MANUSIA PURBA

Lucy bukan lagi nenek moyang manusia

Ilustrasi evolusi manusia.
Ilustrasi evolusi manusia. | Bobrova Natalia /Shutterstock

Lucy. Namanya mungkin begitu seksi, khas orang-orang barat. Artinya cahaya. Namun, dalam sejarah kehidupan manusia, Lucy memiliki posisi penting--setidaknya begitu yang dipercaya sebagian kalangan.

Dia disebut-sebut sebagai nenek moyang manusia setelah seorang paleoantropologis asal Amerika Serikat, Donald Johanson, menemukan 40 persen kerangka kera di daerah Hadar, Awash, Etiopia, pada 1974.

Lucy bukanlah manusia, melainkan kera yang mampu berdiri tegak dan berjalan.

Teori itu kini mulai diragukan. Pasalnya, baru-baru ini seorang peneliti asal Etiopia, Yohannes Haile-Selassie, menemukan fosil spesies lain yang ciri-cirinya sama dengan Lucy tapi berusia lebih tua.

Serpihan pertama fosil itu, berupa potongan rahang bagian atas, ditemukan pada 10 Februari 2016. Kemudian ditemukan beberapa bagian tengkorak lainnya yang ternyata cocok. Temuan itu tidak diberi nama, hanya disebut "MRD", sesuai nama desa tempatnya ditemukan, Miro Dora.

Apa kaitan Lucy dengan MRD?

Lucy, yang namanya diambil dari lagu The Beatles berjudul "Lucy in the Sky With Diamonds", merupakan spesies yang berasal dari jenis Australopithecus afarensis.

Spesies tersebut dianggap sebagai leluhur langsung manusia purba pertama dalam pengelompokan, atau genus, evolusi manusia--dikenal sebagai Homo. Sedangkan nenek moyang A. afarensis adalah Australopithecus anamensis.

A. afarensis dipercaya hidup antara 3,9 juta tahun sampai 2,9 juta tahun yang lalu. Dan Lucy, diperkirakan hidup pada 3,4 juta tahun yang lalu. Namun, setelah bertahan 4,5 dekade, gambaran Lucy sebagai nenek moyang manusia kini diragukan.

Fosil tengkorak MRD yang ditemukan di desa Miro Dora, Etiopia, pada 2016.
Fosil tengkorak MRD yang ditemukan di desa Miro Dora, Etiopia, pada 2016. | Yohannes Haile-Selassie /Cleveland Museum of Natural History

Pasalnya, Yohannes, yang berafiliasi dengan Cleveland Museum of Natural History, Ohio, AS, mengemukakan bahwa penemuan barunya di Distrik Mille Afar, Etiopia, tersebut juga memiliki ciri-ciri yang sama dengan Lucy: kera berdiri tegak dan berjalan.

Dan, penemuannya itu merupakan spesies dari jenis A. anamensis--australopithecine tertua yang usianya diketahui kisaran 4,2 juta tahun yang lalu.

Artinya, nenek moyang manusia bukanlah Lucy, yang berasal dari spesies afarensis. Bisa jadi spesies A. anamensis yang ditemukan Yohannes.

"Saya berpikir dalam hati, 'ya ampun, apakah saya melihat apa yang saya pikir saya lihat?'. Dan tiba-tiba saya melompat-lompat. Saat itulah saya menyadari bahwa inilah yang saya impikan selama ini," kata Yohannes kepada BBC, Rabu (28/8/2019).

Yohannes pun kini berani mengatakan bahwa "semua taruhan sudah berakhir" untuk menentukan spesies mana yang merupakan leluhur manusia. Ia percaya bahwa A. anamensis merupakan kandidat terbaik sebagai leluhur manusia.

"Sekarang kita dapat melihat kembali semua spesies yang mungkin ada pada saat itu dan memeriksa yang mana yang paling mungkin seperti manusia pertama," ucap Yohannes.

Penemuan Yohannes ini telah dipublikasikan oleh Jurnal Nature pada Juli 2019 dan ditanggapi oleh sejumlah kalangan. Salah satunya adalah Prof. Fred Spoor dari London's Natural History Museum.

Menurut Spoor, penemuan Yohannes tadi kemungkinan akan menjadi ikon baru dalam evolusi manusia. Alasannya, menurut dia, sekarang masyarakat dapat mengatakan bahwa anamensis dan afarensis sebenarnya bersinggungan dalam waktu.

Yang pertama posisi anamensis dan afarensis tidak berevolusi secara langsung secara linear teratur, seperti yang diduga sebelumnya. Paling tidak, kedua spesies tersebut hidup berdampingan setidaknya selama 100.000 tahun.

"Tampaknya (penemuan Yohannes) akan menjadi ikon evolusi manusia yang terkenal," ucap Spoor, seperti yang dikutip dalam Financial Times.

The Face of Lucy’s Ancestor Revealed /The Cleveland Museum of Natural History
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR