KEANEKARAGAMAN HAYATI

Kisah George, siput langka yang akhirnya punah

Achatinella apexfulva.
Achatinella apexfulva. | DLNR

George, seekor siput pohon Hawaii dilaporkan mati tepat pada hari pertama Tahun Baru. Saat itu, menurut Departemen Pertanahan dan Sumber Daya Alam Hawaii (DLNR) yang dilansir Live Science (9/1/2019), usianya mencapai 14 tahun, cukup tua untuk siput sejenisnya.

Kabar ini menyedihkan dunia sains. Pasalnya, George bukan sembarang siput. Ia adalah siput terakhir dari spesies siput pohon (Achatinella apexfulva). Kematiannya pun menandai kepunahan hewan tersebut dari muka Bumi.

George diambil dari nama "Lonesome George" (George yang kesepian), kura-kura raksasa (Chelonoidis abingdonii) dari Pulau Pinta di wilayah utara Kepulauan Galapagos. Kura-kura itu juga merupakan jenis terakhir dari jenisnya saat ia meninggal pada tahun 2012.

"Kepergian kedua spesies tersebut membuat jejak-jejak jutaan tahun evolusi pada seluruh genom dan cetak birunya untuk upaya penciptaan kembali mereka terlupakan," tulis DLNR di akun Facebooknya.

A. apexfulva adalah yang pertama dari lebih dari 750 spesies siput darat Hawaii yang dideskripsikan dalam ilmu pengetahuan dunia Barat.

Keberadaan spesies ini pertama kali diketahui pada tahun 1787 ketika seorang penjelajah asal Inggris, Kapten George Dixon, mendarat di Oahu dan disambut dengan kalungan karangan bunga (lei). Pada karangan bunga itu terdapat hiasan dari cangkang siput darat.

Dengan ciri-ciri ujung kuning yang dikenal dengan istilah 'Apex fulva,' spesies A. apexfulva pernah umum ditemukan di wilayah tersebut dan sering kali digunakan untuk membuat lei.

Pada tahun 1997, sebanyak 10 A. apexfulva diketahui dibawa ke laboratorium di Universitas Hawaii untuk pengembangbiakkan. Beberapa bayi lahir, namun ketika laboratorium mengalami masalah, semua siput jenis itu binasa. Namun, ada satu siput yang berhasil selamat, dan itu adalah George.

George pun hidup sendiri dan tumbuh dalam sangkar. Meskipun George disebut "dia (jantan)", siput itu berkelamin ganda atau hermafrodit. Namun, meski berkelamin ganda, siput jenis itu diperlukan pasangan untuk bereproduksi.

“Saya sedih, tetapi sungguh, saya lebih marah karena ini adalah spesies yang begitu istimewa, dan sangat sedikit orang yang mengetahuinya,” kata Rebecca Rundell, ahli biologi evolusi dari Universitas Negeri New York, dikutip National Geographic (8/1).

Selama hidupnya, George menjadi pusat perhatian dan menjadi duta besar untuk jenis siput darat Hawaii. Dia sering ditampilkan dalam banyak surat kabar, majalah, dan artikel daring, dan ratusan anak sekolah dan pengunjung lab sangat ingin melihatnya, yang terakhir dari jenisnya.

Siput jenis ini juga dilaporkan pernah merajai hutan Hawaii dan hilangnya spesies tersebut merupakan pukulan berat bagi ekosistem. Pasalnya, pada abad ke-19 diklaim ada 10.000 siput atau lebih yang dapat dikumpulkan dalam satu hari.

"Apa pun yang berlimpah di hutan adalah bagian integral darinya," kata Michael Hadfield, ahli biologi invertebrata yang menjalankan program penangkaran untuk siput asli Hawaii yang langka hingga akhir 2000-an.

Menurut Hawaiinewsnow, kematiannya juga merupakan pertanda buruk bagi kahuli (siput pohon) yang juga terancam ekosistemnya jika tak segera dilindungi dari spesies invasif dan perubahan iklim. Banyak siput darat yang tersisa di pulau ini sedang mengalami kepunahan.

Dua tahun lalu, seperti dinukil situs DLNR Hawaii, potongan kecil berukuran 2 mm dari kaki George telah dikirim ke Kebun Binatang San Diego dan dibekukan. Jadi sementara George mati, jaringan tubuhnya telah diabadikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR