Konsumsi video daring di Indonesia saingi televisi

Ilustrasi menonton televisi
Ilustrasi menonton televisi | Pixabay /Pixabay

Televisi adalah media yang paling sering dikonsumsi di Indonesia. Penonton di Indonesia menghabiskan waktu untuk menonton TV selama 7,8 jam seminggu.

Begitu temuan yang diungkapkan Akamai Technologies dan dan Kadence International dalam studi yang diterima Beritagar.id.

Namun ternyata angka tersebut hanya beda tipis dengan menonton video daring yang mencapai durasi 7,7 jam seminggu.

Temuan tersebut merupakan potret perkembangan pengguna ponsel pintar yang bertumbuh dengan pesat dan berkelanjutan.

Menurut studi, lebih dari 4,9 miliar gawai terhubung dengan internet. Dari jumlah tersebut, 371 juta di antaranya merupakan gawai yang digunakan di Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna internet tercepat, hal ini terlihat dari jumlah pengguna internet di Indonesia yang meningkat dibandingkan tahun 2016, dengan hampir tiga kali lipat dari rata-rata global dengan pertumbuhan 51 persen dari tahun ke tahun.

Perangkat seluler adalah satu-satunya perangkat yang paling sering digunakan untuk menonton video daring di negara-negara berkembang ASEAN, termasuk di Indonesia.

Revolusi perangkat seluler mengambil alih ruang video over-the-top (OTT) di negara dengan penduduk terbanyak keempat dunia ini. Indonesia menjadi pasar ponsel pintar terbesar ketiga di Asia Pasifik.

Selain itu, perangkat seluler masih menjadi hal yang utama bagi para pengguna di Indonesia. Jumlah pengguna internet dan ponsel pintar, ditambah dengan adanya penemuan di laporan Akamai dan Kadance yang menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi pemain OTT internasional dan lokal untuk memasuki pasar OTT di Indonesia, yang fokus pada perangkat seluler.

Lebih dari sepertiga konsumen yang diteliti juga sudah menonton konten video daring di aplikasi ponsel mereka. Ponsel kini dipandang menjadi gawai dari serangkaian media, yang tepat untuk mengonsumsi konten.

"Tahun 2020 diprediksi jumlah penonton video online akan lebih banyak dari pemirsa televisi," ujar Regional Sales Director Akamai, Adam Riley dikutip dari MetroTV News.com (26/10). "Menariknya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan penonton video online tertinggi di dunia."

Penelitian juga menunjukkan bahwa para penonton di Indonesia menginginkan variasi dan konten eksklusif saat berlangganan layanan video daring dan bersedia untuk berlangganan layanan video daring.

Selain itu, kehadiran layanan 5G, yang diperkirakan dapat diimplementasikan di Indonesia pada 2021, akan semakin meningkatkan permintaan masyarakat terhadap video daring.

"Hadirnya 5G dapat meningkatkan kecepatan internet, sehingga permintaan konten-konten online juga bertambah. Orang-orang akan bergerak dari 4G ke 5G, 3G ke 4G, dan akan semakin banyak yang menonton video secara online," kata Riley kepada detik inet (27/10).

"Dengan kecepatan rata-rata 7,2 Mbps, itu sudah cukup baik untuk OTT, apalagi untuk penggunaan mobile phone. Kecepatan tersebut juga masih bagus untuk diaplikasikan ke smart TV."

Hasil temuan lain dari penelitian ini meliputi:

Penonton di Indonesia bersedia untuk berlangganan layanan video daring, yang terdorong oleh aksesibilitas, keterjangkauan, dan konten eksklusif.

Sebanyak 61 persen para pengguna di Indonesia menunjukkan keinginan yang tinggi untuk berlangganan layanan daring berbayar karena dipengaruhi oleh berbagai konten dan harga.

Hal lain, keinginan mengonsumsi konten eksklusif berada di peringkat tertinggi yakni 56 persen ketika dibandingkan dengan Thailand (43 persen) dan Filipina (43 persen). Penonton Indonesia juga lebih menyukai konten internasional (55 persen) dibanding untuk konten lokal (45 persen).

Ada juga temuan mengenai iklan, yang mana iklan tidak akan hilang dalam waktu dekat. Sebesar 73 persen penonton Indonesia tidak berlangganan video daring saat ini.

Hal tersebut menunjukkan mereka tidak akan membayar layanan video daring meskipun iklan telah dihilangkan. Hal ini menjadi perbandingan tertinggi dengan negara ASEAN lainnya, seperti Thailand (67 persen) dan Filipina (60 persen).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR