KESEHATAN

Lemak berlebih di perut membuat otak menyusut

Ilustrasi obesitas.
Ilustrasi obesitas. | Thanyakorn /Shutterstock

Orang obesitas cenderung memperlihatkan penyusutan jaringan otak pada usia paruh baya. Terutama jika kelebihan berat badan terkonsentrasi di perut.

Ketika lingkar pinggang membesar, penampilan bukan satu-satunya gangguan. Ada sederet masalah kesehatan yang dipicu kelebihan berat badan.

Salah satunya terungkap lewat sebuah studi baru. Penelitian ini memberikan bukti kuat yang menghubungkan bobot ekstra--terutama dari lemak di sekitar perut--dengan penurunan volume otak.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan obesitas dengan kondisi neurologis. Hasilnya jauh dari positif. Bagaimana persisnya lemak ekstra ini memengaruhi fungsi otak?

"Penelitian yang ada telah mengaitkan penyusutan otak dengan penurunan daya ingat dan risiko demensia yang lebih tinggi, tetapi penelitian tentang apakah lemak tubuh ekstra melindungi atau mengganggu ukuran otak belum meyakinkan," kata penulis utama riset, Mark Hamer dari Loughborough University di Inggris.

Ada riset yang telah mengisyaratkan berkurangnya beberapa jenis sel otak dengan peningkatan kadar lemak tubuh. Ini menunjukkan potensi penyebab peningkatan risiko kondisi neurologis.

Tetapi tidak semua peneliti setuju dengan temuan ini. Terutama karena berat badan dapat berfluktuasi pada tahun-tahun sebelum diagnosis demensia.

Untuk mencoba mengungkap detailnya, para peneliti dalam studi terbaru ini membandingkan pengukuran indeks massa tubuh (BMI) dan rasio pinggang-pinggul dengan volume jaringan pembawa sinyal yang disebut grey matter dan jaringan white matter yang mendukung.

Setiap faktor sebelumnya telah diamati satu per satu. Bedanya kali ini peneliti mengamati mereka sebagai efek gabungan antara rasio pinggang-pinggul serta BMI.

Menukil CNN.com, peserta yang terlibat dalam penelitian ini ada 9.652 orang. Rentang usia mereka 40 hingga hampir 70 tahun.

Semua telah berpartisipasi dalam survei Biobank yang berbasis di Inggris. Kala itu tubuh mereka dipindai dengan peralatan magnetic resonance imaging (MRI).

Pengukuran tinggi dan berat badan keseluruhan digunakan untuk menghitung skor BMI. BMI adalah indikator obesitas tradisional yang meski akurasinya dikritik masih digunakan.

Massa lemak tubuh dicatat dan digabungkan dengan perincian lain untuk memberikan skor indeks lemak mediasi. Lingkar pinggang dan pinggul juga diukur untuk menghasilkan pengukuran lain yang mengindikasikan kenaikan berat badan.

Ini memberi tim peneliti bank informasi anatomi untuk menyaring dan membandingkan. Sampel yang memenuhi syarat mengalami obesitas jumlahnya tak sampai satu dari lima.

Sebagian besar kurang aktif secara fisik, cenderung memiliki penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat membuat perbedaan volume otak--seperti usia, kebiasaan merokok, dan olahraga--tim menemukan indeks massa tubuh saja bisa dikaitkan dengan sedikit penurunan volume grey matter.

Tetapi memiliki kedua faktor, BMI tinggi dengan rasio pinggang-pinggul tinggi ternyata merupakan kekhawatiran utama.

Sekitar 1.300 subjek termasuk dalam kategori ini. Rata-rata, mereka memiliki volume grey matter hanya 786 sentimeter kubik.

Sebagai perbandingan, 3.000 individu dengan BMI yang sehat dan rasio pinggang-pinggul rata-rata, volume nya 798 sentimeter kubik. Sedangkan mereka dengan BMI tinggi dan pinggang yang relatif ramping memiliki volume grey matter 793 sentimeter kubik.

Walau penelitian dapat menunjukkan kaitan, sifat hubungan keduanya masih bisa diperdebatkan. Ada kemungkinan, kelebihan lemak bisa berdampak pada sistem saraf pusat melalui sistem kardiovaskular.

Namun, penting untuk tidak segera menarik kesimpulan tentang kaitan keduanya. Sebab studi seperti ini tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa hilangnya grey matter entah bagaimana membuatnya lebih sulit untuk menurunkan berat badan.

Live Science menulis, salah satu keterbatasan studi ini adalah para peserta yang ambil bagian cenderung dalam kondisi sehat. Jadi hasilnya mungkin tidak berlaku sama pada populasi secara umum.

Bagaimanapun, penelitian ini menjadi contoh menarik untuk melihat hubungan antara obesitas dan neurologi. "Kami juga menemukan hubungan antara obesitas dan penyusutan di wilayah otak tertentu," kata Hamer.

"Ini akan membutuhkan penelitian lebih lanjut, tetapi mungkin saja suatu hari nanti mengukur BMI secara teratur dan rasio pinggang-pinggul dapat membantu menentukan kesehatan otak."

Hamer berpesan, lewat risetnya ia berharap orang dapat menjaga berat badan ideal dan menjaga aktivitas fisik serta pola makan. Hal senada disampaikan Dr. Claire Steves, dosen klinis senior di King's College London, Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Makalah ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan kesehatan secara keseluruhan dalam pengembangan penuaan kognitif dan demensia," ujar Dr. Stevens.

Kata Dr. Stevens, kini semakin jelas bahwa metabolisme dan peradangan seluruh tubuh berperan dalam neurodegenerasi. Keduanya dikaitkan dengan obesitas sentral yang disorot dalam penelitian ini. Memahami hubungan ini semakin penting, mengingat meningkatnya obesitas perut pada populasi secara keseluruhan.

Pakar lain Dr. James Pickett, kepala penelitian di Alzheimer's Society yang bukan bagian dari penelitian berkomentar, kaitan antara obesitas dan demensia sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

"Kita tidak tahu apa yang secara pasti menghubungkan obesitas, kesehatan otak, dan risiko demensia, tetapi ada kemungkinan kesehatan jantung yang lebih buruk berperan. Jalan cepat dan mengurangi camilan manis saja akan membantu menurunkan peluang Anda untuk mengalami demensia," papar Dr. Pickett.

Dengan begitu banyak temuan yang menghubungkan fisiologi usus dengan fungsi otak, seharusnya tidak terlalu mengejutkan bahwa lemak tubuh dan volume otak entah bagaimana berkaitan. Semakin para peneliti menyelisik hal ini, kaitannya pun terbukti makin kompleks.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR