LINGKUNGAN HIDUP

Kondisi terumbu karang semakin mengkhawatirkan

Terumbu karang.
Terumbu karang. | Melissa Burovac /Shutterstock

Terumbu karang, yang sering disebut sebagai hutan hujan lautan, berperan sangat penting bagi kehidupan dan kesehatan di lautan. Akan tetapi, sebuah penelitian menunjukkan secara jelas bahwa perubahan iklim dan pemanasan global telah mengancam keberadaannya.

EurekAlert melansir, untuk pertama kalinya sebuah tim peneliti internasional mengukur terjadinya peningkatan pemutihan terumbu karang di seluruh daerah tropis selama empat dekade terakhir.

Penelitian tersebut mencatat bahwa ada jarak yang semakin pendek antara peristiwa pemutihan terumbu karang dengan peristiwa pemutihan berikutnya. Hal ini mengancam keberadaan ekosistem-ekosistem pada masa mendatang dan kehidupan jutaan orang.

Penelitian yang hasilnya dipublikasikan pada Kamis (4/1/18) lalu di Science meneliti 100 lokasi terumbu karang tropis di seluruh dunia, menganalisis data yang ada tentang peristiwa pemutihan karang, serta penelitian lapangan baru yang dilakukan di Great Barrier Reef setelah kasus pemutihan yang terpanjang dan terburuk, yang disebabkan karena perubahan iklim telah membunuh hampir 25 persen karang.

"Waktu antara peristiwa pemutihan di setiap lokasi telah semakin pendek lima kali lipat dalam tiga sampai empat dekade, dari setiap 25 - 30 tahun sekali pada awal tahun 1980an menjadi rata-rata enam tahun sekali sejak tahun 2010," ungkap Profesor Terry Hughes, Direktur ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies (Coral CoE), yang juga penulis utama penelitian ini.

The Guardian, mengutip Profesor Hughes, menuliskan bahwa sebelum tahun 1980an, tidak pernah terdengar kejadian pemutihan massal, bahkan dalam kondisi El Nino yang sangat kuat.

"Akan tetapi sekarang peristiwa pemutihan yang berulang-ulang berskala regional dan kematian karang secara massal telah menjadi hal normal yang baru di seluruh dunia karena suhu terus meningkat," tambahnya. Dan pendeknya siklus pemutihan ini tidak memungkinkan untuk proses pemulihan dan mendekati tingkat yang berkelanjutan.

Di tahun 1980an, rata-rata peristiwa pemutihan massal terjadi sekitar 27 tahun sekali, namun pada tahun 2016 waktu rata-rata menjadi sekitar 5,9 tahun. Dan hanya enam dari 100 tempat yang dapat lolos dari pemutihan.

Laporan itu menuliskan berdasarkan hasil analisis hal tersebut mengindikasikan bahwa kita sudah semakin mendekati skenario di mana setiap musim panas yang panas akan berpotensi menyebabkan pemutihan dan kematian pada skala regional, dengan atau tanpa peristiwa El Nino.

The National Geographic menyebutkan bahwa masa pemulihan terumbu karang diperkirakan berlangsung sekitar 25 sampai 30 tahun, setelah terjadi pemutihan. Akan tetapi, air laut yang hangat sekarang datang sekitar enam tahun sekali, dan ini tidak normal.

Terumbu karang tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan diri. Bahkan karang yang paling cepat tumbuh membutuhkan setidaknya 10 sampai 15 tahun untuk benar-benar pulih dari pemutihan yang parah.

" Ini seperti terkena penyakit serius setiap dua tahun sekali, atau dalam jarak yang sangat singkat, sehingga Anda tidak sempat pulih," kata salah satu penulis penelitian, Julia Baum, yang juga seorang ahli biologi kelautan di University of Victoria.

Penelitian ini juga menemukan bahwa suhu laut tropis saat ini lebih hangat, sekalipun dalam kondisi La Nina yang rata-rata dingin daripada 40 tahun yang lalu selama periode El Nino.

Profesor Andrew Baird dari Coral CoE, yang juga salah satu tim peneliti, mengatakan bahwa pemutihan karang merupakan respons stres yang disebabkan karena paparan suhu laut yang tinggi terhadap terumbu karang.

"Ketika pemutihan itu parah dan berkepanjangan, maka ada banyak karang yang mati, dan dibutuhkan setidaknya satu dekade untuk menggantikannya, bahkan spesies yang paling cepat berkembang," ujarnya.

Karang-karang memutih ketika pemicunya, seperti air panas yang tidak biasa, mengenai alga simbiotik di dalam jaringan-jaringan karang, menjadikannya racun. Kemudian karang melepaskan agla yang berwarna-warni ini dari tubuh mereka, menyisakan tulang-tulang karang yang berwarna putih.

Pertahanan diri ini ternyata menimbulkan risiko yang besar, karena sebagai ganti dari perlindungan, alga memberi makanan pada karang-karang tersebut. Tanpa adanya alga, karang-karang akan mati kelaparan, dan hal itu sering terjadi.

Para peneliti menggambarkan karang-karang yang diputihkan dan sekarat ini seperti menghantui. Lahan-lahan yang dulu semarak berwarna-warni, sekarang tampak tandus dan putih, seperti ditutupi kain kafan dari alga yang oportunis.

Secara global, risiko pemutihan yang berat dan menengah setiap tahunnya meningkat sampai sekitar 4 persen setahun sejak tahun 1980an, dari sekitar 8 persen lokasi sampai 31 persen di tahun 2016. Di mana Atlantik Barat memiliki risiko tertinggi, diikuti oleh Australasia dan Timur Tengah.

Profesor Baird mengatakan bahwa sulit untuk mengetahui apakah keadaan seperti ini dapat berbalik, namun yang jelas 'jendela' untuk mengatasinya semakin berkurang. "Kita tidak mungkin mengetahui apakah ini merupakan akhir dari terumbu karang, tetapi hal ini bisa terjadi," ujarnya. "Kita benar-benar perlu mengatasi masalah perubahan iklim dengan segera."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR