KECERDASAN BUATAN

Manusia 1 - 4 AlphaGo, bukti bangkitnya kecerdasan buatan

Lee Sedol (kanan) saat menghadapi AlphaGo di Seoul, Korea Selatan.
Lee Sedol (kanan) saat menghadapi AlphaGo di Seoul, Korea Selatan. | EPA/Yonhap

Pertarungan antara manusia versus mesin, yang notabene ciptaan manusia, selalu menarik untuk disaksikan. Begitu pula ketika juara dunia permainan Go dari Korea Selatan, Lee Sedol, menghadapi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) AlphaGo.

Mereka bertanding dengan sistem best-of-five games mulai 8 Maret 2016 di Seoul, Korea Selatan. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah USD1 juta dari Google.

Go adalah sebuah permainan papan strategi di mana dua pemain --pemegang bidak hitam dan putih-- berupaya untuk menjadi yang paling dominan. Permainan ini berasal dari Tiongkok dan sudah dimainkan sejak 2.500 tahun lalu.

Aturan permainan ini sederhana, tetapi kemungkinan langkahnya jauh lebih kompleks dibandingkan catur. Menurut IFLScience ada sekitar 1x10 pangkat 170 (angka 1 dengan 170 buah angka 0 di belakangnya) kemungkinan konfigurasi dalam permainan Go.

Tak seperti catur, tidak ada panduan pasti bagaimana cara memainkan Go yang baik. Sebagian besar pemain, seperti ditulis Andrew McAfee dan Erik Brynjolfsson di laman opini The New York Times, menjadi hebat karena intuisi mereka, sehingga kesulitan untuk menjelaskan bagaimana caranya agar piawai bermain Go.

Kompleksitas tersebut membuat banyak yang berasumsi hampir tak mungkin mengajari komputer bermain Go apalagi menguasainya dengan baik.

Papan permainan Go.
Papan permainan Go. | Jeon Heon-Kyun/EPA

Lee Sedol adalah salah satu yang terbaik pada permainan go, disebut "baduk" di Korea. Pria berusia 33 tahun itu kini adalah pemegang Dan-9, peringkat tertinggi dalam Go, setara dengan Grandmaster pada catur.

Ia sudah menjadi pemain profesional sejak usia 12 tahun, menang pada lebih dari 1.000 pertandingan, dan 18 kali menjadi juara dunia.

Oleh karena itu, pada awalnya nyaris tak ada yang menjagokan AlphaGo, sebuah program AI buatan DeepMind, perusahaan yang didirikan Demis Hassabis dan Mustafa Suleyman, pada 2010 dan kemudian diakuisisi Google pada 26 Januari 2014.

Memang pada 1997, sebuah komputer buatan IBM Deep Blue berhasil mengalahkan Grandmaster catur Gary Kasparov, tetapi, sekali lagi, Go jauh lebih kompleks untuk dipelajari daripada catur. Para ahli komputer dan kecerdasan buatan memperkirakan masih butuh 10 tahun lagi sebelum komputer bisa menundukkan manusia dalam permainan Go.

Lee pun lalu dijagokan menang 5-0 atau setidaknya 4-1 walau AlphaGo telah mempersiapkan diri dengan menaklukkan juara Go Eropa, Fan Hui, 5-0 di London pada Oktober 2015.

Tetapi AlphaGo meruntuhkan segala perkiraan tersebut dengan menyapu bersih kemenangan pada tiga pertandingan awal.

"Hari ini saya tak bisa berkata-kata," kata Lee, seperti dikutip Wired. "Sejak awal permainan, saya tak pernah merasa bisa memimpin."

Baru pada pertandingan keempat Lee bangkit, menang, dan mendapat sambutan yang sangat meriah.

"Saya belum pernah mendapat ucapan selamat semeriah ini hanya karena menang pada satu pertandingan," kata Lee, dinukil BBC.

Tetapi AlphaGo kembali menang pada pertandingan terakhir, Selasa (15/3/2016), menutup seri dengan keunggulan 4-1, dan merebut hadiah USD1 juta. Google menyatakan hadiah tersebut akan disumbangkan untuk badan amal.

Kemampuan untuk belajar

Rahasia kemenangan AlphaGo adalah kemampuannya untuk terus belajar.

Program komputer itu dirancang oleh sang pencipta, Demis Hassabis, untuk terus memperbaiki diri dengan cara bertanding melawan dirinya sendiri jutaan kali dan mempelajari ribuan pertandingan Go.

"Kami menyebutnya penguatan pembelajaran dalam," kata Hassabis dalam wawancara dengan The Guardian. "Itu adalah kombinasi antara belajar mendalam, jaringan neural, dengan penguatan pelajaran.

"Jadi ia belajar melalui percobaan dan kesalahan, lalu secara bertahap belajar dari kesalahan itu sehingga akhirnya bisa memperbaiki pengambilan keputusan."

Saat berkompetisi, AlphaGo dijalankan oleh jaringkan komputer awan milik Google, menggunakan 1.920 prosesor dan 280 GPU (graphic processing unit), serta cip khusus yang mampu melakukan penghitungan simpel dalam jumlah yang banyak. Sementara versi sederhana program ini "hanya" butuh sebuah komputer dengan 48 prosesor dan delapan GPU.

Keberhasilan AlphaGo mengalahkan manusia dalam permainan Go ini mempercerah harapan untuk menciptakan AI yang lebih baik dan berguna bagi manusia.

Hassabis menyatakan bahwa menguji AI dalam sebuah permainan adalah jalan terbaik untuk menguji algoritma yang pada akhirnya akan diterapkan untuk membantu manusia mengatasi berbagai masalah.

"Karena metode yang kami gunakan untuk menciptakan AlphaGo bertujuan umum, kami berharap suatu hari nanti ia bisa diperluas untuk membantu ... para ilmuwan mengatasi masalah sosial yang paling berat dan mendesak, dari model iklim hingga analisis penanganan kesehatan dan penyakit," tuturnya.

Namun sehebat apapun AlphaGo saat ini, ahli robotik dan AI Jean-Christophe Baillie menyatakan bahwa ia masih jauh dari kecerdasan sesungguhnya.

Kecerdasan sesungguhnya, menurut Baillie seperti dikutip MIT Technology Review, membutuhkan tidak hanya kemampuan mempelajari sesuatu yang rumit, tapi juga wujud dan kemampuan untuk berkomunikasi.

Jadi, walaupun komputer sudah bisa melakukan tugas yang lebih kompleks --seperti bermain Go--, masih butuh waktu sebelum mereka bisa benar-benar menggantikan tugas manusia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR