PRIVASI DATA

Koleksi data pengguna, Apple blokir aplikasi VPN milik Facebook

Situs jejaring sosial Facebook ditampilkan pada perangkat elektronik di sebuah kafe di Hanoi, Vietnam, Jumat (11/1/2019).
Situs jejaring sosial Facebook ditampilkan pada perangkat elektronik di sebuah kafe di Hanoi, Vietnam, Jumat (11/1/2019). | Luong Thai Linh /EPA-EFE

Facebook kembali menjadi sorotan. Kali ini mereka kedapatan membayar beberapa remaja--dengan usia termuda 13 tahun--untuk menggunakan aplikasi VPN "Facebook Research" dan kemudian menyedot data para penggunanya. Apple segera memblokir aplikasi tersebut

Pengumpulan data tersebut terungkap dalam laporan hasil investigasi yang dilakukan oleh situs berita teknologi, Tech Crunch dan diterbitkan Selasa (29/1/2019). Diam-diam, Facebook telah melaksanakan proyek pengumpulan data yang diberi nama "Project Atlas" itu sejak 2016 pada pengguna sistem operasi Android dan iOS.

Facebook membayar para remaja tersebut 20 dolar AS agar memberikan akses ke root network sehingga raksasa media sosial dari AS itu bisa melihat semua data yang berseliweran di ponsel mereka.

Saat hasil investigasi itu dikonfirmasi Tech Crunch, Facebook mengakui menjalankan program Research untuk mengumpulkan data kebiasaan pengguna.

Setelah hasil investigasi itu diterbitkan, Apple langsung bereaksi dengan mencabut Enterprise Certificate yang dimiliki Facebook. Sebelumnya, dengan sertifikat itu Facebook bisa mendistribusikan aplikasi Research kepada pengguna iOS tanpa melalui App Store.

Pencabutan dilakukan karena Enterprise Certificate itu diberikan Apple hanya untuk aplikasi yang didistribusikan internal dalam korporat untuk para pegawai, bukan pada pihak luar yang dibayar.

Beberapa jam kemudian Facebook juga menyatakan akan menghapus aplikasi Research itu dari iOS. Namun Facebook menegaskan bahwa mereka tidak melakukan kesalahan karena pengguna aplikasi Research telah menyetujui semua syarat dan ketentuannya, juga menerima bayaran.

Facebook Research mirip dengan aplikasi Onavo Protect, layanan VPN Facebook juga, yang pernah dilarang Apple pada Juni 2018 dan dihapus pada Agustus 2018. Data tersebut telah terbukti sangat berharga bagi Facebook dalam mengidentifikasi pesaing baru, kemudian mengakuisisi atau mengkloning mereka.

Untuk menyamarkan keterlibatan langsung Facebook, program Research ini disebut dikelola melalui layanan pengujian beta bernama Applause, BetaBound, dan uTest. Ketiga layanan itu belum berkomentar.

Seorang pakar keamanan mengatakan bahwa aplikasi tersebut memungkinkan Facebook untuk mengumpulkan data; termasuk pesan media sosial pribadi, foto dan video, yang dikirim melalui pesan instan, surel, pencarian web, dan aktivitas browsing web.

Selain itu aplikasi juga dapat melacak informasi lokasi yang sedang berlangsung dari aplikasi pelacakan lokasi lain yang di-install dalam ponsel pengguna.

The Guardian (30/1) melaporkan kurang dari lima persen orang yang memilih untuk berpartisipasi dalam program riset pasar ini adalah remaja. Semuanya sudah sesuai prosedur dan ada formulir dengan tanda tangan orang tua.

Juru bicara Facebook mengatakan bahwa program ini tidak melanggar peraturan Apple. Meski demikian ia tidak menjelaskan mengapa Apple menilai itu pelanggaran ketentuan.

"Seperti banyak perusahaan, kami mengundang orang untuk berpartisipasi dalam penelitian yang bisa mengidentifikasi upaya yang lebih baik," kata juru bicara Facebook dalam pernyataan melalui surel yang dikutip CNBC (29/1).

"Karena penelitian ini bertujuan membantu Facebook memahami bagaimana orang menggunakan perangkat seluler mereka, kami telah memberikan informasi luas tentang jenis data yang kami kumpulkan dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi."

"Kami tidak membagikan informasi ini ke pihak lain dan orang-orang dapat berhenti berpartisipasi kapan saja," tambah juru bicara itu.

Berbicara soal persetujuan, Will Strafach, pengembang Guardian Protect (firewall iOS), mengatakan pengguna memang sudah diberikan informasi yang luas tentang jenis data yang dikumpulkan dan bagaimana mereka berpartisipasi.

Akan tetapi, menurut Strafach, Facebook tidak menginformasikan kepada pengguna mengenai seberapa besar akses yang mereka buka saat menekan tombol "Trust" pada root certificate.

Bila tahu bahwa akses itu amat besar, Strafach yakin pengguna akan berpikir dua kali untuk sepakat.

Setelah Apple bertindak, Facebook langsung menghentikan program tersebut di semua perangkat iPhone dan iPad. Namun, aplikasi tersebut hingga saat ini masih bisa berjalan di perangkat Android.

"Menurut saya, tindakan ini bisa menyebabkan Facebook menyatakan perang terhadap perlindungan privasi Apple iOS," tulis John Gruber, narablog Apple dalam situs pribadinya. Pasalnya mayoritas pengguna yang ikut serta dalam program ini memasang aplikasi dalam iPhone mereka.

Yang jelas, masalah ini menambah daftar masalah terhadap Facebook -- terutama cara mereka menangani data pengguna. Sebelumnya skandal besar terungkap setelah data 87 juta pengguna dibagikan Facebook secara tidak benar untuk kepentingan politik Cambridge Analytica.

Catatan redaksi: tulisan telah diperbaiki untuk memperjelas isi berita.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR