Manusia dan monyet ''beda tipis''

Foto arsip 2014 ini menunjukkan aktivitas dua ekor kera yang sedang memecah batu di  Taman Nasional Serra da Capivara Brasil.
Foto arsip 2014 ini menunjukkan aktivitas dua ekor kera yang sedang memecah batu di Taman Nasional Serra da Capivara Brasil. | Michael Haslam /via AP Photo

Manusia adalah mahluk sempurna. Tapi soal keistimewaan, dibanding mahluk lain di dunia, belum tentu.

Itu sebabnya muncul ujaran, jika tak mau disebut sindiran, bahwa sekelompok monyet yang duduk di depan mesin tik bisa menghasilkan karya hebat sekelas pujangga Shakespeare.

Temuan baru yang dilansir pada 19 Oktober 2016 lalu seolah menggenapi sinyalemen bahwa monyet (Macacus synomolgus) punya kecerdasan. Peneliti Oxford University, Tomos Profitt, menemukan buktinya selama melakukan riset di Taman Nasional Serra da Capivara, Brasil.

Dalam laporan penelitian yang diterbitkan Nature, Profitt beserta tim (Lydia V. Luncz, Tiago Falotico, Eduardo B. Ottoni, Ignacio de la Torre, dan Michael Haslam) merekam aktivitas monyet caphucin (monyet berbulu coklat-kelabu pada sebagian tubuhnya) sedang memecahkan batu.

Kegiatan itu sebenarnya lazim dilakukan manusia purba. Gunanya untuk membuat peralatan kerja yang tajam. Misalnya serpihan batu atau pisau dari batu.

Kebetulan, Profitt adalah ahli paleontropologi-- ilmu yang mempelajari asal usul dan perkembangan manusia. Profitt juga aktif dalam kelompok riset arkeologi primata.

"Kemampuan monyet membuat pisau (batu) bisa berarti manusia tidak lagi unik," ujar para peneliti dalam laporan tertulisnya.

Bebatuan yang dipecahkan para monyet mirip menghasilkan ujung batu yang rata atau lancip. Pakar arkeologi menyebut batu ini "unifacial choppers".

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa simpanse (Pan troglodytus) tidak melakukan pemecahan batu. Tapi mereka membuka kulit kacang dengan batu.

Para peneliti berasumsi bahwa pekerjaan memecahkan batu adalah warisan kelompok hominis, nenek moyang monyet. Dalam kelompok itu, seperti ditulis Live Science, terdapat Lucy--sosok Australopithecus (nenek moyang manusia) yang hidup sekitar 3,2 juta tahun lalu.

Para peneliti tidak yakin apa maksud para monyet capuchin memecahkan batu. Tapi para monyet itu selalu menjilat ujung batu setelah memecahkannya.

Itu sebabnya para peneliti menduga para monyet capuchin sedang makan lumut atau guratan mineral dari bebatuan. Tapi perilaku terpisah menunjukkan monyet yang sama menggunakan batu untuk menghancurkan kacang--persis seperti perilaku simpanse.

Video soal itu bisa dilihat di sini.

 Contoh serpihan batu yang dipecahkan monyet capuchin di Brasil. Garis putih sepanjang 5 cm di tengah adalah alat bantu untuk menunjukkan besaran batu.
Contoh serpihan batu yang dipecahkan monyet capuchin di Brasil. Garis putih sepanjang 5 cm di tengah adalah alat bantu untuk menunjukkan besaran batu. | Tomos Proffitt, Angeliki Theodoropoulou /via AP Photo

Para peneliti kemudian mengumpulkan serpihan batu yang dihasilkan monyet capuchin dan menganalisanya. Alhasil, tak ada perbedaan dengan serpihan batu yang dihasilkan pada masa hominins.

Lebih lanjut, Profitt menulis dalam jurnalnya bahwa serpihan batu yang dihasilkan monyet capuchin berbeda dengan serpihan batu produksi manusia purba. Profitt mengatakan serpihan batu produksi manusia purba "lebih kompleks meski karakter dasarnya sama."

Tetapi penemuan ini membuktikan bahwa primata nonmanusia juga membuat peralatan (dari batu). Namun mereka menggunakannya sesekali.

Ahli biologi Chatam University, Erin Marie Williams-Hatala, mengatakan metode (menghancurkan batu) yang dilakukan monyet capuchin lebih primitif.

Metode itu lebih kuno dari kebiasaan manusia purba yang memecahkan batu untuk membuat serpihan sebagai alat aktivitas. Meski begitu, monyet juga punya cara berpikir yang biasanya ada pada manusia.

"Kami sering membuat batas mental dan kemampuan manipulasi manusia dengan hewan. Faktanya, batas itu makin kabur," ujar Williams-Hatala dikutip NPR.

Adapun John Shea, pakar antropologi dari Stony Brook University, mengingatkan bahwa manusia "bergantung" pada alat bantu (perkakas). Shea, peneliti perkakas batu, menyebutnya sebagai unsur penting manusia.

Sementara primata nonmanusia sebaliknya. Seperti ditunjukkan simpanse dan monyet capuchin, lanjut Shea, ketergantungan pada perkakas (batu) hanya sesekali--bahkan pada masa nenek moyang mereka sekalipun.

Profitt juga menegaskan bahwa temuan ini tidak harus dikaitkan dengan manusia purba (genus Homo). Temuan ini hanya bisa digunakan untuk memetakan jajaran hominis lebih lebar lagi.

Namun begitu, Proffitt mengingatkan bahwa tidak berarti segala penemuan perkakas batu--termasuk di Afrika Timur yang menjadi lokasi kemunculan nenek moyang manusia--bukan buatan hominis.

"Yang jelas penemuan ini menantang ide terdahulu soal level minimum kecerdasan kognitif dan jaringan syaraf kompleks yang dibutuhkan untuk membentuk perkakas (serpihan) batu," kata Profitt.

Haslam menambahkan bahwa perilaku monyet capuchin yang seolah menghasilkan perkakas batu justru bisa digunakan untuk keperluan penelitian evolusi perilaku. Dan bila itu akan dilakukan, para peneliti perlu menentukan kriteria perkakas batu hasil karya hominins.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR