SAMPAH PLASTIK

Makhluk laut dalam kini juga terkontaminasi plastik

Ilustrasi makhluk laut dalam, amphipoda. Hidup di lautan terdalam Bumi ternyata tak menyelamatkan mereka dari polusi plastik.
Ilustrasi makhluk laut dalam, amphipoda. Hidup di lautan terdalam Bumi ternyata tak menyelamatkan mereka dari polusi plastik. | Solodov Aleksei /Shutterstock

Hewan yang hidup di palung samudra terdalam ternyata tak bebas dari polusi plastik. Tim peneliti gabungan dari universitas dan lembaga penelitian di Inggris Raya menemukan serpihan sampah plastik telah masuk dalam sistem pencernaan (hindgut) hewan yang hidup di laut dalam.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan oleh jurnal Royal Society Open Science, para peneliti dari Newcastle University, University of Aberdeen, dan Scottish Association of Marine Science, menjelaskan bagaimana mereka menemukan mikroplastik pada sistem pencernaan amphipoda Lysianassid (Lysianassoidea amphipods)--hewan laut dalam yang mirip udang.

Penelitian dilakukan pada enam palung di Lingkar Pasifik (Pacific Rim), yaitu Palung Peru-Chili di kawasan tenggara Pasifik, New Hebrides dan Palung Kermadec di bagian barat daya Pasifik, serta Palung Jepang, Palung Izu-Bonin, dan Palung Mariana di daeerah barat laut Pasifik.

Tim peneliti itu memberi umpan, menangkap, dan membedah makhluk yang hidup pada kedelaman lebih dari 6.000 meter tersebut. Hasilnya mencengangkan. Sistem pencernaan dari sekitar 72 persen hewan yang mereka tangkap ternyata mengandung sedikitnya satu partikel mikro plastik.

Bahkan, 100 persen sampel hewan yang ditangkap di Palung Mariana--palung terdalam di antara enam tempat itu--ternyata mengandung plastik.

Dampak plastik di laut yang lebih dangkal terhadap hewan telah lama diketahui--seperti paus sperma yang tewas di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, November lalu. Namun hasil penelitian terbaru ini menunjukkan polusi plastik telah menyebabkan masalah yang lebih dalam dari yang disadari sebelumnya.

Eksplorasi laut dalam masih jarang dilakukan karena mahal dan memakan waktu. Temuan baru ini menunjukkan bahwa nyaris tak ada area di lautan yang bebas dari kontaminasi polusi plastik dalam berbagai bentuknya.

"Ini bukan temuan kebetulan. Samudra Pasifik menutupi setengah planet. Tempat studi kami di lepas pantai Jepang dan Peru dan Chile terpisah jarak ribuan kilometer," kata Alan Jamieson, ahli biologi laut dari Newcastle University dan penulis utama studi, dikutip National Geographic (28/2).

"Kami sekarang bisa dengan yakin mengatakan bahwa plastik ada di mana-mana."

Jamieson meminta semua pihak untuk tak lagi mempertanyakan dan mencoba mencari lebih banyak bukti polusi plastik di lautan. Ia mengajak semua untuk lebih memusatkan perhatian pada apa yang harus dilakukan untuk mengetahui dampak polusi tersebut, juga cara mengatasinya.

Apalagi, plastik yang sudah sampai di laut dalam bakal menumpuk di sana, karena tak mungkin ke mana-mana lagi. Sampah itu lalu dikonsumsi oleh amphipoda yang tak punya banyak pilihan makanan.

"Jika Anda mencemari sungai, maka ia bisa disiram bersih. Jika Anda mencemari garis pantai, bisa disapu oleh pasang surut. Tapi, di titik terdalam samudera, ia hanya duduk di sana. Tidak bisa mengalir dan tidak ada hewan yang masuk dan keluar dari palung itu," tutur Jamieson dalam The Guardian.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2017, pada 2015 lebih dari 8,3 miliar metrik ton plastik telah diproduksi oleh manusia sejak 1950-an. Lebih dari 6,3 miliar ton itu telah dibuang dan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau lingkungan.

Sulit untuk mengetahui dengan tepat berapa banyak yang berhasil masuk ke lautan. Tetapi sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa angka tersebut mencapai 12,7 juta metrik ton pada tahun 2010 saja. Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok.

Sementara, mengutip Sky News, saat ini ada lebih dari 5 miliar potongan plastik dengan berat total 250.000 ton masih mengambang di permukaan laut.

Kehadiran partikel plastik memprihatinkan karena dapat menarik PCB dan racun lainnya. Mereka dapat melepaskan bahan kimia mereka sendiri, tergantung pada apa bahan mereka dibuat. Dalam hal ini, lyocell, rayon, ramie, polyvinyl, dan polyethylene.

Keberadaan partikel secara fisik di perut makhluk kecil menimbulkan gangguan, menghalangi saluran pencernaannya, dan menghambat mobilitas. Potongan yang ditemukan juga relatif besar.

"Contoh terburuk yang saya lihat adalah serat ungu, panjang beberapa milimeter, terikat pada hewan tidak lebih dari satu sentimeter," kata Jamieson. "Bayangkan jika kamu menelan seutas tali polypropylene."

Pada tahun 2014, para peneliti menemukan dasar laut terdalam di dunia berserakan puing-puing plastik. Sekarang, penelitian terbaru ini melengkapi lingkaran kontaminasi plastik, menjadikannya jelas bahwa lautan dunia dipenuhi sampah dan kontaminan potensial.

Ini juga menggambarkan bahwa tempat-tempat terdalam di lautan lebih tercemar daripada yang diperkirakan. Karena, untuk mengingatkan kembali, plastik yang jatuh dari daratan tidak memiliki tempat lain untuk pergi begitu menyentuh dasar lautan terdalam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR