BUAH-BUAHAN

Manggis dalam perjudian hingga kesehatan

| Antyo / Beritagar.id

Tebak buah manggis. Itu permainan anak zaman baheula. Sebagai istilah masih hidup. Namun sebagai praktik, mungkin harus dicek dulu di kalangan anak-anak: apakah mereka pernah memegang manggis (Garcinia mangostana), bahkan tahu cara membukanya lalu memakannya.

Tebak buah manggis adalah menebak jumlah daging buah. Sepele. Untung-untungan. Sehingga tebak buah manggis pernah menjadi lagu abad lalu: "Tebak-tebak Buah Manggis" (Muchlas Ade Putra, 1980-an).

Permainan menebak jumlah isi buah ternyata pernah menjadi perjudian. Fandy Hutari dalam Alif.id, melaporkan temuannya dari majalah Varia tahun 1958: judi tebak manggis sedang marak di Jakarta. Misalnya di Senen, Pancoran, dan Jembatan Merah. Biasanya lokasi berjudi manggis di sekitar pasar atau dekat bioskop.

Perjudian tebak manggis itu menguntungkan penjual buah. Jika manggis biasa, yang berisi lima ulas daging, seharga Rp3,5 hingga Rp5 per ikat (isi 25 buah), untuk yang istimewa bisa sampai Rp15 per buah. Disebut istimewa karena isi ulas adalah tiga, empat, delapan, sembilan, hingga sebelas. Di tangan bandar buah istimewa akan mendatangkan uang.

Bisnis manggis

Lantas bagaimana nasib buah manggis hari-hari ini? Ternyata bikin meringis.

Dari Sukabumi, Jawa Barat, pekan lalu terlaporkan harga manggis ekspor jatuh. Menurut Kepala Seksi Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Deni Ruslan, harga manggis jadi Rp7.000 – Rp15.000 per kilogram. Padahal dalam musim manggis awal tahun lalu harganya Rp30.000 – Rp40.000 per kilogram.

Penyebabnya, kata Deni, adalah banjir pasokan. "Mudah-mudahan panen di Thailand itu pas awal bulan Februari 2019 akan selesai. Nah, harapan di bulan Februari saat di Sukabumi sedang panen raya, harga ekspornya bisa meningkat lagi," ia berharap (h/t SukabumiUpdate.com).

Sedangkan di Bali, April tahun lalu muncul optimisme manggis tanpa menebak isi. Ketua Asosiasi Petani Manggis Kabupaten Tabanan Jero Tesan, saat itu berencana mengembangkan 50 ha lahan manggis di Pupuan dan Selemadeg Barat Tabanan.

“Setiap tahun ada perluasan lahan manggis. Bahkan masih banyak lahan-lahan di Bali yang berpotensi dikembangkan manggis lagi,” kata Tesan (h/t BaliPost.com).

Kulit manggis melawan kanker?

Dulu kulit manggis tak dilirik. Namun sekitar sepuluh tahun terakhir informasi tentang khasiat kulit terus menyebar.

Tersebutkan dalam seliweran info bahwa sari kulit manggis selain bagus untuk merawat kulit manusia juga berkhasiat untuk membantu mengatasi diare, eksem, gangguan menstruasi, hingga... mengobati tuberkulosis, kanker, dan gonore (kencing nanah).

WebMD, sebuah situs kesehatan bereputasi di Amerika Serikat, mengingatkan bahwa semua cerita mustajab dari pemasar itu belum terbuktikan secara ilmiah.

Hal serupa dinyatakan oleh artikel yang diselia oleh Dokter Allert Noya dalam Alodokter. Maka artikel itu menyarankan agar masyarakat membeli ekstrak kulit manggis dengan mencermati label. Adakah izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)?

Anda dapat mencoba mengetikkan "kulit manggis" dalam pencarian di laman BPOM.

Pewarna alami batik

Saru hal yang sudah terbuktikan tentang daya kulit manggis adalah jejak warna pada kain melekat kuat. Dicuci kuat-kuat pun belum tentu luntur.

Maka sembilan tahun silam sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan pewarna alami batik dari kulit manggis.

Menurut laman Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNY, dua kilogram kulit manggis kering dapat menghasilkan 80 liter pewarna. Cerita tentang pewarna alam untuk batik, termasuk dari kulit manggis, terpaparkan dalam laman Batik Bumi.

Hal lain tentang manggis dalam seni, ada sosok bernama pena Kembangmanggis. Dia pelukis, penulis, dan pemilik beberapa kedai di Bogor, Jawa Barat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR