BENCANA ALAM

Letusan Gunung Agung bisa turunkan suhu Bumi

Gunung Agung mengeluarkan asap tipis terlihat dari pos pengamatan di Desa Rendang, Karangasem, Bali, Jumat (1/12). Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana menyatakan aktivitas Gunung Agung pada Jumat (1/12) terlihat tenang tapi tetap terekam adanya tremor dan gempa vulkanik sehingga masyarakat harus tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas di zona bahaya yang telah ditentukan.
Gunung Agung mengeluarkan asap tipis terlihat dari pos pengamatan di Desa Rendang, Karangasem, Bali, Jumat (1/12). Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana menyatakan aktivitas Gunung Agung pada Jumat (1/12) terlihat tenang tapi tetap terekam adanya tremor dan gempa vulkanik sehingga masyarakat harus tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas di zona bahaya yang telah ditentukan. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Pulau Bali tengah ditimpa bencana alam meletusnya Gunung Agung. Ratusan ribu orang mesti dievakuasi, ribuan turis sempat terjebak tak bisa pulang ke daerah asal masing-masing karena ratusan penerbangan sempat dibatalkan.

Hingga saat ini erupsi masih terjadi dan semua tengah mengantisipasi kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar. Hingga saat ini erupsi gunung berapi adalah salah satu bencana alam yang masih belum bisa diprediksi dengan tepat.

Walau kerugian akibat bencana alam tersebut jelas membayang, letusan tersebut sebenarnya juga memberikan dampak positif bagi dunia. Salah satunya, seperti dilansir Vox adalah kemungkinan letusan tersebut meredam pemanasan global hingga lima tahun ke depan.

Para ilmuwan telah lama mengetahui sebuah letusan gunung berapi akan melepas berbagai material ke angkasa. Selain karbon dioksida yang mengurung panas, ada pula gas seperti sulfur dioksida, yang bisa membentuk senyawa yang mampu memantulkan panas cahaya matahari.

Selain itu material dari gunung berapi juga bisa mengubah pola curah hujan global di Bumi.

Jika jumlah material tersebut cukup banyak dan menutupi area yang luas, awan-awan itu punya kekuatan untuk membuat suhu dunia turun beberapa derajat. Namun, berapa besar penurunan suhu itu akan tergantung pada seberapa besar erupsinya.

"Sebagian besar letusan tidak memiliki dampak yang berarti terhadap iklim, sehingga risiko dari erupsi itu terbatas dirasakan hanya oleh populasi di dekatnya," tulisnya melalui surel kepada Vox (30/12). "Untuk (mengubah) iklim, hal besar yang perlu diperhatikan bukanlah abu tapi emisi sulfur."

Para pakar iklim juga pernah mengajukan gagasan kontroversial untuk meniru erupsi gunung berapi di Bumi untuk mencegah pemanasan global. Gagasan atau strategi ini dikenal sebagai geoengineering (perekayasaan kebumian).

Upaya tersebut termasuk dengan sengaja menyemprotkan awan sulfat ke dalam stratosfer untuk mengimbangi beberapa dampak perbuatan manusia terhadap iklim dunia.

Para ahli belum mengetahu tahu apakah erupsi yang sedang berlangsung di Bali akan memompa cukup banyak gas dan abu untuk memberi dampak yang terukur pada iklim. Akan tetapi, letusan Gunung Agung pada 1963 menurunkan suhu global sekitar 0,1 hingga 0,2 derajat Celsius selama satu tahun.

Letusan gunung berapi terbaru yang menurunkan suhu planet adalah Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991. Letusan tersebut memuntahkan sekitar 10 juta metrik ton sulfur ke langit. Sedangkan letusan Gunung Agung pada tahun 1963 hanya memuntahkan sekitar 6 juta metrik ton sulfur.

Penjelasan lebih lengkap mengenai kemungkinan pengaruh letusan Gunung Agung pada suhu Bumi disampaikan peneliti iklim Zeke Hausfather dalam situs CarbonBrief.

Jika erupsi cukup kuat dan bisa mencapai stratosfer (18 km di atas permukaan laut pada ekuator) sulfur yang disemburkan bisa bertahan selama beberapa tahun sehingga efeknya pada penurunan suhu Bumi terasa kuat.

Lokasi gunung berapi juga menentukan. Erupsi vulkanik di dekat garis khatulistiwa akan lebih berperan pada temperatur global dibandingkan erupsi gunung yang jauh dari ekuator.

Pasalnya, aerosol sulfat dari gunung yang meletus di garis lintang tinggi tidak bisa melewati khatulistiwa. Sementara, letusan yang terjadi di dekat khatulistiwa cenderung mendinginkan kedua belahan Bumi.

Dalam grafik di bawah ini, Hausfather menggambarkan apa yang akan terjadi pada suhu global jika letusan Agung saat ini mencapai skala yang sama dengan letusan pada 1963 di tengah tren pemanasan global saat ini.

Kemungkinan dampak iklim letusan Gunung Agung jika kekuatan erupsinya sama dengan yang terjadi pada 1963.
Kemungkinan dampak iklim letusan Gunung Agung jika kekuatan erupsinya sama dengan yang terjadi pada 1963. | Carbon Brief /Highcharts

Titik hitam adalah suhu aktual Bumi saat itu, sementara area abu-abu menunjukkan tiga letusan besar sejak 1960 (Gunung Agung, El Chichon, dan Pinatubo). Garis merah adalah perkiraan Carbon Brief soal pemanasan Bumi akibat gas rumah kaca, gunung berapi, dan perubahan sinar matahari.

Sementara garis biru menurun setelah 2016 menunjukkan apa yang terjadi pada suhu global jika letusan Gunung Agung sama besar dengan yang terjadi pada 1963.

"Proyeksi ini, yang berdasarkan pada hubungan sejarah antara erupsi vulkanik dan temperatur, menunjukkan bahwa erupsi Gunung Agung bisa menurunkan suhu global antara 0,1C hingga 0,2C pada periode 2018-2020. Temperatur akan kembali pada suhu yang seharusnya pada 2023," tulis Hausfather.

Prediksi Hausfather itu menunjukkan bahwa erupsi gunung berapi memang berpengaruh pada suhu global, akan tetapi tidak cukup besar untuk bisa mengalahkan pencemaran oleh manusia yang efeknya terhadap iklim dunia jauh lebih tahan lama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR