Ketika AI adu debat melawan manusia

Ilustrasi Artificial Intelligence
Ilustrasi Artificial Intelligence | Tatiana Shepeleva /Shutterstock

Adu pendapat antar manusia mungkin saja berlangsung sangat seru. Salah satu yang paling logis dan manusiawi boleh jadi keluar sebagai pemenang. Namun, apa jadinya jika manusia harus berdebat dengan sistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)?

Ajang debat publik di San Fransisco, Senin (11/2/2019) malam yang bertujuan melihat apakah AI dengan keterampilan berdebat bisa mengalahkan pendebat profesional, membuktikan bahwa manusia masih lebih unggul dari mesin. Meski begitu, bedanya tipis.

Sebagaimana dikabarkan Vox, dalam perdebatan “luar biasa” itu, Harish Nataradjan, juara debat dunia dalam turnamen Eropa tahun 2012 yang juga pemegang rekor dunia untuk rentetan kompetisi debat, berhasil memperoleh kemenangan berdasarkan hasil akhir pilihan penonton.

Meski kalah, lawannya yang dijuluki Miss Debater, sistem AI keluaran International Business Machines Corp (IBM), juga berhasil menorehkan kesan dan pesan positif bahwa teknologi masa kini berpotensi melengkapi kehidupan manusia.

Miss Debater yang telah dikembangkan IBM selama 6 tahun belakangan itu berupa kotak hitam setinggi manusia dengan suara perempuan. Ia bukan hanya mampu berdiskusi cerdas sembari menelurkan argumen-argumen kompleks dalam waktu yang panjang, tapi juga diakui penonton lebih memperkaya pengetahuan.

Terlebih lagi, mesin AI yang secara resmi dikenal sebagai Project Debater ternyata juga bisa mengangkat nilai-nilai moral dan menyisipkan sekilas humor.

Lebih lanjut, perhelatan ini berlangsung di depan ratusan jurnalis, orang-orang dalam industri teknologi, dan insinyur perangkat lunak di konferensi Think IBM2019.

Topik yang diangkat adalah tentang apakah prasekolah harus disubsidi. Para kontestan diberi kesempatan 25 menit untuk berargumentasi, dengan rincian 15 menit persiapan, 4 menit pidato pembuka, sanggahan 4 menit dan 2 menit untuk ringkasan argumen.

Sementara Nataradjan terlihat menulis banyak catatan dalam kertas, tiga lingkaran biru di “tubuh” Miss Debater tampak berputar tiap kali ia merenungkan apa yang ingin disampaikan.

Situs CNet menulis, Miss Debater memulai pidato dengan kelakar yang ditujukan kepada Nataradjan dan sukses menggelitik penonton.

"Saya telah mendengar Anda memegang rekor dunia untuk banyak kemenangan dalam kompetisi debat melawan manusia, tetapi saya curiga Anda tidak pernah berdebat dengan mesin. Selamat datang di masa depan, ” ucapnya.

Ia juga berpendapat bahwa prasekolah harus disubsidi. Dikatakan bahwa prasekolah yang baik dapat membantu anak-anak yang berasal dari latar belakang kurang mampu untuk memutus siklus kemiskinan.

Menariknya lagi, Miss Debater menambahkan bahwa mensubsidi prasekolah bukan hanya masalah keuangan, tetapi tugas moral dan politik, "Memberi kesempatan kepada yang kurang beruntung harus menjadi kewajiban moral bagi setiap manusia," ujarnya.

Tentu, apa yang dikatakannya bukan interpretasi sendiri, melainkan hasil komputasi berlandaskan basis data berisi lebih dari 10 miliar kalimat dalam artikel berita dan jurnal ilmiah.

Dengan kata lain, Miss Debater sesungguhnya menggunakan penelitian dan kutipan dari politisi untuk mendukung argumennya.

Menukil Bloomberg, Project Debater digagas oleh Noam Slonim pada tahun 2011. Slonim yang mengaku tegang sepanjang debat berlangsung menciptakan sistem AI pertama yang menguasai seni debat manusia pada tahun 2012.

Ia melengkapi mesin AI dengan kemampuan mengidentifikasi argumen yang relevan terhadap topik apa pun dan menyampaikannya dengan cara yang persuasif sekaligus kohesif. AI rancangannya juga bisa menentukan fakta serta pendapat mana yang mendukung atau menentang. Hal paling penting adalah dapat memahami argumen lawan sekaligus membuat bantahan.

Lantas, kenapa Miss Debater bisa kalah?

“Tersampaikan adalah kunci, dan ini adalah wilayah manusia,” jawab Slonim.

Sedikit merunut rekam jejaknyna, kontes debat ini merupakan perhelatan puncak dari seri tantangan besar IBM untuk mengadu manusia dengan mesin pintar, yang dimulai semenjak 1996.

Dalam sebagian besar permainan profesional seperti catur, jeopardy, hingga AlphaGo yang terkenal kuno dan rumit, manusia kalah dan AI menang.

Akan tetapi berdebat, mungkin lebih sulit dipahami karena membutuhkan kreativitas dan kemampuan emosional.

Seperti diungkap Aristoteles soal kunci beretorika yang baik, mengutip Forbes, pendebat yang sukses haruslah memiliki 3 hal, etos (karakter), logo (alasan), dan paling krusial adalah pathos (perasaan).

Tersampaikannya perasaan membuat pendebat terkoneksi dengan penonton dan berhasil meyakinkan mereka lewat sudut pandang.

Jadi, tanpa itu, tak mengherankan Miss Debater yang cenderung bicara dengan nada monoton kalah telak.

Ranit Aharonov, manajer IBM untuk sistem AI, mengatakan Miss Debater saat ini akan pensiun sementara sembari dieksplorasi untuk membantu manusia menggali persoalan kritis hingga memperluas pikiran. Misalnya, membantu pengacara menggali ribuan kasus pengadilan untuk membentuk argumen penutup, atau membantu anak-anak mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR