PERUBAHAN IKLIM

Krisis minyak zaitun di Italia

Hasil panen zaitun.
Hasil panen zaitun. | Georgios Tsichlis /Shutterstock

Minyak zaitun telah diproduksi di Italia selama setidaknya 4.000 tahun. Namun, kini kebun zaitun di Italia Selatan sedang dilanda krisis.

Ancaman yang melanda pohon-pohon zaitun ini disebabkan oleh kombinasi perubahan iklim, bakteri, dan pencabutan ribuan pohon zaitun demi pipa Trans-Adriatik yang sedang dibangun di Puglia, wilayah penghasil zaitun utama Italia.

Akibatnya Italia mungkin harus mengimpor minyak zaitun dari negara lain. Padahal, selama ini minyak zaitun tidak hanya merupakan tulang punggung ekonomi lokal tetapi juga sektor nasional penting di negara ini.

Italia adalah salah satu pengekspor minyak zaitun besar di dunia. Rata-rata 400 ribu ton dijual di luar negeri setiap tahun.

Kondisi ini bisa dikatakan tahun terburuk bagi bisnis minyak zaitun. Bukan tidak mungkin krisis akan terus berlanjut sepanjang 2019.

The Guardian melaporkan rentetan cuaca buruk mengurangi panen zaitun tahunan di Italia sebesar 57 persen. Ini menjadikannya panen terburuk dalam 25 tahun. Buntutnya kerugian $1,13 miliar dolar yang harus ditanggung para petani zaitun.

Pohon zaitun di Italia telah mengalami tiga kali serangan pada tahun 2018. Pertama, hawa dingin pada bulan Februari 2018 menghantam negara Mediterania. Bahkan menyebabkan salju yang jarang turun di Roma.

Ini kemudian diikuti gelombang panas besar di seluruh Eropa selama musim panas. Juga bencana hujan dan banjir di beberapa bagian Italia pada bulan Oktober dan November.

Pohon zaitun tidak tahan menghadapi cuaca ekstrem. Menukil The Telegraph, tekanan perubahan iklim juga membuat pohon lebih rentan terhadap lalat zaitun.

Selain itu, patogen tanaman kuat--xylella fastidiosa--yang kemungkinan menumpang pada tanaman impor dari Kosta Rika telah merusak ratusan ribu pohon di Puglia, penghasil minyak zaitun yang penting.

"Tiga atau empat hari suhu 40 derajat Celsius di musim panas, atau 10 hari tanpa hujan di musim semi--bahkan dua hari suhu beku di musim semi--lebih penting daripada rata-rata tahun ini," ujar Riccardo Valentini, direktur Euro-Mediterranean Center for Climate Change.

Menurut Valentini, masalah yang akan menerpa pohon zaitun belum selesai sampai di sini. Bahkan tidak hanya melanda pohon zaitun di Italia tapi juga di penjuru Eropa dalam waktu dekat.

Cuaca ekstrem, kata Valentini, telah diprediksi sebagai salah satu dampak utama dari perubahan iklim. Petani zaitun perlu mengantisipasinya. "Kami tahu akan ada lebih banyak anomali dan cuaca ekstrem di masa depan," katanya.

Pohon zaitun bukan satu-satunya yang menderita. Pada bulan Februari, petani zaitun yang terkena dampak penurunan produksi zaitun pun turun ke jalan. Mereka menuntut dukungan pemerintah.

Negara-negara penghasil minyak zaitun lain di Eropa juga diperkirakan mengalami penurunan hasil panen. Panen di Portugal turun 20 persen.

Yunani melihat penurunan sebesar 42 persen. Kekhawatiran terbesar mereka adalah serangan lalat zaitun yang menurunkan kualitas minyak. Sebagian besar biasanya digolongkan sebagai minyak zaitun extra virgin.

Menurut Olive Oil Times, Spanyol adalah penyelamat dalam hal ini. Produksi minyak zaitun mereka musim ini diperkirakan meningkat 25 persen, mencapai 1,8 miliar ton.

Tidak seperti Italia dan Yunani, yang bergantung pada kebun zaitun tradisional, banyak daerah di Spanyol menanam lebih banyak perkebunan pohon zaitun dengan kepadatan tinggi dan tahan kekeringan.

Selama ini Italia menawarkan sekitar 500 varietas minyak zaitun. Namun, kekurangan tahun ini mungkin memaksa sebagian warganya untuk mencoba minyak dari luar negeri untuk pertama kalinya.

"Ini benar-benar perubahan besar dalam hidup kita. Orang Italia tidak pernah menggunakan minyak zaitun asing, sangat jarang Anda menemukan minyak dari negara lain," tukas Valentini.

Akibat krisis ini. Harga minyak zaitun pun melambung lebih dari 30 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR