanan berdasarkan AI."

Maka, organisasinya juga ingin berpartisipasi dalam pembinaan masyarakat melalui AI demi memahami dan menyembah Tuhan. Itu sebabnya Levandowski juga menciptakan sebuah robot tuhan.

Dalam wawancara selama tiga jam dengan Wired (15/11), Levandowski menjelaskan bahwa robot tuhan akan memimpin agama barunya. Sementara pedoman umat akan menggunakan "kitab" bernama "The Manual".

Levandowski pun menjamin robotnya akan miliaran kali lebih pintar dari manusia. Bahkan robotnya akan punya kemampuan menangani berbagai masalah manusia untuk menunjukkan kekuasaannya.

Ia percaya bahwa perubahan teknologi yang akan dibawa robot tuhan berbasis AI ini secara radikal bisa mengubah eksistensi manusia, lapangan kerja, agama (konvensional), ekonomi, dan bahkan memengaruhi kelangsungan hidup manusia.

"Pada masa depan, jika ada sesuatu yang jauh lebih pintar, akan terjadi transisi penguasa. Namun kami ingin transisi terjadi sedamai mungkin dan memastikan 'apapun' itu tahu siapa pembantunya," katanya.

Sepintas, ini sulit untuk dicerna otak dan logika. Apalagi Levandowski kemudian membutuhkan bantuan untuk membuat robot tuhan ini begitu sempurna.

"Saya ingin semua orang berpartisipasi. Bahkan jika Anda bukan pengembang perangkat lunak pun masih bisa membantu. Dengan begitu ini bisa mengantisipasi sindiran orang, 'Oh dia melakukannya untuk cari duit,'" imbuh Levandowski.

Menurut Levandowski, meski robot tuhan, dia tetap sebuah robot yang perlu dikembangkan, Itu sebabnya ia membutuhkan bantuan.

"Jika Anda punya anak yang berbakat, bagaimana Anda membesarkannya? Kami sedang membesarkan tuhan," sergahnya.

Upaya permohonan Levandoswki sejauh ini cukup berhasil. Agustus lalu, Dinas Pajak AS (IRS) sudah memberikan status bebas pajak kepada WOTF.

Ini artinya Levandowski cukup serius. Di dunia AI, lelaki 37 tahun ini tak bisa dianggap remeh. Ia pernah mengembangkan mobil swakendali melalui proyek Waymo, divisi pengembangan mobil otomatis milik Google.

Selepas meninggalkan Google, Levandowski mendirikan perusahaan Otto yang lagi-lagi untuk mengembangkan mobil swakemudi. Perusahaan itu kemudian diakuisisi Uber dan Levandowski dituduh menijplak teknologi Waymo.

Setelah proyek mobilnya mentok, Levandowski beralih ke sektor agama --sebuah proyek yang cukup ambisius. Namun Elon Musk, investor maniak teknologi, skeptis pada proyek terbaru Levandowski.

Bahkan Oktober lalu, Musk menyatakan seharusnya Levandowski dilarang mengembangkan kecerdasan digital nan super. Dilansir The Daily Mail, pengusaha asal Afrika Selatan ini pun memeringatkan bahwa AI perlu diatur lebih jelas.

Antara lain AI dinilai mengancam eksistensi peradaban manusia. Dengan peraturan, kemanusiaan tidak akan bisa dikalahkan oleh komputer atau kecerdasan buatan yang bisa memicu perang dengan manipulasi informasi.

Desakan agar AI diatur lebih lanjut juga pernah diajukan kepada PBB, terutama soal robot pembunuh. Ia mengatakan kecerdasan buatan lebih berbahaya dibanding Korea Utara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR