PROYEK ILMIAH

LIPI siapkan singkong pemusnah kantong plastik

Pelet bio-plastik berbahan alami tanpa zat plastik dari singkong dan glycerol produksi tim peneliti di Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bandung.
Pelet bio-plastik berbahan alami tanpa zat plastik dari singkong dan glycerol produksi tim peneliti di Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bandung. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

​Teknologi hijau alias ramah lingkungan mencetuskan beragam ide dan kreativitas baru di penjuru bumi. Misalnya soal sampah plastik yang disambut dengan kelahiran beberapa produk kantong plastik terurai berteknologi biodegradable plastic alias bio-plastik.

Saat ini menurut Akbar Hanif Dawam Abdullah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada dua pendekatan untuk menghasilkan plastik terurai. Pertama, berbahan baku sumber alam seperti singkong dan jagung.

Konsep produk itu memadukan plastik dengan bahan alami. Beberapa produsen di Indonesia lazim memakai pati atau tepung singkong. Harapannya ketika kantong bio-plastik itu menjadi limbah, mikroba dalam tanah akan melahapnya.

Cara kedua berbasis plastik sintetis ditambahkan senyawa yang memutus rantai polimer. Namun cara itu masih menyisakan masalah. "Mikroba tidak bisa memotong rantai polimer di plastik," kata Dawam di LIPI Bandung, Senin (24/3/19)

Dari beberapa diskusi, model kedua berpotensi menghasilkan mikroplastik yang berbahaya. Dalam satu struktur polimer berantai panjang, rantai yang terputus itu tetap jadi polimer yang disebut mikroplastik.

Berukuran kecil hingga tidak terlihat, mikroplastik bisa masuk ke tanah, aliran sungai, ke laut. "Ini yang berbahaya malahan, bisa dimakan makhluk hidup juga manusia," kata staf dari Loka Penelitian Teknologi Bersih di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

Tim Dawam di LIPI mengulik cara baru sejak 2016. Tujuan besarnya, mereka ingin mengganti semua plastik yang seluruh limbahnya bisa terurai di alam.

Meskipun istilahnya tetap bio-plastik, mereka mengenyahkan bahan plastik total dalam racikannya. "Bahannya 75 persen dari singkong sisanya plastisizer (Glycerol)," kata Dawam.

Pati atau tepung singkong yang diolah dengan campuran air bakal menjadi kanji. Ketika kering akan mengeras dan mudah getas. Plastisizer diperlukan sebagai pengenyal sehingga bahan bio-plastik ini bisa elastis.

Cara membuatnya, adonan itu dimasukkan dengan komposisi tertentu ke dalam wadah mesin mixer extruder. Bahan itu diaduk dengan putaran 60 rpm sambil dipanaskan sekitar 130-150 derajat Celcius. Bahan bio-plastik itu lalu otomatis dikeluarkan seperti tali panjang.

Bentuknya pipih berwarna putih dan keras. Tali bio-plastik itu lalu disambungkan ke mesin peletizer. Mesin conveyor yang dipasang di tengah kedua mesin tersebut menjadi semacam jembatan pengantar.

Mesin peletizer mengubah tali bio-plastik menjadi pelet atau biji plastik. Ukurannya bisa diatur sesuai keinginan pemesan. Kapasitas mesin yang dipakai LIPI masih skala semi industri dengan hasil sekitar 3 kilometer per jam.

Pati atau tepung singkong, kata Dawam, strukturnya mirip dengan polimer. Kondisi itu dinilainya selaras untuk membuat bio-plastik.

Soal ketersediaan bahan baku, saat ini Indonesia menjadi penghasil singkong nomor tiga dunia. Thailand yang terbanyak, selanjutnya Nigeria.

Menurut Dawam pada 2016 jumlah produksi singkong Indonesia mencapai 26 juta ton. “Sentra utama singkong di Lampung dan Pati, Jawa Tengah,” ujarnya.

Harga tepung singkong curah di pabriknya langsung Rp10 ribu per kilogram. Adapun jika dikirim paket per kilogram sekitar Rp25 ribu. "Waktu panen tiba harga pati singkong jatuh sampai ditaruh di jalan silakan ambil," kata dia.

Selain itu, tidak ada perebutan bahan pati untuk pangan dan industri. Namun begitu harga produk bio-plastik LIPI ini ditaksir masih mahal. Kisarannya empat kali lipat dari harga kantong kresek biasa.

Alasannya terkait kondisi pengembangan teknologi bio-plastik saat ini yang baru satu persen. Produksinya pun masih sangat minim, sehingga biayanya lebih besar.

Staf peneliti di Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bandung, Akbar Hanif Dawam Abdullah, menunjukkan cara pembuatan bio-plastik berbahan pati singkong dan glycerol, Senin (25/3/19).
Staf peneliti di Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bandung, Akbar Hanif Dawam Abdullah, menunjukkan cara pembuatan bio-plastik berbahan pati singkong dan glycerol, Senin (25/3/19). | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Tantangan lain terkait sifat material utama. Pati singkong menurut Dawam harus dijauhkan dengan air, pun udara lembab yang tinggi. “Kalau kena air bio-plastik singkong bisa langsung larut,” katanya.

Ketika pengguna memakainya saat hujan, kantong kresek bio-plastik akan rusak. Tim LIPI kini masih meneliti bahan yang bisa membuat bio-plastiknya seperti plastik sekarang. Kuncinya pada campuran bahan lain agar tahan air.

Adapun mesin skala industri kata Dawam bisa menghasilkan 15 kilogram pelet per jam. Nantinya pelet itu yang diolah produsen untuk menjadi aneka wujud, seperti kantong plastik atau kemasan makanan.

"Bungkus bumbu mi instan bisa diganti, tinggal cemplungin bisa ikut dimasak," ujar Dawam.

Setidaknya ada dua target utama penggunaan bio-plastik versi LIPI ini. Pertama untuk mencegah penggunaan kantong plastik konvensional yang materialnya dari minyak bumi. Kedua sebagai kemasan makanan yang bisa melebur untuk disantap.

Berdasarkan data 2014, penggunaan plastik tidak kurang dari 10 kilogram per orang per tahun dan semakin meningkat setiap tahunnya. Penggunaan plastik paling banyak untuk kemasan makanan, sekitar 60 persen.

"Hal ini menimbulkan masalah karena sampah plastik dari bahan baku minyak bumi membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai," kata Dawam.

Sementara Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam keterangan tertulis pada 2018 menyatakan Indonesia mencatat rekor dunia. Gelarnya penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia dan dibuang ke laut.

"Sampah plastik sangat berbahaya," ujarnya.

Merujuk data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia sebanyak 64 juta ton per tahun. Sampah plastik yang mencemari laut 3,2 juta ton.

Adapun kantong plastik yang terbuang ke lingkungan mencapai 10 miliar lembar per tahun. Jumlahnya setara 85 ribu ton kantong plastik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR