KECERDASAN BUATAN

Kini, AI dapat membaca kepribadian seseorang melalui gerakan mata

Ilustrasi robot di masa depan yang semakin manusiawi
Ilustrasi robot di masa depan yang semakin manusiawi | /Pixabay

Mata merupakan jendela jiwa. Inilah yang dimanfaatkan Artificial Inteligence atau AI (kecerdasan buatan) dalam membaca kepribadian.

Menurut sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience, para peneliti telah mengembangkan sebuah teknologi baru yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi pergerakan mata guna menguak kepribadian seseorang.

Pekerjaan ini dikatakan mampu merevolusi bagaimana manusia berkomunikasi dengan mesin. Teknologi ini ke depannya dapat disertakan ke dalam sistem ponsel pintar yang memahami dan memprediksi perilaku pengguna dan berpotensi menawarkan layanan yang lebih personal.

Teknologi tersebut juga dapat digunakan oleh robot yang ditugaskan untuk menemani orang lanjut usia atau di dalam mobil yang bisa mengemudi sendiri, juga gim video interaktif.

Para peneliti dari University of South Australia bekerja sama dengan Univeristy of Stuttgart, Max Planck Institute for Informatics di Jerman, dan Flinders University di Australia Selatan, merancang algoritma dengan kemampuan pembelajaran mesin--kemampuan komputer untuk bertindak tanpa secara eksplisit diprogram--menggunakan data yang dikumpulkan dari 42 peserta dari Flinders University.

Algoritma pembelajaran mesin digunakan untuk merekam pergerakan mata ketika para peserta melakukan tugas sehari-hari menggunakan headset pelacak mata buatan SensorMotoric Instruments. Mereka mengenakan headset selama sekitar sepuluh menit.

Kemudian, para peneliti memeriksa secara silang temuan yang didapatkan dengan kuesioner yang biasa digunakan untuk mengindikasi ciri kepribadian dominan.

Lalu, para peneliti memeriksa para subjek selama melakukan kegiatan yang berbeda, seperti misalnya, "dalam perjalanan ke toko dibandingkan jalan kembali ke laboratorium" dan memeriksa prediksi algoritma yang dibuat untuk kedua skenario.

Berdasarkan ciri-ciri kepribadian "Big Five" (keterbukaan, hati nurani, ekstraversi, keramahan, dan neurotisisme), kecerdasan buatan mampu mengidentifikasi empat butir yaitu neurotisisme, extraversion, keramahan, dan hati nurani. Hasil penelitian berhasil menebak semua ciri-ciri kepribadian kecuali keterbukaan.

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan gerakan apa yang mewakilkan kepribadian tertentu, seperti di bawah ini.

  • Orang yang ingin tahu cenderung melihat ke sekitar lebih sering.
  • Orang yang berpikiran terbuka menatap gambar abstrak untuk waktu yang cukup lama.
  • Orang-orang yang neurotik biasanya berkedip lebih cepat.
  • Orang-orang yang terbuka terhadap pengalaman baru mengalihkan mata mereka dari sisi satu ke sisi lainnya.
  • Orang yang memiliki tingkat kesadaran tinggi memiliki fluktuasi yang lebih besar dalam ukuran pupil mereka.
  • Orang yang optimis menghabiskan lebih sedikit waktu melihat rangsangan emosional negatif (seperti gambar kanker kulit) ketimbang orang yang pesimis.

"Salah satu kontribusi utama dari pekerjaan kami adalah untuk menunjukkan, untuk pertama kalinya, bahwa tingkat neurotisisme, ekstraversi, keramahan, ketelitian, dan rasa ingin tahu perseptual (tipe kepribadian lain) individu dapat diprediksi hanya dari gerakan mata yang direkam selama melakukan tugas sehari-hari," tulis para peneliti dalam studi.

Namun, perlu diperhatikan bahwa kecerdasan buatan memang mampu memprediksi jenis kepribadian, tetapi kemampuan itu tidak dapat melakukannya dengan tingkat akurasi sangat tinggi.

Dengan penyempurnaan lebih lanjut, para peneliti berpikir teknologi semacam ini secara dramatis dapat meningkatkan interaksi dengan mesin dan memberikan kemampuan seperti asisten virtual cara membaca suasana hati atau kepribadian kita.

Tobias Loetscher dari University of South Australia yang terlibat dalam penelitian itu mengatakan dalam sebuah unggahan di situs universitas bahwa penelitian menunjukkan mungkin ada masa depan ketika robot benar-benar dapat memahami emosi orang-orang yang mereka hadapi.

"Orang-orang selalu mencari layanan yang ditingkatkan dan dipersonalisasi," kata Loetscher.

“Namun, robot dan komputer saat ini tidak sadar secara sosial, sehingga mereka tidak dapat beradaptasi dengan isyarat non-verbal. Penelitian ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan robot dan komputer sehingga mereka bisa menjadi lebih alami, dan lebih baik dalam menafsirkan sinyal sosial manusia," urainya.

Olivia Carter, seorang ahli saraf di University of Melbourne, mengatakan kepada New Scientist bahwa meski temuan-temuan itu menarik, bisa juga memberi pertanda masalah privasi baru bagi mereka yang menggunakan teknologi pelacakan mata.

“Jika informasi yang sama dapat diperoleh dari rekaman mata atau frekuensi bicara,” pungkasnya.

Menurut dia hal tersebut dapat dengan mudah direkam dan digunakan tanpa sepengetahuan orang tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR