REKAYASA GENETIKA

Membasmi malaria dengan nyamuk hermafrodit

Ilustrasi nyamuk Anopheles gambiae.
Ilustrasi nyamuk Anopheles gambiae. | 7th Son Studio /Shutterstock

Nyamuk rekayasa genetika bisa mengurangi ancaman terhadap kesehatan manusia. Tim ahli di Italia merekayasa nyamuk betina menjadi semacam hermafrodit agar tidak bisa menyebarkan penyakit malaria.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) malaria mengancam setengah dari populasi global. Pada 2017 saja, ada 219 juta kasus malaria yang menjangkiti 435 ribu korban.

Hanya nyamuk betina yang mulutnya cukup besar untuk menggigit manusia. Dengan cara inilah infeksi seperti malaria, Zika, dan demam berdarah ditularkan.

Karena itu, para peneliti ingin menggunakan mutasi genetik untuk menyematkan karakteristik nyamuk jantan pada nyamuk betina, termasuk mulut yang lebih kecil. Mereka menggunakan teknik pengubah DNA canggih yang disebut CRISPR.

Menurut NPR, mutasi juga akan menyebabkan kelainan pada organ reproduksi betina. Ini membuat mereka tidak dapat bereproduksi.

Modifikasi ini juga telah dirancang untuk diteruskan ke hampir semua keturunan nyamuk. Pada akhirnya ini bisa melenyapkan spesies.

Tim peneliti berhasil memodifikasi nyamuk dengan mutasi ini di sebuah laboratorium keamanan tinggi di Italia. “Ini benar-benar akan menjadi percobaan terobosan. Ini momen bersejarah," kata Ruth Mueller, ahli entomologi yang memimpin laboratorium.

Jika percobaan laboratorium berhasil, Mueller dan tim berharap pada akhirnya melepaskan beberapa nyamuk rekayasa genetika di beberapa bagian Afrika untuk memusnahkan populasi lokal Anopheles gambiae, spesies nyamuk yang menyebarkan malaria.

Tidak semua pihak menyambut temuan ini dengan tepuk tangan. Ada banyak juga yang melancarkan kritik.

Mereka yang tak setuju memperingatkan bahwa memperkenalkan nyamuk yang dimodifikasi bisa menyebabkan konsekuensi tidak terduga, seperti masalah penyerbukan.

"Kita tidak tahu di mana teknologi ini akan berakhir. Kita harus menghentikannya saat ini. Mereka mencoba menggunakan Afrika sebagai laboratorium besar untuk menguji teknologi berisiko," tukas Nnimmo Bassey, direktur Health of Mother Earth Foundation di Nigeria.

Tony Nolan, peneliti dari Liverpool School of Tropical Medicine yang membantu menciptakan serangga rekayasa genetika ini saat masih berada di Imperial College London mengatakan, kekhawatiran seperti yang diungkapkan Bassey adalah normal dengan teknologi apa pun.

"Tapi saya pikir Anda sebaiknya tidak membuang teknologi begitu saja tanpa melakukan yang terbaik guna memahami potensinya sebagai pengobatan transformatif. Jika berhasil, ini akan jadi transformatif," ujar Nolan.

Penelitian ini merupakan bagian dari proyek Target Malaria, yang sebagian besar didanai oleh yayasan Bill & Melinda Gates. Sebelum dikepalai Mueller di Italia, nyamuk rekayasa genetika ini mengawali hidupnya di London.

Eksperimen dilakukan di kandang. Setelah delapan generasi, tidak ada betina normal yang tersisa untuk memiliki keturunan, dan nyamuk penyebar malaria pun punah.

Kini eksperimen baru dimulai di Italia. Kali ini Mueller dan tim mengondisikan kandang layaknya habitat asli nyamuk di kawasan Afrika.

Dalam sebuah ruangan terdapat enam sangkar besar. Dinding sangkar kira-kira setinggi 274cm ditutup kawat nyamuk sangat halus agar nyamuk tak kabur.

Setiap sangkar berisi ratusan nyamuk yang tidak dimodifikasi. Komputer mengatur pencahayaan sangkar menyerupai matahari terbit dan tenggelam, serta perubahan cahaya alami lain sepanjang hari.

Setiap pekan Mueller dan tim mengumpulkan ribuan telur dari sangkar dan mengamati seberapa baik mutasi sterilisasi menyebar. Dalam enam bulan hingga setahun ke depan mereka berharap nyamuk rekayasa genetika ini siap dilepas-liarkan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR