TEMUAN ARKEOLOGI

Kesialan yang menyebabkan dinosaurus punah

Ilustrasi peninggalan sisa era dinosaurus yang umum ditemukan di museum
Ilustrasi peninggalan sisa era dinosaurus yang umum ditemukan di museum | Pixabay /Pixabay

Era dinosaurus bisa jadi berlanjut jika asteroid yang menabrak Bumi 66 juta tahun yang lalu, menabrak tempat lain bukan di Semenanjung Yucatan, Meksiko. Begitulah kesimpulan dari penelitian terbaru.

Saat asteroid menghantam permukaan Bumi, batuan ruang angkasa selebar 10 kilometer tersebut tenggelam ke lapisan Bumi 66 juta tahun yang lalu. Tabrakan asteroid ke permukaan Bumi ini melepaskan miliaran energi bom atom, menimbulkan kondisi bencana seperti tsunami dan gempa di penjuru Bumi.

Tabrakan tersebut pulalah, yang mengakibatkan terbentuknya kawah Chicxulub dan menyapu bersih hampir 75 persen kehidupan hewan di Bumi dalam peristiwa yang dikenal sebagai peristiwa kepunahan Kapur-Paleogen atau K-Pg, kejadian alam yang sangat tidak biasa.

Dinosaurus adalah korban bencana yang paling populer saat itu, bergabung juga dengan sejumlah makhluk laut, tumbuhan, dan mikroorganisme yang berakhir pada kepunahan spesies.

Studi terbaru mengenai hal tersebut ditulis oleh Kunio Kaiho dan Naga Oshima, diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports. Para peneliti, yang berasal dari Tohoku University di Sendai, dan Meteorological Research Institute di Tsukuba, Jepang.

Mereka menghitung bahwa asteroid hanya memiliki perbandingan kesempatan 1:10 untuk memicu kepunahan massal saat bertabrakan dengan Bumi.

Jika asteroid menabrak bagian lain planet ini, seperti di tengah benua besar atau di tengah samudra, reptil raksasa itu bisa bertahan dari pemusnahan. Sebab hanya 13 persen permukaan planet Bumi yang memiliki material yang dibutuhkan untuk mengubah tabrakan asteroid menjadi peristiwa kepunahan massal.

Secara umum para ilmuwan memperkirakan bahwa dalam peristiwa kepunahan Kapur-Paleogen, asteroid melepaskan energi satu miliar kali lebih banyak daripada gabungan kekuatan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.

Energi besar yang dihasilkan saat tabrakan tersebut memiliki dampak pembakaran pada waduk hidrokarbon dan minyak mentah yang tersimpan di bawah laut dangkal di Semenanjung Yucatan, kata para penulis.

Pembakaran akan menghasilkan sejumlah jelaga dan belerang ke dalam stratosfer untuk menutupi sinar matahari. Keadaan ini memicu serangkaian kejadian lain yang kemudian menghancurkan seluruh ekosistem dan menghancurkan tiga perempat penghuni Bumi saat itu.

Tumbuhan yang terjebak dalam lingkungan tinggi karbon ini akan layu dan mati. Kondisi hewan-hewan yang kelaparan kemudian menyusul, hingga berujung pada kematian juga.

Para peneliti menggunakan perhitungan model iklim global untuk mensimulasikan jumlah jelaga dampak dari tabrakan asteroid yang akan terbentuk, bergantung pada jumlah hidrokarbon dan belerang di bebatuan. Mereka juga memperkirakan bagaimana skenario akan dampak yang berbeda ini akan mempengaruhi iklim.

Hasilnya, studi mereka menunjukkan untuk menyebabkan kepunahan massal harus ada penurunan suhu permukaan Bumi rata-rata 10-16 derajat Celsius di darat, pendinginan 8-10 derajat Celsius dalam suhu rata-rata udara permukaan global, dan pelepasan 1.500 teragram jelaga, yang berhubungan dengan 350 teragram (350 juta metrik ton) jelaga di stratosfer.

Simulasi dampak yang dibuat oleh para peneliti menunjukkan bahwa ketika daerah asteroid menghantam daerah hidrokarbon tinggi, tabrakan tersebut menghasilkan cukup banyak jelaga dan mendinginkan planet ini dalam tahap yang cukup untuk menyebabkan kepunahan massal.

"Tabrakan Chicxulub terjadi di daerah yang kaya akan hidrokarbon yang didominasi sulfat," para peneliti menegaskan, dan menambahkan bahwa "kasus langka kepunahan massal disebabkan di tempat yang akan berdampak seperti itu."

Bagaimana ini bisa terjadi?

Para ilmuwan mengatakan bahwa 87 persen permukaan bumi saat itu--daerah seperti Afrika, Tiongkok, India, dan Amazon saat ini--tidak akan memiliki konsentrasi hidrokarbon cukup tinggi untuk memiliki dampak yang sangat krusial pada dinosaurus jika asteroid menghantam daerah tersebut.

Namun, jika asteroid menabrak wilayah pesisir laut yang kaya akan ganggang, seperti pantai timur Amerika Utara, Timur Tengah, dan Siberia saat ini, maka tabrakan tersebut akan memiliki dampak yang sama pada dinosaurus seperti salah satu batu kosmos yang menciptakan kawah Chicxulub.

Saat ini, para peneliti juga mempelajari tingkat perubahan iklim yang bisa disebabkan oleh letusan gunung berapi yang besar, yang ditakutkan akan membawa dampak pada kepunahan massal lainnya. Oleh sebab itu, penelitian ini akan membantu tim memahami proses di balik peristiwa kepunahan tersebut.

Kesialan dinosaurus ini sebenarnya bukan informasi baru. Namun data dan temuan baru tentang kejadian kepunahan jarang digali.

Awal tahun ini, sekelompok ilmuwan Inggris dan Amerika menunjukkan bahwa jika asteroid tersebut memasuki atmosfer bumi beberapa detik lebih awal atau lambat, maka ia akan bertabrakan dengan laut, bukan Amerika Utara. Tabrakan terhadap air akan menyebabkan debu dan jelaga melayang jauh ke langit, mengurangi dampak kerusakan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR