PRIVASI DATA

Lindungi data pengguna, Instagram batasi akses API

Ilustrasi logo Instagram.
Ilustrasi logo Instagram. | Sascha Steinbach /EPA-EFE

Skandal data pengguna yang terjadi pada Facebook beberapa waktu lalu ternyata juga mempengaruhi Instagram. Oleh karena itu, sebelum layanan berbagi foto dan video tersebut kehilangan para penggunanya, mereka bergerak cepat membuat perubahan terhadap keamanan data penggunanya.

Seperti dilansir Recode, Senin (2/4/2018), Instagram membatasi akses Application Programming Interface (API) untuk pengembang dan seberapa sering orang lain dapat menggunakan API untuk mengumpulkan data penggunanya.

API adalah sekumpulan perintah, fungsi, dan protokol yang digunakan oleh pembuat program saat membangun perangkat lunak untuk sistem operasi tertentu. Secara sederhana, API adalah jembatan komunikasi antara sebuah program dengan program lainnya.

Pengembang bisa menentukan kepada siapa saja akses kepada API program buatannya dibuka dan data apa saja yang bisa diambil atau digunakan oleh mereka yang berinteraksi dengan API tersebut.

Sejak 2013, Instagram belum pernah sama sekali memperbarui persyaratan layanan mereka. Padahal, tiap harinya ratusan juta pengguna mengunggah foto dan video ke platform tersebut. Bahkan, Instagram punya hak mengumpulkan foto, komentar, dan berbagai materi lain yang diunggah pengguna.

Perubahan dadakan tersebut baru diketahui oleh para pengembang pekan lalu. Tidak seperti biasanya, mereka merasa mendapat pengurangan ping terhadap API Instagram yang dibutuhkan untuk memperbarui informasi. Perusahaan itu mengurangi frekuensi ping dari 5.000 ping per jam menjadi 200 ping per jam.

Dalam kasus lainnya, beberapa pengembang malah tidak bisa mengakses API sama sekali. Mereka tidak mendapat pemberitahuan resmi terkait perubahan aturan tersebut.

Dengan pembatasan tersebut, pengembang tidak dapat menarik data dari Instagram terlalu sering. Untuk beberapa industri yang mengandalkan akses ke data Instagram seperti layanan pelanggan atau pemasaran, perubahan aturan tersebut dapat menyulitkan mereka dalam mengatasi keluhan pelanggan.

Sebelumnya seperti dinukil 9to5mac (3/4), Instagram memang sempat menyinggung, bahwa mereka berencana untuk melakukan penyesuaian pengaturan akses data pengguna mereka. Namun, saat itu dijadwalkan akan mulai diberlakukan pada musim panas hingga tahun 2020 mendatang.

Beberapa pengembang mencurigai perubahan itu adalah bagian dari upaya Instagram untuk meningkatkan privasi di tengah serangkaian skandal data yang melibatkan pihak Cambridge Analytica akhir bulan lalu.

Saat itu terungkap lebih dari 50 juta data pengguna Facebook yang bocor ke pihak Cambridge Analytica. Setelah diusut, data tersebut bocor dari sebuah aplikasi pihak ketiga, yang memiliki kemampuan untuk mengambil data pengguna Facebook dan para penggunanya.

Dalam seminggu terakhir, Facebook mengumumkan telah menyetop mitra kerja sama mereka dengan beberapa aplikasi pihak ketiga.

TechCrunch (2/4) melaporkan bahwa Facebook juga berencana mengharuskan perusahaan untuk membuat persetujuan konsumen dalam mendapatkan alamat surel para penggunanya, yang mereka gunakan untuk penargetan iklan melalui Audiens khusus.

Efek dari skandal data Facebook itu membuat reaksi publik membuat tagar #DeleteFacebook dan mengabaikan anak perusahaannya seperti Instagram dan WhatsApp.

Sayangnya hingga saat ini, pihak Instagram masih enggan memberikan penjelasan terkait dengan masalah pembatasan API ini. Begitu pun dengan pihak Facebook yang menghindar dari pertanyaan tersebut.

Terkait masalah API, ini bukanlah kali pertama dilakukan Instagram. Beberapa tahun lalu, tepatnya pada akhir 2015, setelah sempat ramai dengan berita aplikasi InstaAgent yang mencuri data pengguna, Instagram langsung mengumumkan pembaruan API yang tengah dikerjakan. Setelah itu disusul dicabutnya aplikasi tersebut dari App Store dan Play Store.

Kemudian, Instagram juga membatasi beberapa akses API dan memilih pengembang mana saja yang akan diberikan akses tentunya jika dianggap tidak melanggar aturan. Saat itu, Instagram menjelaskan fitur apa saja yang tidak diizinkan. Mulai dari membagikan konten dari Instagram, menjadikan foto profil akun media sosial, dan beberapa hal lainnya.

Saat ini, menurut TechCrunch, Instagram tercatat sebagai platform media sosial dengan jumlah pengguna terbanyak ke-7 di dunia. Total pengguna Instagram di dunia mencapai angka 800 juta, dengan 500 juta pengguna aktif per harinya. Untuk melindungi data ratusan juta penggunanya, langkah yang dilakukan Instagram ini sudah sangat tepat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR